The Gramedia

1046 Words
"JANGAN GUNAKAN KEDUA TANGANMU, UNTUK MENUTUP MULUT ORANG-ORANG YANG MENGHINAMU. CUKUP GUNAKAN KEDUA YANGMU, UNTUK MENUTUP TELINGAMU". Hari mulai siang, matahari mulai menyingsing tinggi. Elyas membawa Reina ke salah satu cafe untuk makan siang, sekaligus menunaikan sholat Dzuhur di Masjid terdekat. "Abang, Abang tahukan kalau aku tidak suka dengan ikan salmon. Kenapa Abang memesankan makanan ini buatku?" Tanya Reina tak puas hati. "Ikan salmon itu baik untuk menyuburkan kandungan agar cepat hamil. Jadi kau harus banyak-banyak memakannya agar bisa cepat hamil." "Hei, Tuan Genrefinadi Elyas Pramuarya yang terhormat. Anda pikir istri anda ini akan bisa hamil hanya dengan memakan ikan salmon? Untuk bisa hamil, istrimu ini harus kau gauli." Ucap Reina. "Makanlah!" Perintah Elyas lalu memimpin doa untuk makan. 'Untuk melakukan itu, Abang akan memperlakukan dirimu dengan cara yang ma'ruf. "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". Surat An-Nisaa' ayat sembilan belas. Abang hanya menanti dirimu untuk siap melakukan itu, Rei. Abanb tidak ingin memaksamu.' Ucap Elyas dengan memakan makanannya. Tanpa Elyas dan Reina sadari, seorang wanita mengamati pergerakan mereka dengan tatapan tajam. ** Setelah menghabiskan waktu di alun-alun Surabaya. Reina meminta Elyas untuk mengantarnya ke Gramedia. Katanya ada novel terbaru yang sudah bisa di temui di Gramedia, makanya dia ingin ke sana. Dasar wanita, tidak bisa jauh-jauh dari novel, makanan, dan drakor. Saat akan masuk ke dalam Gramedia, mata Elyas tidak sengaja melihat beberapa mahasiswinya. "Kalian kenapa ada di sini? Bukankah kalian masih ada kelas?" Tanya Elyas dengan menatap mereka dingin. "Bapak sendiri kenapa tidak masuk Kampus?" Tanya Sofya reflek. Dengan cepat, gadis itu membungkam mulutnya, dengan tangannya sendiri. Bahkan teman-temannya sudah menepuk jidat mereka sendiri. 'Sofya, kenapa kau bodoh sekali? Pak Elyas adalah pemilik kampus!' Ucap Nada dalam hati. "Saya ada acara. Kalian sendiri kenapa ada di sini?" Tanya Elyas menatap mahasiswinya satu per satu. "Kita kuliah kok pak, ini kita baru aja selesai kelas dan kesini cuman mau beli beberapa buku yang menyangkut mata pelajaran geografi." Penjelasan dari Nada. "Oh begitu ya? Tapi saya baru tahu bahwa pelajaran geografi ada yang berjudul "Surga Ke-dua", sejak kapan ada bab itu dalam geografi kalian?" Tanya Elyas yang membuat mata para mahasiswi saling pandang. 'Bagaimana Pak Elyas tahu kalau ada buku itu dalam bawaan ku? Dia bukan cenayang, kan?' Tanya Sasa dalam hati dengan keringat dingin. "Paper bag yang di bawa Sasa." Jawab Elyas membuat para mahasiswi itu menatap sang empu nama yang ternyata paper bag miliknya terbuka sedikit. "Eh itu anu pak, cuman buat iseng-iseng doang. Tolong pak jangan hukum kita, janji deh ini yang terakhir, enggak lagi." Ucap Risa, saudari kembar Sasa dengan wajah memelas. "Ya sudah, kalian pergi, saya tidak akan melaporkan kalian ataupun menghukum kalian. Meskipun kampus itu milik saya, yang berhak menghakimi kalian bukanlah saya." "Ayo sayang kita cari buku yang kamu inginkan." Ucap Elyas sambil memeluk pinggang Reina lalu membawanya masuk ke Gramedia. Setelah Elyas dan Reina masuk ke dalam Gramedia. Sofya dan teman-temannya masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Gramedia. "Apa kalian dengar Pak Elyas memanggil gadis itu apa?" Tanya Sofya kepada teman-temannya,dia ingin memastikan apa yang dia dengar bukanlah kebetulan semata. "Pak Elyas memanggil gadis itu dengan panggilan sayang." Ucap Nada dengan mata bulatnya. "Jangan-jangan gadis tadi selingkuhannya Pak Elyas. Kita tahu kan bahwa selama ini Silvia adalah istri Pak Elyas. Tapi seperti yang kita lihat, selama di kampus Pak Elyas tidak pernah memanggil Silvia dengan panggilan sayang." Penuturan Nada. "Hus, jangan su'udzon dulu. Mungkin gadis tadi adiknya Pak Elyas. Dan bisa saja Pak Elyas memanggil Silvia " sayang", hanya di rumah saja." Jawab Risa dengan pemikiran positif. "Tapi seingatku Pak Elyas tidak memiliki adik perempuan." Ucap Sasa dengan mengetuk-ngetukan dagunya. "Iya ya, lalu yang tadi itu siapa?" Tanya Risa. "Bagaimana kalau kita memata-matai mereka? Kalau benar gadis tadi selingkuhan Pak Elyas. Kita harus memberi tahu Silvia". Usul Sofya. "Apa tidak apa-apa? Kalau kita melakukan hal itu, kita bisa berurusan dengan Keluarga Genrefinadi. Pak Elyas saja sudah setegas itu, apa lagi ayahnya". Ucap Nada dengan bergidik ngeri. "Lalu apa rencanamu? Jika gadis itu benar-benar selingkuhannya Pak Elyas, apa kau tidak merasa kasihan kepada Silvia? Bagaimanapun jiga, kita ini sama-sama wanita. Mengetahui suami kita selingkuh, itu sangat menyakitkan". Ucap Sofya. "Bagaimana kalau Silvia sudah mengetahuinya, tapi dia memilih untuk diam?" Kali ini Sasa yang berbicara. "Dia tidak boleh mengalah, ataupun berbaik hati membiarkan suaminya bermesra dengan gadis lain". Ucap Nada. "Tapi kalau gadis itu selingkuhannya Pak Elyas. Menurutku tidak masalah, dia jauh lebih cantik dari pada Silvia". Ucap Risa. "Cantik. Tapi sayang gak modal. Suami orang masih aja di incar". Sindir Sofya. ** Sedangkan di dalam Gramedia, hati Reina merasa tidak nyaman. Dia seakan memiliki firasat buruk, yang akan menimpanya. "Apa yang mengganggu pikiranmu, Reina?" Tanya Elyas dengan mengisap kepala Reina. "Aku merasa tidak nyaman. Aku takut mahasiswi Abang tadi berbicara buruk tentangku. Bagaimana jika mereka menuduh diriku sebagai orang ke tiga, dalam hubungan Abang dan Silvia?" Tanya Reina cemas. "Kamu tidak bisa menghentikan ocehan orang tentang dirimu, Reina. Tapi setidaknya, ke dua tangan Abang ini bisa menutup ke dua telingamu". Ucap Elyas dengan mengangkat ke dua tangannya, dengan menutup telinga Reina yang tertutup kerudung. "Bagaimana kalau hari pertama kuliahku, mereka langsung merundungku?" Tanya Reina. "Aku sendiri yang akan menghukum mereka". Jawab Elyas dengan menurunkan ke dua tangannya. "Tapi aku tidak ingin mendapatkan perlakuan khusus dari Abang. Perlakukan aku seperti mahasiswi lainnya". Pinta Reina. "Akan Abang usahakan. Jadi, novel yang mana yang ingin kami beli?" Tanya Elyas kembali ke topik utama. "Menurut Abang antara ke dua novel ini, mana yang lebih menarik?" Tanya Reina dengan memperlihatkan dua novel dia pegang. Elyas melihat judul ke dua novel itu. "Sejak kapan kamu suka membaca novel ber-genre Mafia?" Tanya Elyas dengan mengambil novel yang ada di tangan kanan Reina. "Tiga tahun lalu, saat aku ulang tahun. Dafa memberi hadiah tiga buah novel ber-genre Mafia, sejak saat itu aku menyukainya". Jawab Reina dengan mengingat adik lelakinya itu. 'Anak kecil itu akan membunuhku, jika dia tahu kalau kakaknya kembali ke pelukanku'. Gumam Elyas dalam hati. Selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD