Miranda menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia menepuk-nepuk pipi tirusnya berkali-kali. Mengingat kesalahpahamannya, ia jadi malu sendiri. Ia sudah menuduh Garril yang tidak-tidak. Mengata-ngatai pria itu jahat dan kejam. Garril jahat, Garril jahat, Garril jahat! Miranda menggeleng-gelengkan kepalanya. Kata-kata itu seolah sedang menerornya sekarang, mengusik benaknya yang tenang dan damai. Argh, Miranda semakin cepat menggeleng-gelengkan kepalanya, menepuk-nepuk pipinya yang memanas dan mulai merah itu dengan keras. Rasa malunya menanjak semakin tinggi. Astaga, ia harus bersikap seperti apa nanti di depan pria itu? Miranda merasa sudah tidak memiliki muka lagi di depan Garril. Apalagi nanti dia harus menemui ibu pria itu sebab insiden dirinya yang tertangkap basah oleh Karin,

