Bab 9: Pertempuran di Gurun

768 Words
Gurun yang luas dan terik semakin menunjukkan keganasan alamnya. Setiap langkah mereka terasa semakin berat, pasir yang panas seperti membakar telapak kaki mereka. Hanya angin gurun yang sesekali berhembus, memberi sedikit penghiburan. Namun, suasana yang seharusnya sunyi dan damai malah terasa penuh ancaman yang tak terlihat. Kael berjalan dengan hati-hati, mengikuti jejak Lysander yang berjalan di depan mereka, dengan Elira sedikit tertinggal di belakangnya. Mereka telah meninggalkan jejak kaki di gurun yang luas, tetapi Kael tahu bahwa jejak itu takkan bertahan lama. Gurun ini tak mengenal siapa pun. Pasir yang bergerak dengan cepat akan menutupi semuanya, dan mereka bisa tersesat dalam kegelapan tanpa ada yang tahu. "Malam akan segera datang," kata Lysander, menghentikan langkahnya sejenak. "Kita harus mencari tempat berlindung. Makhluk-makhluk ini akan lebih aktif saat malam tiba." Elira mengangguk, meskipun wajahnya terlihat sedikit lelah. "Kita harus berhati-hati. Aku merasa ada sesuatu yang mengawasi kita." Kael melihat sekeliling, perasaan aneh tiba-tiba menggelayuti dirinya. "Apa maksudmu, Elira?" "Ada sesuatu di udara," jawab Elira dengan serius. "Aku bisa merasakannya, meskipun tidak terlihat." Mereka segera mencari tempat berlindung dari angin yang mulai semakin kencang. Lysander memimpin mereka menuju sebuah tebing kecil yang cukup terlindungi dari pasir dan angin. Mereka duduk di sana, menyusun rencana untuk malam yang semakin gelap. Ketika malam mulai turun, Kael merasakan ketegangan yang semakin menekan. Cahaya Lumen dalam dirinya terasa lebih kuat, tetapi juga lebih berat. Seakan-akan, sesuatu di dalam dirinya mulai terhubung dengan energi yang tersembunyi di dalam gurun ini—sesuatu yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia rasakan. Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara angin yang aneh. Suara itu bukan berasal dari badai pasir, tetapi suara yang lebih seperti desisan, seperti bisikan yang mengerikan. Kael menatap Lysander dan Elira dengan raut wajah cemas. Lysander berdiri, memegang pedangnya dengan hati-hati. "Kita tidak sendirian," katanya dengan suara rendah, penuh peringatan. "Siapkan dirimu." Elira sudah siap dengan kekuatan sihirnya. Ia mengangkat tangannya, mempersiapkan mantra pelindung. "Siapa pun itu, kita tidak akan mudah dikalahkan." Namun, tak lama setelah kata-kata itu terucap, dari bayang-bayang gurun muncul makhluk-makhluk berbentuk kabut gelap yang bergerak cepat menuju mereka. Kael bisa merasakan kehadiran mereka, kekuatan gelap yang begitu kuat. Beberapa dari mereka bergerak seperti bayangan, hampir tak terlihat oleh mata manusia. "Makhluk dari Abyss!" teriak Elira, matanya terbuka lebar dengan kekhawatiran. "Kita harus bertahan!" Lysander segera melompat ke depan, pedangnya berkilauan di bawah cahaya bulan yang remang. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia memotong salah satu makhluk itu, namun secepat itu juga makhluk itu menghilang dalam kabut gelap, hanya meninggalkan jejak abu. "Jangan biarkan mereka mendekat!" teriak Lysander, memberi perintah. "Kita harus bertarung atau mereka akan membawa kita ke tempat yang jauh lebih buruk!" Kael merasa tubuhnya bergetar, tapi Lumen dalam dirinya mulai menyala lebih terang, seakan memanggilnya untuk bertindak. Dalam sekejap, ia merasakan kekuatan yang lebih besar mengalir dalam dirinya, seperti dorongan yang berasal dari dalam dirinya yang selama ini ia tak pernah sadari. Dengan kekuatan baru yang belum sepenuhnya ia pahami, Kael mengangkat tangannya, memfokuskan cahaya dari dalam tubuhnya. Dalam sekejap, sinar terang membelah kegelapan, menembus kabut gelap yang mengelilingi mereka. Makhluk-makhluk dari Abyss terhuyung mundur, seolah terkejut dengan kekuatan cahaya yang begitu kuat. "Apa yang kau lakukan, Kael?" teriak Elira, suaranya penuh keheranan. Kael menatap tangan yang bersinar terang. "Aku tidak tahu. Ini... ini adalah Lumen, bukan? Rasanya sangat kuat." Namun, meskipun cahaya itu berhasil memukul mundur sebagian besar makhluk, mereka tahu bahwa ini hanya awal dari ancaman yang lebih besar. Makhluk-makhluk itu kembali berkumpul, semakin banyak dan semakin kuat, seolah tidak takut dengan cahaya yang Kael keluarkan. "Apa yang terjadi?" Kael bertanya dengan cemas, merasakan kekuatan yang mulai memudar. Lysander kembali ke posisi mereka, pedangnya siap. "Itu hanya sebagian kecil dari kekuatan Abyss. Mereka tak akan mundur begitu saja." Elira tampak merenung sejenak, kemudian berkata dengan serius, "Kael, kita harus bergerak. Mereka hanya mencoba menghabiskan waktumu dan energi kita. Kita tidak bisa bertahan lama di sini." Kael menatap Elira, dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, ia merasa beban yang sangat berat. Namun, ia tahu satu hal—mereka harus terus maju. "Kalau begitu, kita harus pergi sekarang," kata Kael dengan tekad yang baru. Lysander mengangguk. "Kita harus menuju ke oasis terdekat. Itu satu-satunya tempat yang aman, setidaknya untuk sementara." Dengan cepat, mereka mulai bergerak lagi, mencoba untuk keluar dari kepungan makhluk-makhluk itu. Namun, semakin mereka berlari, semakin banyak makhluk yang muncul dari bayang-bayang gurun. Mereka harus terus melawan dan menjaga cahaya mereka tetap menyala. Kael merasa dirinya semakin terhubung dengan Lumen, dan meskipun tubuhnya lelah, semangatnya tetap tak tergoyahkan. Dalam dirinya, ada sebuah tekad yang tumbuh—untuk melindungi dunia ini, tidak peduli seberapa besar ancaman yang menghadang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD