Bab 10: Oase Cahaya

850 Words
Malam semakin gelap, dan suhu gurun semakin mencekik. Setiap langkah terasa semakin berat, dan Kael bisa merasakan keringat dingin mengalir di dahinya. Angin gurun yang sebelumnya sepoi-sepoi kini berubah menjadi angin kencang, membawa pasir-pasir tajam yang seperti jarum kecil menancap di kulit mereka. Lysander, yang memimpin di depan, sesekali menoleh, memastikan mereka masih berada di jalur yang benar. Meskipun tak menunjukkan kegelisahan, Kael bisa melihat ketegangan di wajahnya. Sesekali, pemuda itu mengibaskan pedangnya untuk membersihkan pasir yang hampir menutup jalan mereka. "Di depan sana," kata Lysander akhirnya, suaranya terdengar lebih tenang, namun masih ada sedikit ketegangan. "Ada sebuah oasis kecil. Kita akan beristirahat di sana." Elira, yang sejauh ini berjalan dengan langkah yang terukur, menghela napas lega mendengar kata-kata Lysander. "Akhirnya. Kita butuh tempat untuk bersembunyi sejenak. Kekuatan magisku hampir habis." Mereka mempercepat langkah mereka, dan semakin dekat dengan oasis yang Lysander tunjukkan. Ketika mereka akhirnya sampai, Kael terkejut melihat betapa indahnya tempat itu. Oasis itu bukan sekadar sumber air, tetapi juga sebuah tempat yang dipenuhi dengan cahaya lembut yang bersinar dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Tanaman itu berkilauan dalam cahaya bulan, dan air di tengahnya berkilau seperti permata. Suasana di sini terasa sangat berbeda dari gurun yang mereka lewati—tenang, penuh kedamaian, dan anehnya, terasa penuh dengan kehidupan. Kael meminum air dari oasis itu dengan cepat, merasakan kelegaan yang luar biasa. Setiap tetes terasa seperti memberikan energi baru bagi tubuhnya yang kelelahan. Elira juga segera mengambil kesempatan yang sama, memanfaatkan kekuatan air yang menyegarkan. Namun, Lysander tidak langsung ikut minum. Ia berdiri tegak, matanya mengamati sekitar dengan hati-hati, seolah sesuatu yang tak kasat mata mengganggunya. Kael menatapnya dengan bingung. "Ada yang salah?" tanya Kael, sedikit khawatir. Lysander akhirnya menoleh, wajahnya sedikit serius. "Tempat ini terlalu tenang," katanya dengan suara dalam. "Terlalu banyak cahaya, dan ini bisa jadi jebakan. Kita tidak sendirian di sini." Kael dan Elira saling pandang. Mereka mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Tentu, oasis ini sangat indah dan menyenangkan, tetapi ketenangannya terasa terlalu sempurna, seperti ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. "Apa yang kau maksud?" tanya Elira, dengan suara yang sedikit gentar. "Ini adalah tempat yang seharusnya aman, kan?" Lysander menggelengkan kepala. "Ini bukan tempat yang aman untuk kita. Jika kita tidak berhati-hati, cahaya di sekitar kita bisa menjadi perangkap." Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemerisik di belakang mereka. Kael segera menoleh, pedangnya sudah tergenggam erat di tangan. Dari bayang-bayang di sekitar oasis, muncul sosok-sosok yang tertutup dalam cahaya gelap. Mereka bergerak perlahan, mendekati kelompok mereka dengan langkah yang tidak terburu-buru, tetapi penuh ancaman. Kael merasakan suhu udara menjadi semakin dingin, meskipun mereka berada di tengah gurun yang terik. Cahaya dari oasis mulai meredup, dan angin sejuk yang bertiup tiba-tiba berubah menjadi angin kencang yang membawa bisikan-bisikan tak teridentifikasi. "s**l," gumam Lysander. "Makhluk-makhluk ini... mereka berasal dari kegelapan. Mereka akan mencoba untuk menjerat kita." Elira segera mengangkat tangannya, dan bola cahaya berpendar di sekeliling mereka, menciptakan perlindungan sementara. "Kita harus melawan, atau kita akan terperangkap di sini." Kael tidak perlu diberi perintah dua kali. Cahaya dari Lumen di dalam dirinya semakin kuat, dan ia tahu kini adalah waktunya untuk menggunakannya dengan penuh. Dengan cepat, Kael mengumpulkan kekuatannya, memfokuskan energi dari dalam dirinya. Dalam sekejap, cahaya itu memancar keluar dari tubuhnya, menyinari sekitar mereka dengan cahaya yang menyilaukan. Namun, meskipun cahaya itu memukul mundur beberapa makhluk, mereka tidak mundur begitu saja. Beberapa makhluk melompat ke arah Kael dengan kecepatan luar biasa, seperti bayangan yang terdistorsi. Lysander bergerak cepat, pedangnya berkilauan, memotong salah satu makhluk dengan sekali tebasan. Tetapi makhluk itu hanya terpecah menjadi serpihan cahaya gelap yang segera menyatu kembali. "Ayo!" teriak Lysander. "Kita harus keluar dari sini sekarang juga!" Kael merasa hatinya berdebar keras. Ia bisa merasakan bahwa kekuatan Lumen di dalam dirinya sangat besar, tapi makhluk-makhluk ini tampaknya tak mudah dihentikan. Setiap kali mereka berhasil menghancurkan satu, dua makhluk lagi muncul, semakin banyak dan semakin kuat. Kael tidak tahu berapa lama mereka bisa bertahan. Tiba-tiba, Kael merasakan sebuah kekuatan yang lebih besar dari dalam dirinya, sesuatu yang lebih dalam dan lebih kuat daripada yang pernah ia rasakan. Cahaya Lumen dalam dirinya seakan mengalir lebih bebas, memancar lebih terang. Ia tahu, ini adalah saat di mana ia harus mengorbankan dirinya untuk dunia. "Elira, Lysander!" teriak Kael, suaranya penuh dengan kekuatan yang membara. "Jangan biarkan mereka mendekat. Aku akan menahan mereka!" Elira dan Lysander menatap Kael dengan terkejut. "Kael, jangan!" seru Elira, tetapi Kael sudah mengangkat tangan. Cahaya yang keluar dari tubuhnya semakin kuat, menembus kegelapan, melawan makhluk-makhluk itu yang semakin mendekat. Dalam sekejap, Kael merasa dirinya mengalirkan seluruh energi Lumen ke dalam serangan terakhir ini. Sinar terang membelah langit gurun, menciptakan ledakan cahaya yang luar biasa. Makhluk-makhluk itu terlempar jauh, dan Kael merasakan kekuatannya semakin menipis. Namun, sebelum ia terjatuh, Elira dan Lysander sudah ada di sampingnya, menahan tubuhnya. "Kael!" teriak Elira, cemas. "Aku... baik-baik saja," jawab Kael dengan lemah, meskipun ia tahu dirinya hampir kehabisan tenaga. Namun, cahaya oasis itu kembali bersinar dengan terang, dan makhluk-makhluk itu akhirnya mundur, menghilang ke dalam kegelapan. Mereka berhasil bertahan—untuk saat ini. Lysander menarik napas dalam-dalam. "Kita harus pergi dari sini. Tempat ini tidak aman lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD