BAB TIGA

978 Words
"Gila ya itu laki, sejahat itu sama lo?! Nggak punya hati apa dia?!" seru Tias berapi-api, tak peduli jika ia tengah berada di restoran cepat saji yang populasi pengunjungnya lumayan banyak. Ia merasa emosi sendiri mendengar cerita kawannya itu. Miranda menggeleng lemah. "Nggak tahu," katanya pelan. "Dan lo masih cinta sama dia?!" "Gimana lagi?" "Lupain!" sahut Tias cepat. "Laki-laki kayak dia nggak pantas buat lo. Dia cuma bisa nyakitin lo doang." "Susah Tiis!" Miranda menghela napas panjang. Mencintai Garril selama bertahun-tahun dan sama sekali tak membalas menyerah dan ingin melepaskan perasaannya. Tapi kenyataannya sangat sulit. Akarnya sudah menancap terlalu dalam. "Makanya usaha." Miranda mendengkus kesal. Ia sudah berusaha melupakan Garril dulu, namun bukannya rasa itu lepas, malah menancap semakin dalam di sanubarinya. "Ah udah ah, jangan bahas dia. Lo masih capek," kata Miranda lalu menyeruput jus jeruknya. "Idih, yang bahas awal tadi siapa? Lo, kan?" "Gue cuma mau ngeringanin beban gue sendiri," bela Miranda tak mau disalahkan. "Ya kalau ngeringain mah jangan setengah-setengah. Lo harus lupain dia. Kalau lo pengen terus cinta sama dia, lo sama aja kayak keledai. Udah disakitin berkali-kali bukannya mundur malah makin maju. Kalau dia jatuhin hati lo, lonya nggak usah nangis-nangis. Karena itu adalah konsekuensi yang harus lo dapetin." Ucapan panjang lebar dari Tias itu harusnya mampu membuka pikiran Miranda. Tapi respon Miranda malah hanya menghela napas panjang berkali-kali dengan pandangan terfokus pada gelas jusnya dan pikiran yang mengelana ke mana-mana. "Nggak tahu gue, Is. Pusing banget nih kepala." "Ck! Ya udah. Yang penting gue sebagai temen udah perngah ngingetin lo buat lupain perasaan lo ya." Hanya anggukan kecil yang Miranda berikan pada Tias. Moodnya dari tempo hari sudah tidak baik, ditambah rentetan kalimat panjang dari Tias yang bukannya menenangkan hati perempuan itu, malah membuatnya ingin menangis sendiri. Ia baru tahu sebegitu miris hidupnya.  "Oh iya, lupa mau kasih tahu. Besok gue udah pindah tugas ke RS yang di Surabaya. Tenaga forensik di sana kurang, kan?" "Kok mendadak?" Miranda menatap Tias terkejut. Tias menyengir lebar, "Nggak mendadak sih. Om Ferdinand udah bilang ke gue dari bulan lalu, terus karena guenya emang sibuk ngeindetifikasi jenazah, ya lupa aja. Baru inget sekarang." "Ih, lo mau ninggalin gue ceritanya?" "Kesannya kayak gue ini pacar lo aja. Gue masih normal kali, Mir." Tias mendengkus sebal. "Tapi jujur ya, gue juga berat hati ninggalin lo. Kasihan sih lebih tepatnya. Entar kalau lo nangis-nangis kayak tadi gimana? Terus yang ngehibur lo siapa? Terus yang ngeledekin lo kalau Dokter Garril tambah jutek juga siapa?" "Ya udah mending lo pergi aja. Nggak usah balik sekalian." Tias hanya tertawa terbahak-bahak, meninggalkan cerita bahwa di hari itu Miranda yang dewasa merajuk padanya. ****** Miranda keluar dari ruang OK---operation khamer atau ruang operasi, dengan baju hijau, masker, dan sarung tangan karet yang melekat di tangannya. Operasi pengangkatan sel tumor yang baru ia lakukan berjalan dengan sangat sukses, meskipun ada beberapa kendala karena pasiennya mengalami pendarahan kecil tadi. Seperti yang sudah-sudah, beberapa orang langsung menghambur ke arahnya, keluarga pasien, dan pasti akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah familier di indranya. "Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Sel tumor sudah diangkat dan pasien sekarang sedang disiapkan untuk dipindah ke ruang perawatan intensif, untuk meninjau keadaan pasien. Kita tunggu perkembangan selanjutnya saja ya, Pak, Bu," Miranda menjawab dengan sabar, diiringi senyum tipis untuk menjaga rasa hormatnya, meski saat ini ia merasa benar-benar kelelahan. Dan seperti biasa lagi, jika operasi berjalan sukses, ribuan ucapan syukur terlontar dari mulut mereka. Miranda tersenyum. Merasa senang bisa memberi kebahagian pada orang-orang itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka, jika kesalahan kecil yang ia lakukan di saat operasi tadi berakhir tragis. Pasti luar biasa sedih. "Saya permisi dulu, Pak, Bu." Miranda meninggalkan mereka. Berjalan santai di koridor di rumah sakit. Sesekali menyapa perawat atau dokter yang berpapasan langsung dengannya. Selain karena kecantikannya, perempuan satu itu juga terkenal dengan keramahannya. Tepat di persimpangan koridor, tidak pernah sekali pun Miranda membayangkan akan bertemu dengan pria yang beberapa hari lalu menorehkan luka pada hatinya, bahkan sampai menabrak dadanya. "Aw!" Miranda memekik, mundur beberapa langkah sambil memegangi keningnya yang sakit. Ia mendongak hanya untuk mendapati wajah datar Garril. Untung Miranda sudah melupakan kejadian beberapa hari lalu, jadi sekarang dia tak perlu merasakan perasaan yang emosional lagi pada pria satu itu. "Mata itu dipakai buat jalan, bukan meleng nggak jelas," kata pria itu dengan kalimatnya yang selalu pedas. Miranda berhenti mengusap kening, tersenyum tipis, sebelum membuka suara untuk menyahuti ucapan lelaki itu. "Duh, perhatian banget sih sama aku? Takut aku terlukan gitu ya, Ril? Tenang, aku kalau jalan pakai kaki kok, kalau mata, aku pakai buat lihat jalan. Nggak perlu khawatir gitu lah, aku pasti baik-baik aja," kata Miranda dengan wajah polosnya, berniat menggoda Garril yang mungkin semakin bertambah emosi. "Saya nggak ngerti bahasa kamu." Di lain sisi Garril merasa muak pada sikap Miranda yang sok sekali menurutnya. Padahal tempi hari ia sudah menyakiti hati perempuan itu, seharusnya Miranda tidak baik-baik saja sekarang. Minimal dia marah dan tak ingin berdekat-dekatan dengannya, bukan seperti sekarang yang malah menggodanya dengan kalimat-kalimat basi. "Oh, jadi ceritanya kamu mau aku les-in bahasaku ya? Aduh, romantis banget sih. Aku mau kok, tenang aja. Nggak pasang tarif juga, gratis buat kamu mah." Miranda semakin gencar menggoda pria itu dengan membalas setiap ucapannya. Ia suka melihat raut pria itu yang selalu asam, lebih suka lagi kalau Garril mau menyunggingkan senyum untuknya. "Berhadap-hadapan sama kamu bikin kepala saya pusing." Garril mengheleng-gelengkan kepala, merasa heran dengan peringaian perempuan satu itu. "Makanya, jatuh cinta sama aku dong Ril, dijamin deh nggak bakal bikin kamu pusing sendiri." "Perempuan gila kamu!" Garril tak lagi berucap, pria itu menggeser posisinya yang tadi berhadap-hadapan dengan Miranda, lalu berjalan meninggalkan perempuan itu. Miranda tersenyum lebar. Merasakan hatinya berbunga-bunga walau selalu diketusi dan disinisi oleh pria seperti Garril. Bodoh dia memang, seharusnya sudah tahu disakiti itu pergi, bukan tetap bertahan dan lagi-lagi mendapat luka yang kian lama kian membesar. Tinggal menunggu ia hancur saja. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD