Chapter 31

1064 Words
"Aku juga tidak." Kami merenungi sedikit rasa penyesalan kami karena pulang dengan keadaan begini. Bahkan sebelum hasil kami diumumkan secara resmi. "Aku akan merindukan tempat ini, semoga kita bisa kembali ke sana dan kembali bersaing dengan sehat." "Sepergimu kemarin, aku bertemu Kapten Jack di tempat yang sama," kataku mengawali. "Lalu?" Aku memberi tahunya bahwa dari bidang genetika, yang lolos adalah, anak-anak botanica. Anak-anak yang menggunakan tanaman sebagai bahan penelitiannya. "Ah rupanya begitu, baiklah." Jawaban datarnya tidak menunjukkan kecewanya yang mendalam. Kami selanjutnya hany saling menyemangati agar jika mungkin kami tidak lolos babak abstrak, kami tidak perlu bersedih hati. Kami hanya perlu berusaha lebih baik agar memenangkan Moon Champions berikutnya, entah itu kapan lagi. Kami berbincang ringan, bertanya asal daerah kami, sekolah kami, karya ilmiah kami yang mengantar kami ada di Moon Champions saat ini. Sampai aku kemudian melihat deretan mawar biru dari kejauhan. Aku menekan tombol meminta berhenti pada bus. Bus pun berhenti, aku mengangguk dan berpamitan pada Hagi sebelum akhirnya turun. Kupandangi mawar ungu yang sedikit kurus dari beberapa hari yang lalu. Tampak daun-daun yang berlubang dimakan ulat dan juga mahkota bunga yang mengering karena diacuhkan. Perjalanan selama 3 jam, membuatku sampai di rumah saat makan malam telah selesai. Pasti akan sulit membuat ibu membuka pintu. Rumah di belakang di deretan pagar bunga itu pintunya rapat tertutup. Suara kicauan burung lamat-lamat terdengar di telingaku. Aku melangkah, menaiki satu demi satu anak tangga dan mengetuk pintunya. Seperti inikah rasanya gamang ketika pulang. Aku mendengar langkah yang mendekati pintu dari dalam. Langkah tergesa itu membuat pintu lebih cepat terbuka dari yang kukira. Lebih tidak terduga lagi ketika tangan itu langsung memelukku begitu pintu terbuka. "Kamu baik-baik saja?" tanya ibu padaku. Apron di badannya lusuh. Begitu juga dengan wajahnya. Arah noda itu menunjukkan usapan tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir. Untuk apa? "Seperti yang terlihat," kataku. Di ruang tengah, Ayah dan adik-adikku sedang melihat televisi. Menyaksikan berita tentang pecahnya sample virus di laboratorium Moons Camp. Tas yang kusandang langsung terjatuh begitu tahu itu virus yang mematikan. Dapat mematikan dalam 24 jam siapapun yang terinfeksi. Di mataku membayang Kapten Jack yang berlari bersama petugas lain membuka laboratorium itu untuk melihat keadaan, menyelematkan semua anak-anak yang ada di dalam gedung. Lalu dia sendiri... selamatkah? Tayangan itu dari tadi tidak menampilkannya sama sekali. Narasumber hanyalah seorang petugas keamanan yang telah berpakaian APD lengkap. Memberitakan bahwa gedung telah dikosongkan. Anak-anak secepat mungkin dipulangkan. Gedung dalam radius 2 km tidak boleh dijamah oleh siapapun terkecuali tenaga kesehatan yang bertugas mensetrilkan wilayah. Berita beralih pada pemberitaan sejarah pandemi terbesar di tahun 2019. Sekitar 900an tahun lalu. Saat itu diduga konspirasi bisnis telah membuat pandemi covid berlangsung hampir satu dekade. Banyak pakar berpendapat pandemi itu akan terulang kembali. Anak-anak yang pulang diharuskan tetap dirumah selama 3 hari. Jika terdapat gejala demam dan kejang segera bawa ke rumah sakit untuk isolasi. Ibu menyuruhku mandi. Membersihkan diri. Begitu juga dia segera mengganti apron dan membuang yang tadi dipakainya untuk memelukku. Adegan paling kubenci adalah ketika adik-adikku menoleh aneh padaku. Lalu mereka berlari ke kamar mereka. Aku dengan tak peduli masuk juga ke kamar. bersiap mandi seperti keinginan ibu. Rasanya segar sekali merasakan mandi di kamar mandiku