Bab 2: Harga yang Harus Dibayar

1107 Words
Viona menatap mata tajam Dario, hatinya penuh gejolak. Ia berdiri dari sofa dengan gugup, mencoba mengendalikan dirinya. "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa melakukan ini. Saya tidak akan menjual tubuh saya untuk uang." Dario mengangkat alis, terlihat terkejut tapi tidak marah. "Kau punya prinsip, aku suka itu," ujarnya, nadanya tenang. Ia mengambil gelas wine dan menyeruputnya perlahan. "Tapi, gadis manis, prinsip saja tidak akan membawamu keluar dari lubang yang kau gali sendiri." "Aku lebih baik tetap di lubang itu daripada kehilangan harga diriku," balas Viona, mencoba terdengar tegar meski tangannya bergetar. Ia membalikkan badan, langkahnya cepat menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Kepalan tangannya gemetar, pikirannya berputar penuh kegelisahan. Bayangan hinaan dari keluarga Robert menyeruak lagi. Suara Mommy Robert yang nyaring dan menusuk, "Kau pikir siapa dirimu? Gadis miskin!" bergema di pikirannya. Lalu suara ipar Robert yang lebih kejam, "Yakin pacarmu ini masih perawan?" Viona menggigit bibirnya, matanya memejam. Air mata yang hampir tumpah tertahan oleh luapan amarah. Hinaan itu, tatapan rendah mereka, seolah memutuskan bahwa dia tidak layak bermimpi. "Aku harus buktikan bahwa mereka salah," pikirnya. "Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa naik setinggi mereka." Ia berbalik, pandangannya terarah pada Dario yang masih duduk santai di sofa, seperti singa yang menikmati mangsanya mendekat lagi. Dario mengangkat alis melihat Viona kembali mendekat. "Oh, jadi kau berubah pikiran?" tanyanya dengan senyuman miring. Viona tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan hati yang berdegup kencang. Tanpa berkata-kata, ia langsung duduk di pangkuan Dario. Sentuhan itu membuatnya merasa sangat gugup, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Tangannya yang dingin menyentuh d**a Dario. Wajahnya mendekat, meski jantungnya seperti akan meledak. Dario diam saja, matanya penuh rasa penasaran. Saat bibir Viona menyentuh bibirnya, ciuman itu terasa ragu tapi berani. Dario membalas ciumannya, tapi kemudian menarik diri dengan senyum puas di wajahnya. "Jadi, kenapa kau berubah pikiran?" tanyanya pelan, memiringkan kepalanya. "Jangan banyak tanya, Tuan," jawab Viona dengan suara yang terdengar lebih percaya diri dari yang ia rasakan. "Nikmati saja." Dario tertawa pelan, suaranya rendah dan dalam. "Kau menarik, Viona. Sangat menarik. Kau ini seperti anak kucing yang mencoba menjadi harimau." Viona tidak membalas kata-kata itu. Ia kembali mendekat, mengecup bibir Dario lagi, kali ini dengan lebih berani. Dario menanggapi dengan lebih intens, tangannya mulai memeluk pinggang Viona, tapi gerakannya tetap terkendali. Ia tidak memaksa, hanya memberi ruang bagi Viona untuk menentukan langkah berikutnya. Viona mencoba melawan rasa canggungnya. Tubuhnya kaku, gerakannya kikuk, tapi ia memaksa dirinya untuk bertahan. "Apa ini cukup untuk membuktikan diri? Apa ini harga yang harus kubayar?" pikirnya dalam hati. Dario menghentikan ciuman itu tiba-tiba. Ia menatap wajah Viona dengan serius, melihat sorot matanya yang berusaha menyembunyikan kegugupan. "Kau tidak menikmati ini, Viona. Aku bisa melihatnya." "Apa itu penting?" Viona membalas, mencoba mengalihkan perhatian. "Bagiku, ya," jawab Dario dengan nada santai. "Aku tidak tertarik pada seseorang yang melakukan ini hanya karena terpaksa." Viona terdiam. Kata-kata Dario menyentuh bagian hatinya yang ia coba abaikan. Viona mencoba menarik napas, dadanya terasa sesak. Ia ingin berbohong, ingin memberi jawaban yang membuat Dario diam. Lalu, Viona menatap Dario dengan tatapan menggoda. Tanpa ragu, dia mendorong tubuh Dario hingga terbentang dan ia di atasnya, ia akan memulai memimpin permainan. Dario yang terbiasa memegang kendali dalam segala hal, termasuk wanita, terkejut dengan keberanian dan ketegasan Viona. "Kau cukup berani," gumam Dario dengan suara rendah, matanya menatap setiap gerakan Viona. Viona hanya tersenyum samar, tanpa menjawab. Dia tahu bahwa saat ini, dia harus membuat pria ini puas padanya. Dario bukan pria biasa, itu sudah jelas dari cara dia duduk, dari tatapan tajamnya yang menilai setiap inci tubuh Viona. Pasti pria super kaya. Tapi malam ini, Viona tidak akan menjadi gadis yang lemah. Dia sudah memutuskan untuk memainkan perannya, untuk memikat pria di hadapannya. Perlahan, Viona mendekatkan dirinya lebih intim. Sentuhannya ringan, tapi penuh makna. Dario tersentak kecil, seolah tak menyangka bahwa dia bisa kehilangan kendali secepat ini. Namun, seketika sorot matanya berubah. "Kau menarik," desis Dario, sambil menarik napas dalam. Viona tertawa kecil. "Hanya menarik?" godanya, mendekat lebih jauh hingga aroma parfumnya menguar di sekitar mereka. Dario tidak menjawab, tetapi dia membiarkan Viona mengambil alih. Perlahan-lahan, Viona melangkah lebih jauh dalam perannya. Meski perih, ia tahan. Dia tetap bergerak lincah. Namun, sesuatu terjadi yang tidak dia duga. Dario tiba-tiba menghentikan gerakannya, matanya terbelalak melihat sesuatu. Dia menatap noda merah di tempat tidur. "Kau... masih perawan?" suaranya terdengar rendah, tapi jelas ia terkejut, pertama kali ia mendapatkan perawan. Viona berhenti sejenak, lalu menatap Dario dengan ekspresi datar. "Jangan banyak tanya, Tuan. Nikmati saja," jawabnya dengan suara yang nyaris berbisik, meski miliknya perih, ia menahannya. Tangannya kembali menyentuh d**a Dario, berusaha mengalihkan perhatiannya. Dario menahan napas sejenak, tetapi jelas ia terkejut dan itu masih ada di matanya. "Kenapa kau melakukan ini kalau kau masih—" Viona mendekatkan jarinya ke bibir Dario, membungkamnya. "Tak ada gunanya mencari jawaban, Tuan. Ini hidupku, pilihanku. Dan malam ini, aku akan membuatmu merasakan sesuatu yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya." Dario mengerang, merasa tubuhnya memanas dengan cepat. "Viona..." desisnya, setengah memperingatkan. "Kau ingin tubuhku, bukan?" ucap Viona dengan suara lembut, tetapi tegas. "Dan aku akan memberikannya karena aku menginginkan uangmu!" Viona memimpin dengan gerakan penuh percaya diri, sementara Dario tampak semakin tak bisa mengontrol dirinya. Nafasnya semakin berat, dan matanya tak lepas dari sosok Viona yang tampak begitu memikat di bawah lampu remang kamar VVIP. "Jangan berhenti," gumam Dario di antara napasnya yang semakin berat. "Lanjutkan." Viona tersenyum tipis. Dia bisa merasakan bahwa dirinya berhasil. "Aku tahu kau menyukainya," katanya dengan lembut, namun menantang. Dario hanya bisa mengangguk samar, terlalu tenggelam dalam sensasi yang Viona ciptakan. Tapi di balik gairah itu, ada sesuatu yang bermain di kepalanya. Gadis ini bukan seperti wanita-wanita lain yang pernah dia temui. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkan Viona. Saat Viona melanjutkan permainannya, Dario mengerang lagi, kali ini lebih keras. "Sial, Viona, kau... " "Diam!" Viona memotongnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Dario. "Aku yang memegang kendali di sini. Kau hanya perlu menikmati." Dario mengerang lebih keras, merasakan kendalinya benar-benar hilang. Dia tak pernah merasakan ini sebelumnya—kehilangan kekuatan di hadapan seorang wanita. Biasanya, dialah yang mengatur permainan, tapi dengan Viona, segalanya berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya tak berdaya, tapi pada saat yang sama, justru itulah yang membuatnya semakin candu. Viona menyadari bahwa malam ini akan menjadi titik balik hidupnya. Dario Lucano, pria kaya raya ini kini ada di bawah kendalinya. Setiap gerakan Viona seolah menarik Dario semakin dalam ke dalam permainannya. Setelah beberapa saat, Dario menarik napas dalam-dalam, suaranya serak saat dia berkata, "Viona... kau sungguh liar, uh nikmat, Baby." Viona tersenyum, matanya bersinar penuh kemenangan. "Tuan Dario, nikmatilah ... ah. Tapi jangan khawatir, kita baru saja memulai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD