Chapter 2

1071 Words
“Suvara ini kan asrama untuk olimpiade, jika kamu tidak sekolah, bagaimana bisa kamu ada di sini?” tanyaku saat kami duduk di tepian taman berbatu. “Dulu aku sekolah Sya, aku selalu juara satu, aku seperti anak-anak lain yang gemar mengumpulkan nilai A. Tapi tidak dengan ibuku. Dia merasa harusnya aku mendapat lebih. Ibu menganggap sekolahku tak cukup bagus untuk otakku yang jenius. Lalu dengan alasan ayah akan pindah ke luar kota, ibu membuatku berhenti sekolah. Ibu mengajariku banyak hal, menghafal dan menemukan hal-hal baru dengan caranya. Meskipun akhirnya aku jenuh Sya, tak ada teman, tak ada orang lain yang kutemui selain ayah dan ibuku. Ibu lalu menceritakan kemurunganku pada temannya yang merupakan salah satu dosen di sini, dia mengatakan pada ibu, jika aku pergi ke tempat ini, aku bisa menemukan teman yang pengajar yang setara dengan kapasitas otakku.” “Kamu menurut begitu saja? Tidak berpikiran akan rindu dengan ayah dan ibumu?” tanyaku yang mengukur Suvara pada kerinduanku sendiri. “Aku justru sangat bersemangat dan berpikir aku akan menemukan teman-teman yang luar biasa seru.” Mata Suvara memang begitu cemerlang saat mengatakannya, seolah dia memang begitu bahagia dengan pilihan ibunya. “Bukankah pemenang akhir akan pergi ke “Bulan” Suv?” tanyaku. “Katanya memang begitu, sayangnya aku belum pernah jadi pemenang,” jawab Suvara sedikit melemah. “Kita bisa jadi pemenang bersama Suv,” kataku meyakinkannya. “Iya, toh kita akan berlomba di bidang yang berbeda, kamu bukan rivalku Sya,” kali ini binar bahagia kembali nampak di matanya. “Dari mana kamu tahu?” tanyaku. “Kalung kita akan mengeluarkan sinar yang sama jika kita saling bertanding di event yang sama.” Kini aku paham kilatan cahaya yang kupunya berbeda dengan milik Suvara. Karena itu banyak anak yang menyembunyikan kalung mereka di balik kemeja, agar pesaing mereka tak bisa mengenali mereka. Aroma persaingan tiba-tiba kurasakan pekat dan sekelilingku nampak semakin menakutkan. “Suv, ayo kembali,” kataku. Malam itu kulihat Suvara belajar begitu tekun. Dia memakai kacamatanya dan sama sekali tak bergeming setelah membaca buku miliknya. “Estetika Robotik” itu judul yang nampak di bukunya. Seperti katanya siang tadi, dia bukan rivalku, dia akan mengejar juara bidang robotic, sedang aku akan berjuang di lomba genetik. Aku melamun, mengingat mawar unguku yang membuatku berada di sini. Secara tak sengaja, beberapa bulan lalu, aku menggabungkan biji mawar dengan serbuk bunga telang dan ternyata muncul mawar ungu dengan duri-duri yang juga berambut tipis di batang tanaman itu. Ketika Bu Mira melihat tanaman itu dibuatlah olehnya laporan tentang bunga temuanku dan akhirnya sebuah surat datang bersama dengan kalung ini, bahwa aku berhak mendapat karantina dan bimbingan sebelum mengikuti Moon Champions. Sebuah kompetisi kecerdasan anak-anak yang berhadiah terbang ke bulan. “Kamu juga harus belajar Sya, sini duduk denganku,” Suvara menepuk tempat kosong di kursi panjang yang menyatu dengan meja kerja kami. “Aku tak tahu harus belajar apa,” jawabku. “Baiklah besok kita ke perpustakaan,” Suvara tersenyum dan lalu berpaling dariku. Aku memilih tidur dan memaksa mataku terpejam, meskipun aku belum terbiasa tidur dengan cahaya dari lampu belajar Suvara. Entah sampai jam berapa Suvara masih belajar, setiap kali aku terbangun kulihat lampu belajarnya masih menyala dan tubuhnya masih tegap dengan tangan yang sesekali mencatat. Jelasnya, ketika sinar matahari mulai tampak dari balik balik tirai jendela kaca di kamar kami, aku melihat Suvana juga sudah segar dengan senyum merekah membuka tirai kami. “Kamu tidak tidur Suv?” tanyaku. “Kamu pikir aku ikan?” selorohnya lalu menyembunyikan liontinnya di balik sweater yang dipakainya. Dia memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya, lalu memintaku bersiap juga. Sepertinya yang dikatakannya kemarin, dia akan membawaku ke perpustakaan. Berbeda dengannya yang tampaknya telah siap dengan apa yang akan dia kerjakan, aku masih sangat awam dan tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Begitu aku telah siap, Suvana mengajakku turun ke lantai dasar dimana perpustakaan berada. Awalnya kami melewati lobbi dimana meja melengkung yang masih terus melayani anak-anak yang baru datang. Pandangan kagum anak-anak yang beberapa tampak lebih mudah dariku membuatku tersenyum. Pasti aku juga sememalukan itu kemarin saat baru datang. Suvara mengajakku berbelok, melewati pintu kaca yang didalamnya buku berjajar rapi di deretan rak. Luas sekali dan aku juga tidak yakin bahwa perpustakaan ini hanya mengusai lantai dasar. Di salah satu terdapat tangga melingkar yang menandakan bahwa perpustaan ini ada beberapa lantai. Hening sekali. Anak-anak yang berada di dalamnya tidak saling bertegur sapa kecuali melempar senyum saja. Kebanyakan anak-anak berkacamata telah duduk dengan menekuni buku yang mereka baca. Persis seperti yang dilakukan Suvara tadi malam. Di salah satu sisi, ada jendela besar yang menampakkan langit juga taman di halaman Cipanas Study Center ini. Aku mendekat ke jendela itu. Melihat pagar yang terletak begitu jauh dari taman, apalagi dari rumah. Rumah. Ah, meskipun di sana begitu menyedihkan, kurasa aku mulai rindu karena telah meninggalkannya. “Ah, di situ kamu rupanya,” Suvara mendatangiku yang terpisah darinya. Suvara lalu membawaku ke seorang petugas di dekat tangga. Dia membuatku mendapatkan kartu anggota perpustakaan. Kemudian dia kembali menggandeng tanganku ke lorong rak buku yang lebih tinggi dari tubuhku. “Sya, lihat, di ujung rak pasti ada tulisan atau katalog buku digital. Kamu bisa melihat apakah buku yang kamu inginkan ada di deretan ini. Sini aku ajari cara mencari buku yang kamu inginkan.” Suvara lalu menuliskan “botani” dan beberapa judul buku muncul lengkap dengan nomor buku, isbn, pengarang juga nomor rak. Suvara menyentuh layar tepat di salah satu judul buku, lalu tampak ringkasan buku, juga sampul buku yang dimaksud. Setelah itu suvara mendatangi rak yang bernomorsama dengan yang tertulis di katalog tadi. Menjelejah dengan jarinya sebentar lalu mengambil sebuah buku tebal bersampul lusuh. “Nah, begitu cara mencarinya, sudah bisa? Kamu ingin mencoba sendiri?” tanyanya padaku. “Suv, masalahnya aku tak tahu aku harus mempelajari apa? Apakah aku harus mengembangkan mawar biruku, ataukah harus membuat sesuatu yang baru dan berbeda.” “Memangnya mawar birumu ingin kamu jadikan apa? Mutan? Atau sesuatu yang lain? Tentu saja kamu harus membuat sesuatu yang berbeda.” “Baiklah, kalau begitu biarkan aku berkutat sendiri,” kataku sambil berjalan di lorong dengan banyak judul buku tentang tanaman itu. Suvara juga sudah berlalu entah kemana. Aku terus membaca setiap judul yang kulewati. Kemudian jariku berhenti di sebuah buku bertuliskan Clitoria. Aku menariknya dan memeluknya sebelum akhirnya menemukan dua buku lainnya dan lalu kembali ke ujung lorong. Mataku berpendar, akan duduk dimana untuk hanyut pada buku-buku yang kupeluk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD