Dario berdiri dari tempat tidur, mengenakan pakaiannya dengan tenang. Matanya menatap Viona yang masih berbaring, tubuhnya bersandar pada bantal. Dengan gerakan cepat, Dario meraih dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di meja kecil di sebelah tempat tidur.
“Ini bonusmu, seperti yang kujanjikan,” katanya dengan nada datar.
Viona menatap uang itu sejenak, lalu kembali menatap langit-langit kamar. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, sesuatu yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, dia tahu inilah yang dia inginkan—uang, kebebasan, cara pintas untuk meraih kekayaan. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Dario mengancingkan kemejanya, lalu berjalan mendekat ke tempat tidur, menunduk dan menatap wajah Viona. “Kau membuatku terkesan, Viona,” katanya dengan senyum tipis. “Tapi biasanya aku tidak akan memesan untuk kedua kalinya."
Viona tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong ke arah Dario, seolah sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan. Dia tahu apa artinya itu.
Setelah beberapa saat, Dario pun beranjak pergi. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan keheningan yang terasa begitu menyesakkan.
Viona meremas selimut dengan kedua tangannya, matanya mulai memanas. Perlahan-lahan, air mata mengalir di pipinya. Tubuhnya bergetar, dan tanpa bisa ditahan lagi, dia menangis. Bukan karena uang, bukan karena pria itu. Tapi karena harga dirinya yang terasa begitu hancur.
Dia teringat pada malam itu—malam saat dia diperkenalkan oleh Robert kepada keluarga Downey, kekasihnya. Ia dan keluarga Robert bertemu di sebuah restoran mewah, dan Viona datang dengan penuh harapan bisa mendapatkan restu. Dia mengenakan gaun terbaik yang bisa dia beli dengan tabungannya. Tapi yang dia dapatkan adalah hinaan.
“Dia ini siapa? Hanya wanita miskin! Terus kerjaan dia hanya menjadi pemandu karaoke. Yakin, pacar kamu masih perawan? Yakin dia tidak menjual tubuhnya pada lelaki hidung belang.” Ibunya Robert berbisik sinis, meski suaranya cukup keras untuk didengar oleh semua orang di Restoran itu.
Viona berdiri terdiam, wajahnya memerah karena malu. Dia merasa tak berdaya. Robert yang seharusnya membelanya, malah diam, membiarkan keluarganya menghina Viona tanpa henti.
“Dia tak selevel dengan kita,” suara salah satu bibi Downey terdengar dingin. “Kau harus lebih pintar dalam memilih pasangan, Robert!"
Saat itulah Viona merasa hancur. Malam itu menandai perubahan dalam dirinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjadi kaya, bahwa tidak ada lagi yang akan berani menghina dirinya hanya karena status sosial. Tapi meski begitu, rasa sakit di dalam dirinya tak bisa diabaikan. Demi uang, demi mengembalikan harga dirinya di depan keluarga Downey, ia harus terjun menjadi kupu-kupu malam.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Mami Rere masuk dengan langkah cepat, melihat Viona yang menangis cukup keras. “Eh, Viona? Kenapa menangis?” tanyanya dengan nada heran.
Viona cepat-cepat mengusap air matanya, mencoba menyembunyikan emosinya. “Tidak apa-apa, Mami,” jawabnya dengan suara serak.
Mami Rere mendekat, duduk di tepi tempat tidur, menatap Viona dengan penuh selidik. “Nyesel? Karena semalaman sama Tuan Dario? Kamu harus tahu ya, Vi, bukan Mami yang meminta kamu untuk mengambil pekerjaan seperti ini.”
Viona menggeleng lemah, lalu menarik napas panjang. “Aku tidak menyesal, Mami. Aku tahu apa yang kulakukan.” Viona mencoba tersenyum.
Mami Rere menatapnya tajam. “Lalu, kenapa menangis? Kalau bukan nyesel?”
Viona terdiam sesaat, mencoba mengatur pikirannya. “Aku juga bingung, Mami,” akhirnya dia menjawab, suaranya pelan tapi jujur. “Aku pikir dengan uang, aku bisa merasa happy. Tapi ternyata tidak semudah itu.”
Mami Rere menghela napas panjang, lalu menepuk pundak Viona dengan lembut. “Dengar, sayang. Uang memang bisa menyelesaikan banyak hal, tapi tidak semuanya. Hati kita? Itu urusan lain.”
Viona menunduk, menatap tangannya yang masih menggenggam erat selimut. “Aku sudah kehilangan harga diri, Mami. Semuanya karena mereka menghina aku. Aku pikir ini caranya agar aku bisa membalas.”
Mami Rere menatapnya lama, lalu berkata dengan suara lembut, “Dunia ini keras, Viona. Orang-orang kaya itu selalu merasa lebih tinggi dari kita. Tapi ingat, sayang, yang paling penting adalah bagaimana kamu melihat dirimu sendiri. Bukan apa yang mereka katakan.”
Viona menatap Mami Rere, air matanya kembali mengalir. Tapi kali ini, dia merasa sedikit lebih ringan. "Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa lebih dari apa yang mereka pikirkan," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.
Mami Rere tersenyum lembut, lalu mengusap rambut Viona. "Kamu bisa, sayang. Tapi jangan biarkan mereka menentukan siapa kamu."
"Iya, Mami."
Seminggu kemudian!
Dario Lucano, seorang pria yang dikenal sebagai presidir. Perusahaannya terkenal di dunia bisnis sebagai salah satu yang paling sukses. Namun, di balik kesuksesan itu, dia adalah pemimpin sebuah organisasi mafia besar yang beroperasi di bawah tanah. Bisnis gelap Dario mencakup perdagangan senjata ilegal, pencucian uang, dan pengaturan jalur distribusi narkoba di beberapa negara.
Dario duduk di ruang VIP sebuah klub mewah, menyesap whiskey dari gelas kristal di tangannya. Di depannya, seorang wanita malam yang dikenal sebagai yang paling berkelas di klub itu, dengan gaun hitam panjang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, mencoba menghiburnya. Namun, meski wanita itu cantik dan penuh pesona, Dario merasa ada sesuatu yang hilang.
Wanita itu menyusuri punggung Dario dengan lembut, tangannya menyentuh bahu pria itu dengan gerakan yang penuh gairah. “Kau kelihatan tegang, Tuan Lucano,” bisiknya di telinga Dario. “Mungkin aku bisa membuatmu lebih rileks.”
Dario menatap wanita itu sekilas, matanya dingin. Di kepalanya, bayangan Viona terus berputar. Wajah Viona, cara dia menatap, cara dia berbicara, bagaimana dia memegang kendali saat mereka berkencan. Ada sesuatu dari wanita itu yang membuatnya berbeda dari semua wanita yang pernah dia temui, termasuk yang sedang bersamanya malam ini.
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa,” jawab Dario datar, meletakkan gelasnya di meja.
Wanita itu mengerutkan alis, bingung dengan respon Dario. “Apa maksudmu? Aku di sini untuk melayani—”
Dario mengangkat tangannya, menghentikan kalimat wanita itu. “Stop. Aku tidak ingin.”
Wanita itu terdiam, terkejut dengan penolakan yang tiba-tiba. “Kau membayarku mahal, Tuan. Setidaknya biarkan aku—”
“Tidak,” potong Dario dengan nada tegas. “Kau bisa pergi.”
Wanita itu menatapnya dengan ragu, lalu berdiri dengan enggan. Dia tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, tapi dia tahu lebih baik tidak membantah seorang pria seperti Dario Lucano. Dengan langkah pelan, dia meninggalkan ruang VIP itu, membiarkan Dario sendirian.
Dario menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sofa, matanya menatap kosong ke depan. Biasanya, dia tidak pernah punya masalah menikmati wanita seperti itu—wanita malam kelas atas yang selalu siap memenuhi keinginannya. Namun, entah mengapa, malam ini rasanya hambar. Tidak ada gairah, tidak ada ketertarikan. Hanya rasa kosong yang semakin dalam.
Pikirannya kembali ke Viona. Wanita yang tidak hanya membuatnya terkesima dengan keberaniannya, tapi juga menyentuh sisi dirinya yang selama ini dia coba sembunyikan. Dia adalah mafia yang kejam, tidak mengenal belas kasih. Namun di hadapan Viona, dia merasa seperti pria biasa—takluk dan juga rentan.
Dario mengingat kembali momen saat dia menyentuh Viona, ketika dia melakukan sesuatu yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Rasanya aneh baginya, karena selama ini dia mengendalikan setiap aspek hubungannya dengan wanita. Tapi dengan Viona, dia merasa terbalik. Ada sesuatu yang membuatnya tergila-gila, yang membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.
“Kenapa aku tidak bisa melupakan dia?” gumam Dario pelan, suaranya tenggelam dalam keheningan ruangan.
Di dalam kepalanya, dia tahu jawabannya. Viona bukan sekadar wanita malam. Dia adalah seseorang yang mampu mematahkan kendali yang selama ini Dario pegang erat-erat. Dan itu membuat Dario ketagihan. Dia tidak bisa mengabaikannya.
Dario meraih teleponnya, berpikir untuk menghubungi salah satu anak buahnya. Mungkin dia bisa melacak Viona, mencari tahu lebih banyak tentang wanita itu. Tapi kemudian dia tersenyum sendiri, menyingkirkan ponsel itu dari tangannya. “Tidak,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. “Aku akan menemuinya lagi. Tapi kali ini, aku akan buat dia datang padaku.” Dario tersenyum menyeringai.