Chapter 1
Aku berdiri mematung memandangi bangunan 5 lantai yang akan jadi tempat tinggalku sampai beberapa minggu ke depan. Bersamaku, anak-anak lain yang berdatangan dengan orangtuanya tak sedikit yang tercengang. Ya, sebagian besar kami adalah anak-anak desa yang termangu dengan kemegahan di hadapan mata kami. Otak kami mensketsakan ilustrasi seperti apa dalamnya bangunan itu.
“Kisya, ayo masuk Nak,” begitu Bu Mira menegurku dengan menepuk pundakku.
Aku mengekor padanya. Ingin rasanya digandeng oleh ibu atau ayah atau siapapun orang-orangtua itu. Tapi aku menginsyafi diri. Terpilih untuk bisa tinggal di tempat ini adalah keistimewaan. Jadi kubesarkan hatiku, tak masalah meskipun aku hanya diantar oleh guru pembimbingku.
Ruangan lobinya besar, berlantai marmer yang bahkan tak terlihat sambungannya. Aku menengadah menatap langit-langit sampai hampir menabrak anak lain yang berkelakuan sama denganku. Kami saling melempar senyum akhirnya. Bu Mira berjalan di depanku dan tampak menyalami ibu-ibu lain dan sesekali menunjukku yang ada di belakangnya. Begitu dia berjalan lagi, aku pun kembali membuntutinya. Kami pun sampai di meja panjang melengkung dengan beberapa kakak-kakak berpenampilan rapi berdiri tegap di belakangnya.
“Saya mengantar murid saya yang terpilih sebagai peserta dari Distrik Mirai,” begitu dia sembari mengangsurkan selembar surat.
Kakak itu tersenyum melihatku, lalu melipat kembali surat yang telah dibacanya.
“Silahkan diisi Ibu, nanti serahkan ke bagian registrasi kegiatan di depan list sebelah sana.”
Bu Mira lalu tampak mengisi formulir dari kakak cantik itu. Tak lama Bu Mira berjalan ke arah yang ditunjuk kakak cantik itu. Aku terus mengikutinya. Bagiku, aku merasa begitu kecil dan bisa tersesat di tempat ini. Di depan lift, sebuah meja dengan seorang penjaga sedang melayani beberapa orang dengan tujuan yang sama denganku. Saat kami di hadapannya, beliau tersenyum menyambut. Diterimanya formulir berisi data diriku, lalu dia memintaku duduk di depannya.
“Kisya Ratriana?”
“Ya Pak,” jawabku.
“Kelas sains olimpiade?”
“Ya,” jawabku lagi.
“Boleh saya lihat surat pengantarnya?” tanyanya pada Bu Mira
Bu Mira menyerahkan apa yang dimintanya dan kami tetap menunggu bapak itu menekuni layar computer.
“Silahkan ke lantai 3 kamar 378.”
“Baik, terimakasih.”
Bu Mira lagi-lagi berjalan tanpa menoleh padaku lebih dulu. Aku mengikutinya masuk ke ruangan kotak kecil dengan lapisan logam untuk separuh dindingnya. Kami tak sendiri beberapa anak dan orangtua juga masuk ke ruang itu. Sempat berguncang sebentar, ruang itu terasa bergerak ke atas. Berhenti. Dan pintu pun terbuka. Aku melangkah, namun Bu Mira menahan tanganku.
“Belum Sya,” lalu sampai pintu itu terbuka, Bu Mira menggandeng tanganku.
Kami berjalan di lorong panjang dengan banyak pintu dan terlihat beberapa orangtua memeluk anaknya, membelai rambut anaknya, mengusap air mata anaknya atau justru tersenyum dan berhighfive dengan gembira. Aku menabrak tubuh Bu Mira saat tiba-tiba guru sainsku itu berhenti.
“Nah ini kamarmu, ayo kita masuk.”
Pintu kamar itu tidak sepenuhnya tertutup. Ternyata di dalamnya seorang anak sedang mengeluarkan baju dari kopernya dan memindah ke lemari di sudut kamar. Begitu melihatku anak itu tersenyum.
“Kamu teman kamarku?” tanyanya.
“Sepertinya begitu,” jawabku.
“Aku Suvara,” dia mengulurkan tangannya.
Kusambut uluran tangannya dan kami pun berjabat.
“Kisya Ratriana.”
Seolah menjadi peristiwa yang teramat baik, Bu Mira memilih berpamitan denganku dan pergi. Pesannya hanya satu, hati-hati dan bertemanlah dengan baik. Aku mengangguk sebagai tanda bahwa aku paham dan akan menuruti kemauannya.
“Ayo kemasi barangmu dulu,” Suvara kembali menata pakaiannya di lemari. Akupun mengikutinya. Beberapa baju yang kubawa dalam ransel berpindah ke lemari yang saling berdampingan. Suvara lalu mengeluarkan buku-bukunya dan menatanya di meja belajar. Aku hanya berdiam menatap. Setiap gerak gerik Suvara terlihat begitu memahami tempat ini.
“Baru pertama kali ke sini?” tanyanya.
“Iya,” jawabku.
“Tak perlu takut, di sini semua orang baik, semua orang ramah.”
“Apakah seperti syurga tanpa iblis?” tanyaku lagi.
“Ya bukan begitu, tapi semoga memang tidak membawa pengaruh buruk untuk kita.”
Saat aku pun mengeluarkan bukuku, Suvara baru sadar bahwa menata perabotan tanpa persetujuanku. Dia lalu menepikan bukunya, memasukkan sebagian ke dalam kopernya lagi. Lalu dia menyimpan kopernya di atas lemari besi miliknya. Dia bahkan telah menempelkan fotonya dengan pin magnet di pintunya.
“Apakah ini kali ke sekian kamu ke sini?” tanyaku.
“Iya, ini tahun ketigaku,”dia melihatku dan tersenyum lalu duduk si tempat tidurnya.
“Tahun ketiga? Kegiatan ini kan bisa memakan waktu berbulan-bulan katanya, apa kamu tidak sekolah?” tanyaku penasaran.
“Tidak,” Suvara masih tersenyum.
Aku memilih diam dulu sambil menata buku juga baju-bajuku di lemari. Tak seperti Suvara yang telah siap, aku bahkan masih kebingungan menata barang-barangku sendiri. Suvara membantuku menaikkan koperku ke atas lemari milikku. Kami memang sekamar, tapi kami punya lemari juga tempat tidur masing-masing. Kami hanya harus berbagi meja belajar, juga kamar mandi.
“Suvara, berapa umurmu?” tanyaku.
“13 tahun, bagaimana denganmu Sya? Berapa usiamu?”
“Aku lebih tua dua tahun darimu,” jawabku sembari mencoba tersenyum.
Bukan aku tak bisa ramah, tapi sejujurnya aku minder. Aku merasa sendirian dan asing di tempat ini. Apalagi jika kuingat apa tujuanku ke sini, aku semakin merasa rendah diri. Apakah aku akan bisa menyamai anak-anak di sini, ataukah aku hanya akan dipermalukan di kemudian hari.
“Apakah aku harus memanggilmu kakak?” goda Suvara padaku.
“Eh, tentu saja tidak,” aku mulai menyukai teman sekamarku ini.
“Ayo kuajak berkeliling.”
Suvara menggandeng tanganku. Dibawanya aku keluar kamar dan berjalan di lorong panjang. Pemandangannya masih sama dengan ketika aku datang. Beberapa orangtua memeluk anaknya, anak yang terlihat sedih berpisah dengan orangtuanya dan pemandangan sejenis tentang itu. Di ujung lorong, Suvara mengajakku memasuki lift dan kali ini aku sudah tidak terlalu kaget seperti tadi. Begitu lift terbuka, Suvara mengajakku ke arah yang berbeda dengan jalan aku datang tadi. Dia membawaku melewati beberapa lorong panjang lagi sampai aku tiba di sebuah pintu besar. Di sana seorang penjaga terlihat ramah meminta anak yang akan melewati pintu itu menunjukkan kalung identitas yang digunakan. Barulah aku sadar aku juga telah mengenakan kalung itu, kalung yang katanya hadiah bukti keberuntunganku.
Penjaga menekan tombol setelah melihat kalung yang kami gunakan. Aku melihat ke arah liontin milik Suvara membandingkannya denganku. Sekilas bentuknya sama, namun ternyata sebuah kilatan nampak kehijauan pada milik Suvara dan kebiruan pada milikku. Apakah di dalamnya ada data diri kami? Aku tak tahu.
Hamparan rumput hijau dengan beberapa anak yang tengah berlari, duduk di tepian stadion, atau bahkan menekuni buku nampak begitu menyenangkan sekaligus menakutkan. Ya, menakutkan. Mata beberapa anak itu begitu nampak menakutkan di mataku. Mereka melihatku seolah aku musuhnya, lirikan mereka sama sekali tak ramah. Namun beberapa nampak seperti Suvara, sekalipun tak mengenalku, mereka akan tersenyum. Sisanya acuh saja.