"Kamu cemburu?" Satya tersenyum bahagia, jemarinya mengusap pipi Laras yang basah oleh air mata. "Dasar menyebalkan!" Laras melengos, menyembunyikan ekspresinya yang salah tingkah. Laras sengaja menghindari pertanyaan Satya, ia malu kalau ketahuan cemburu. Satya menangkup kedua pipi Laras. Kemudian ia mengucapkan kalimat dengan begitu lembut. "Aku sangat tidak suka melihatmu menangis. Aku lebih suka senyumanmu. Tetapi aku sangat suka melihatmu menangis karena cemburu kepadaku seperti ini." "Apa? Tidak! Aku tidak mungkin cemburu," elak Laras. Suara gadis itu terdengar bimbang dan ragu. "Ck, mungkin Kamu terus saja mengingkarinya. Seperti saat Kamu mengingkari cintamu untukku. Tapi aku tahu, Kamu cemburu saat aku dekat dengan Santi. Aku bisa melihat di matamu tersirat banyak cinta unt

