Self Injury

1213 Words
"Sakit hati masih bisa di obati, lalu bagaimana dengan sakit mental?" ** Silvia menatap nanar bingkai foto pernikahannya dan Elyas. Pernikahan yang tidak pernah terbersit dalam fikirannya. Dengan penuh amarah dia membanting bingkai itu hingga tidak terbentuk lagi. Bingkai yang tadi indah kini sudah berubah menjadi serpihan-serpihan kaca. Tanpa berfikir dua kali, Silvia langsung menyobek foto pernikahannya menjadi beberapa bagian. "Aaargh! Untuk apa? Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bertahan dalam pernikahan yang tidak aku inginkan! Untuk apa aku betah di jadikan boneka mereka? Aku benci hidup! Aku benci!" Semangatnya untuk hidup benar-benar semakin tipis, tanpa berfikir panjang Silvia langsung mengambil pisau buah yang ada di atas meja. Pisau yang menjadi saksi bisu, atas semua luka yang dia derita. Pisau yang menemaninya selama tujuh tahun, dan teman yang selalu menenangkan dirinya saat terpuruk seperti ini. Dia membawa pisau itu masuk ke dalam kamar mandi. Silvia meletakkan pisau itu di atas kloset yang tertutup. Helai demi helai pakaian yang melekat di tubuhnya di lepas, shower mulai di nyalakan, pisau yang tergeletak di ambil, lalu dengan teliti di goreskan ke arah paha kiri Silvia. Sebenarnya di sana sudah ada banyak luka dari pisau yang dia genggam, namun rasanya luka-luka itu tidak seberapa jika di bandingkan dengan luka yang tertanam di dalam hatinya. "Aku berjanji akan membuatmu bahagia, aku akan selalu mencintai mu Sil." "Ya, aku gila Sil. Gila karena kamu. Aku akan menyerahkan semuanya untuk kamu." "Kamu adalah penyebab anak orang mati! Apa ini yang aku ajarkan kepadamu!" "Mamah kecewa sama kamu Silvia!" "Untuk menebus itu aku akan menikahkan Silvia dengan salah satu putramu." "Siapa?" "Genrefinadi Elyas Pramuarya." "Dia sudah menikah!" "Jika kau ingin aman, itu jalannya." "Kau adalah wanita yang tidak tahu malu, karena sudah sudi menjadi istri kedua dari lelaki yang sudah beristri! Kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan dari sesuatu yang kau rebut!" "Anda sudah membuat istri saya pergi jauh dari saya, jangan pernah harap saya akan menganggap anda sebagai seorang istri. Dasar PE RAM PAS!" "Aarrrgggghhhhh!!" Teriaknya nyaring memenuhi kamar mandi, diiringi darah segar yang keluar dari pahanya mengalir bersama air shower. Tidak hanya darah, namun air matanya juga ikut melebur.. "Aku benci kalian! Aku benci hidup! Aku tidak terima akan takdir yang sudah di tetapkan untuk ku." Silvia mulai mematikan shower lalu mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi. Setelah selesai mengobati lukanya, dia mulai memakai gamis berwarna nafi. Hari ini dia ada jadwal pengajian taklim Muslimat yang sering dilakukan oleh warga di ujung bulan seperti ini. Setidaknya setelah dia mengikuti pengajian, hatinya sedikit merasa tenang. ** "Assalamualaikum semuanya." Sapa seorang ustadzah yang dipilih sebagai pengisi acara kali ini. "Wa'alaikumsalam." "Baiklah, minggu ini kita akan membahas tentang hukum melukai diri sendiri atau, bahasa gaulnya self injury. Di ceritakan dari Jabir bahwa Ath-Thufail bin 'Amr ad-Dausi pernah mendatangi Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam lalu berkata: "wahai Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, apakah anda mau berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat? Benteng itu milik suku Daus di zaman jahiliah." Namun Rasul tidak menerima tawaran itu karena kebaikan yang telah Allah siapkan bagi orang-orang Anshar. Ketika Rasul berhijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin 'Amr juga berhijrah, bersama dengan seorang laki-laki dari sukunya (Daus) kemudian mereka tidak suka tinggal di Madinah. Dia mengambil anak panah miliknya, lalu memotong sendi-sendi jarinya. Kedua tangannya mengalir darah lalu dia mati." "Ustadzah, saya ingin bertanya. Saat kita melukai diri sendiri apakah di akhirat nanti Allah akan memberikan atas apa yang sudah kita lukai?" Tanya seseorang yang di ketahui bernama Mina. Gadis dari kompleks sebelah, dia adalah anak broken home, kadang tanpa sengaja Silvia sering melihat Mina melakukan self injury, sama seperti yang dia lakukan di kamar mandi tadi. "Pertanyaan yang bagus Mina. Ath-Thufail bin 'Amr pernah bermimpi melihat kawannya ( yang memotong sendi-sendi jarinya ) dalam keadaan yang baik, namun dia menutup kedua tangannya. Maka Ath-Thufail bin 'Amr bertanya kepadanya: "Apa yang telah di lakukan oleh Rabbmu kepadamu?" Dia menjawab: "Dia telah mengampuniku dengan sebab hijrahku kepada Nabi-Nya shallallahu'alaihi wa sallam." Kemudian Ath-Thufail bertanya lagi: "Kenapa aku melihatmu menutupi kedua tanganmu?" Dia menjawab: "Ada yang mengatakan kepadaku. 'Kami tidak memperbaiki bagian ( tubuh) mu yang telah kamu rusakkan (sendiri)'". Dari penjelasan mimpi Ath-Thufail kita mengerti bahwa Allah itu maha pemaaf. Namun, Allah tidak akan mengembalikkan apa yang sudah kita rusak dari diri kita sendiri. " "Ustadzah, apakah Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah? Jika iya, apa jawaban Rasulullah atas cerita dari Ath-Thufail?" Kali ini Silvia yang memberanikan diri untuk bertanya. "Ya, Ath-Thufail menceritakan mimpinya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah berdoa: "Wahai Allah Azza wa Jalla, ampunilah juga kedua tangannya." Hadits Riwayat Muslim." "Bu Ustadzah, lalu apa azab bagi orang yang melukai dirinya sendiri?" Silvia melihat orang yang sudah memberikan pertanyaan itu. Sanum, dia adalah wanita yang selalu menjadi korban KDRT. Terakhir kali warga pernah menyelamatkan Sanum saat dia mencoba ingin bunuh diri karena sudah tidak sanggup dalam menghadapi bahtera rumah tangga. "Azab bagi orang yang melukai dirinya sendiri antara lain: satu, mereka di janjikan masuk neraka. "Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Qur'an surat An-Nisa' ayat tiga puluh. Dua, mendapatkan siksa yang setimpal. Dari Tsabit bin Dhahhak Ra, Rasulullah bersabda, "siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat." Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Tiga, dia diharamkan untuk masuk surga. Dari Jundub bin Abdullah berkata, Rasulullah pernah bersabda: "dahulu pada umatku sebelum kalian, ada seorang lelaki yang terluka. Dia tidak sabar, kemudian dia mengambil pisau dan memotong tangannya sendiri. Belum lagi darahnya kering, orang itu meninggal dunia. Kemudian Allah berfirman: 'hamba-Ku telah mendahului Aku dengan nyawanya, maka Aku haramkan baginya surga.' Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim." "Bu Ustadzah, lalu apa yang akan kita lakukan dalam menghadapi cobaan hidup?" Tanya seorang muslimat lain, bernama Siti. Dia bekerja sebagai ART rumah besar ujung kompleks. Dari ibu-ibu tukang gosib pembeli sayur suka bercerita bahwa, dia pernah menjadi korban asusila hingga hampir membuatnya gila. "Kita harus bersabar, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu:." Qur'an surat Al-Baqarah ayat empat puluh lima. Selain itu kita juga harus banyak-banyak berdoa Siti. Sesuai firman Allah, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'" Qur'an surat Al-Baqarah ayat dua ratus delapan puluh enam. Kita juga tidak boleh berputus asa, "Ibrahim berkata, tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat." Qur'an surat Al-Hijr ayat lima puluh enam. "Katakanlah, hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengampun." Qur'an surat Az-Zumar ayat lima puluh tiga. Kita serahkan semua kembali kepada Allah, wallahu alam bishawab." Silvia tersenyum, hatinya sudah menghangat dan, terasa tenang setelah mendengar tausiah. Selesai
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD