"Mir, kapan kamu nikah? Adik kamu udah nikah, masa kamu belum?"
Gerakan tangan Miranda yang hendak menyendok makanan sontak terhenti tatkala pertanyaan paling sensitif untuk wanita berusia di akhir dua puluhan dan sama sekali belum memiliki pendamping hidup itu terlontar dari mulut ayahnya.
Miranda menghela napas panjang, memutus pandangannya dari piring dengan makanan yang masih tersisa setengah itu hanya untuk melihat wajah pria yang sangat ia cintai. "Setiap perempuan pengen punya pasangannya masing-masing Yah, aku juga pengen nikah, tapi kalau pasangannya belum ada, aku bisa apa?"
Mendadak selera makannya menghilang. Ia paling benci topik seputar pernikahan itu, sebab ia akan membayangkan hubungannya dengan Garril yang sama sekali tak memiliki kejelasan, pun dengan perkembangan yang tak begitu berarti
.
"Kamu kan cantik, masa nggak ada yang suka sama kamu?" Ada beberapa kerutan yang muncul di kening beliau seiring pertanyaan itu terucap.
Miranda menghela napas panjang. Ia sudah sering membahas topik semacam ini dan tetap saja ia masih merasa tidak biasa-biasa saja, dan berakhir dengan kekesalan yang memuncak.
"Mungkin Miranda cuma ngerasa belum cocok aja, Yah. Jadi dia nggak mau nikah buru-buru. Lagipula duapuluh delapan tahun itu masih usia yang muda, masih bisa produktif kok." Ibunya yang sedari tadi tak berbicara pun akhirnya turut membuka suara, memberi titik tengah pada ayah dan anak itu.
"Memilih pasangan hidup itu sulit Yah, butuh waktu yang nggak sebentar. Ada banyak dilemanya, karena sejatinya perempuan kalau berpikir itu pakai hati dan logika. Bukan cuma salah satunya. Kaum kami ini harus tahu bagaimana pasangan masing-masing, bagaimana luar-dalamnya, supaya nggak menyesal di kemudian hari dan berakhir pada perceraian."
"Iya, Ayah ngerti. Tapi Ayah kan udah tua Bun, Ayah cuma pengen ngelihat anak perempuan Ayah punya suami, Ayah pengen jadi wali nikahnya. Nggak ada yang tahu umur manusia Bun."
"Ayah ngomong apa sih? Asal Ayah jaga kesehatan ya, Ayah bakal baik-baik aja, jangan ngaco!"
Miranda hanya menjadi pendengar di balik percakapan itu sambil memakan makan malamnya. Ia payah dalam hal membela diri, ayahnya terlalu keras kepala. Dan ia tidak bisa mengubah cara pandang atau keinginan beliau. Jadi diam adalah pilihan yang tepat untuk perempuan itu saat ini.
Tapi diam saja ternyata tak cukup untuk menghentikan topik seputar pernikahan yang tidak ada habisnya itu, ayah dan ibunya terus beradu argumen, mencoba memenangkan pendapat mereka masing-masing. Dan Miranda tahu, membiarkan mereka terus berada dalam kondisi seperti itu hanya akan memunculkan pertikaian
.
"Tenang Yah, aku lagi deket sama seseorang kok. Kalau jodoh, ya aku bakal nikah sama dia. Ayah nggak perlu sekhawatir itu." Kalimat itu yang ia pilih untuk mengakhiri makan malamnya, sebelum pamit dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Ada banyak hal yang ia pikirkan ketika tubuh letihnya sudah beradu dengan empuknya ranjang. Manik kelam yang khas itu terpusat pada satu titik di langit kamarnya yang polos. Raganya mungkin hanya berdiam diri di tempat, tapi pikirannya sudah mengelana ke mana-mana. Perihal pria yang ia cintai dan enggan mencintainya.
Dalam hati, ada sederet kalimat rutukan yang ia khususkan pada kisah cinta yang tragis. Sayang sekali, dari dulu ia tak pernah mendapat keberuntungan, dan semua yang menjadi keinginannya hanya berakhir sebagai angan-angan.
"Huh, mikir apa sih aku ini?"
Pada akhirnya Miranda memilih untuk tak berurusan dengan hatinya. Ia lelah setelah seharian penuh berkutat dengan pekerjaannya di rumah sakit yang akrab dengan darah dan pisau bedah. Miranda hanya tak ingin kembali lelah hanya karena kepatah-hatiannya itu.
Lagipula, ia hanya cukup berjuang dan kalau ia tak beruntung lagu, itu kesalahannya sendiri. Seperti yang Tias katakan, ia hanya harus tetap berjuang. Siapa tahu Tuhan kasihan padanya, dan mau memberi hadiah atas perjuangan tak seberapanya.
*****
Apa kegiatan seorang dokter bedah jika tidak ada jadwal operasi? Ada banyak kegiatan sebenarnya, visit pasien, evaluasi dan monitoring pasien, konsultasi, seminar di beberapa fakultas kedokteran di universitas-universitas tertentu, atau berleyeh-leyeh di gazebo rumah sakit, kafetaria, atau di ruangan masing-masing dan mengobrol dengan teman-teman sejawatnya.
Miranda sendiri jika ada waktu luang lebih memilih mengobrol dengan Tias yang meski berbau agak busuk sebab profesi gadis satu itu yang memang antimainstream, tidak seperti kebanyakan perempuan di luar sana. Tapi karena kali ini Tias sedang sibuk sendiri dengan pekerjaannya, Miranda lebih memilih mengunjungi Garril dan mengganggu pria itu, siapa tahu ada malaikat yang berbaik hati mau memohonkan harapannya kepada Tuhan.
Miranda bersenandung pelan, seiring dengan langkah riangnya. Ia mengehentikan langkah ketika tiba di depan pintu ruangan Garril, membenarkan kuciran rambutnya, mengusap puncak hidung yang ia yakini sedikit basaha akibat keringat, dan memastikan ia tidak bau mulut.
Setelah selesai, ia mulai menarik napas dalam-dalam. Menyiapkan hatinya agar tidak berdebar berlebihan ketika berada di dekat pria yang ia cintai itu.
Tangan kanannya sudah terangkat, hendak mengetukkan jari ke daun pintu, tapi pintu itu sudah terbuka lebih dulu dengan Garril yang menggapit ponsel di telinga kanan dan kedua tangan yang masing-masing memegang sneli dan tas alat kesehatan multifungsi. Garril tampak begitu sibuk sendiri sampai-sampai tak menyadari kehadirannya.
Miranda mundur untuk memberikan space pada pria itu dan mendengarkan apa topik yang sedang Garril dan orang seberang bicarakan. Memang jauh dari kata sopan, tapi Miranda kan posisinya tidak sengaja. Jadi untuk membenarkan diri, dia bilang tidak masalah.
"Ma, nggak usah bahas aku kapan nikah. Kayaknya itu nggak mungkin. Aku masih suka sama satu orang, dan perasaanku nggak akan berubah sekalipun dia udah jadi milik orang lain. Aku akan tetap cinta sama Kanaya."
Tapi keputusan Miranda untuk mendengarkan percakapan pria itu salah. Ia lupa dengan fakta bahwa selama ini yang mendiami hati Garril adalah Kanaya, adik kandungnya.
Dan Miranda bisa mendengar patahan keras di palung hatinya. Hari ini ia tak berharap ada tsunami besar yang mampu membuatnya kebanjiran air mata. Sama sekali tidak ada. Tapi kenyataan tetap berkata lain. Dia tetap saja menangis.
"Ma aku--" Ucapan Garril terhenti begitu melihat Miranda yang tengah berdiri dengan bahu bergetar menahan tangis. "--sebentar, aku tutup dulu Ma."
Garril menyimpan ponselnya ke dalam saku dan menatap Miranda dengan wajah kaku.
Miranda memaksakan seulas senyum tipis. "Aku masih kuat kok Ril, jadi maaf karena aku bakal tetep berjuang untuk dapetin hati kamu." Miranda mengakhiri ucapannya masih dengan seulas senyum yang dipaksakan.
Tak apa, setiap orang didesain untuk kuat dengan cara masing-masing. Dan karena itu ia menjadi sosok yang kuat sekarang. Masih ada banyak kesempatan untuknya berjuang. Semoga di salah satu kesempatan itu, ia bisa menggapai pengharapan terbesar yang hatinya impikan.
Sementara itu Garril hanya menatap datar Miranda, meski perempuan di depannya itu menangis kencang, hatinya sama sekali tak tergerak. Ia bahkan ingin marah saja rasanya, sebab kelancangan perempuan itu yang mendengarkan pembicaraannya.
"Seharusnya, kalau kamu tahu saya lagi ngomong sama orang lain, entah itu penting apa enggak, kamu minggir Mir. Nggak usah sok mendrama dengan bilang kamu bakal berjuang. Berjuang buat apa? Ini bukan perang. Saya juga nggak akan kasihan sama kamu, kalau itu yang kamu pengenin. Malah saya akan muak sama setiap tingkah kamu. Saya nggak akan minta maaf karena kata-kata saya yang melukai hati kamu atau bagaimana, sekali pun kamu anak pemilik rumah sakit ini."
Semua kalimat panjang kali lebar yang keluar dari mulut Garril terasa seperti sembilu di rungu dan hati Miranda. Rasanya sangat sakit, dan ... sesak. Perempuan itu bahkan tak mampu mendeskripsikan bagaimana perasaannya lebih jauh. Tapi dengan kebodohan yang tak berakhir, Miranda masih berpikir untuk memperjuangkan pria itu. Pria yang mungkin akan sulit ia gapai.
******