sendiri. Tanpa rasa tergesa tanpa khawatir seseorang tiba-tiba mengintip. Aku merendam tubuhku sampai terdengar dering tab dari dalam ranselku. Dalam keadaan setengah basah aku mengangkat panggilan Suvara. "Kamu sudah sampai rumah? Sudah tahu yang terjadi pada Moons Camp?" pertanyaannya bersambung banyak kata tanpa koma. "Sudah Suv, itu sample yang pecah saat kita di dekat lab kan?" tanyaku balik. "Iya, aku khawatir." "Kapten Jack atau dirimu sendiri?" tanyaku. "Semuanya." Aku memahami perasaan Suvara. Karena akupun begitu. Hatiku menjadi tidak nyaman setelah mengerti kejadian ini. Nada sela menghentikan percakapanku dengan Suvara. "Kamu baik-baik saja?" tanya Illeus dari jauh sana. "Iya aku baik," jawabku. "Syukurlah, bagaimana itu bisa terjadi?" "Aku tidak tahu tepatnya." Aku lalu menceritakan yang terjadi padaku dan juga Suvara tadi malam. Ketika awal kami mendengar labu berisi virus itu pecah. Virus mutasi itu kini mungkin mulai beterbangan di udara. Seluruh warga Mirai dilarang bepergian sampai virus dinyatakan aman dan terkendali. "Dunia harusnya sudah tidak kaget kan?" tanyaku. "Memang seharusnya tidak, tetapi yng terjadi dulu adalah sesuatu yang terencana, kali ini tidak. Dengan kecepatan membunuh secepat itu, siapapun berhak berhati-hati." "Menurutmu aku juga?" "Sangat, kamu adalah orang pertama yang kuanggap tahu selain petugas lab saat itu." "Aku akan merindukan rasanya tidur di tempat itu," ucapku. "Semuanya akan segera membaik, dan kamu akan kembali ke sana." Penghiburan yang diberikan Illeus melupakan kegaduhan yang ku alami di lantai kamarku tadi. "Sya," ketukan dan suara ibu terdengar di pintu kamarku. Aku menutup panggilan Illues untuk keluar membukakan pintu. "Makanan untukmu sudah siap, kamu mau makan sekarang?" tanya ibu. "Iya bu." Tawaran itu hampir bersamaan dengan bunyi perut yang ingat bahwa aku belum makan malam saat diusir dari Moons Camp. Semangkuk sup udang dengan tofu disajikan dengan tim gandum dalam mangkuk yang berbeda. Aku mengambil piring dan mencicipi masakan ibu. Bukan masakan yang sangat enak. Tapi juga bukan makanan yang pantas diabaikan. Apalagi saat perutku hampir berteriak memintaku segera melahapnya. "Kamu sudah mendengar sendiri kan, berita di televisi tadi? Kamu harus melakukan isolasi. Tentang semua yang harusnya kamu lakukan, ibu menganggapmu lebih pandai, lebih mengerti daripada ibu. Jadi, mulai besok, baik-baik di kamar, makan dan seluruh keperluanmu akan ibu siapkan." "Ibu sudah memelukku, lakukan hal yang sama " Aku membuat kalimat yang begitu ambigu. Entah karena rasa khawatir atau karena aku tidak ingin terkurung sendiri. Ibu menghela napas panjang. Aku tahu dia menyadari logikaku benar. Tapi dia terganjal kewajibannya sebagai seorang ibu yang harus merawat kedua adik kembarku. Juga seorang istri yang harus melayani ayahku. Aku makan dalam diam sampai ibu meninggalkanku. Aku juga masih diam saat membersihkan sendiri piring makanku. Memisahkannya dari alat makan yang lain. Kemudian aku masuk ke dalam kamar. "Suv?" "Iya Sya?" "Kamu melakukan isolasi?" "Tentu saja." Dengan jelas dia menceritakan sambutan ibunya yang khawatir. Lalu sekeluarganya menyatakan akan mengisolasi diri selama 3 hari. Rumah mereka terkunci. Seluruh pesan dan barang untuk mereka telah mereka siapkan box di dekat pintu rumah yang mudah mereka jangkau. Tidak kalah jelas, aku juga menceritakan perintah ibuku untukku agar "mengurung diri" di kamar. Agar tidak mendekati adik-adikku. Suvara dengan segera tahu apa yang kualami. Dia memintaku bersabar. Toh tidak lama lagi aku akan kembali ke asrama dan bermukim di sana untuk waktu yang lama. Kami saling bercerita sampai tidak sengaja masing-masing kami tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD