Chapter 3

1111 Words
Di salah satu meja yang membelakangi jendela besar, Suvara telah menyendiri membaca sebuah buku sembari mengutak-atik tabnya. Di sampingnya beberapa bangku telah terisi. Aku terus mengamati ruang baca yang mulai ramai itu. Beberapa anak menaiki tangga, sama denganku, mereka juga memeluk beberapa buku tebal. Apakah di atas juga ada ruang baca? Demi menjawab pertanyaanku, aku pun menaiki tangga melingkar itu. Ketika sampai di lantai dua perpustakaan itu. Pertanyaanku segera terjawab. Ruang baca di lantai dua justru berupa karpet terbentang dengan beberapa bantal duduk warna warni. Beberapa anak duduk bahkan tengkurap untuk menekuni buku mereka. Ah, sepertinya ini yang cocok denganku. Tak jauh berbeda dengan di lantai dibawah, ruang baca ini juga dekat dengan jendela yang memperlihatkan keadaan luar gedung, hanya saja tidak menghadap ketaman, melainkan lapangan olahrga yang kemarin kami singgahi. Dengan bersandar di salah satu pilar besar, aku mulai membuka buku yang kubawa dari lantai satu. Buku yang lebih tampak seperti jurnal penemuan ini memperlihatkan gambar berbagai clitoria yang sedang diulas. Clitoria adalah genus dari bunga telang yang berhasil kusilangkan dengan mawar putih sehingga mawar biruku tercipta. Setiap kalimatnya k****a dan jika kutemui kata ilmiah yang belum kupahami segera kucatat dalam buku catatanku lalu kucari dengan tab yang diberikan padaku bersamaan dengan kunci kamarku kemarin. Tenggelam, hanyut, aku lupa waktu sampai terdengar bunyi seperti jam besar yang berdentang. Sudah tiba jam makan siang. Jam itu membuat perutku juga protes. Kukemasi barang-barangku dan segera turun. Kulihat Suvara menjelajah di ruang baca, mungkin mencariku. Aku mendatanginya dan menepuk bahunya. Dia tersenyum lalu kami menuju ke petugas untuk mencatatkan, buku yang akan kami bawa ke kamar. Setelah itu menuju kantin dan bersiap mengambil jatah makan kami. “Suv, akan berapa kita seperti ini?” tanyaku. “Maksudmu?” “Berkeliaran tanpa tahu apa yang sebaiknya kita kerjakan,” aku menyuap makanan masuk ke mulutku. “Harusnya tidak lama, tapi kita memang harus menunggu sampai semua anak yang mendapat undangan, datang ke tempat ini.” Aku mengangguk sebagai respon aku mengerti apa yang dibicarakan Suvara. Saat akan menelan makanan yang sedang kukunyah. Seorang anak laki-laki duduk di sebelah bangku kami. Aku yang mulai terbiasa dengan aroma persaingan melihat bahwa bandul yang dipakainya memiliki warna yang sama dengan yang dipakai Suvara. Aku menepuk Suvara dan mengisyaratkan padanya untuk melihat ke arah anak itu. Suvara segera mengerti. Lalu dia tersenyum pada anak itu. Setelahnya Suvara kembali makan dan seolah tidak terjadi apapun. Aku mengawasi apakah di tempat makan kami saat ini ada anak dengan warna bandul yang sama denganku. Sayangnya aku tak menemukannya. “Apakah itu artinya dia adalah rivalmu?” tanyaku. “Iya,” jawab Suvara. “Kenapa kamu justru tersenyum? Tidak seperti anak-anak lain yang segera menutup diri dan menunjukkan persaingan yang kental?” tanyaku lagi. “Ah, setiap anak punya cita rasa bersaing yang berbeda kan, lagipula jika memang bulan sudah memanggilku, siapapun tidak akan bisa menghalangiku.” Aku tersenyum puas dengan jawaban Suvara. Dia benar, jika bulan memang sudah rindu pada kami, siapa yang bisa mencegah perjalanan kami ke sana. Tapi perjalanan ke bulan memanglah sulit, tentu akan sepadan jika aku dan Suvara mempersiapkannya semua dari awal. Di pagi ketigaku di CSC, matahari bersinar lembut sekali. Awan putih berarak menutupi matahari yang masih enggan terik. Cemara-cemara tinggi di pelataran taman dengan daun yang siap menadah jatuhnya embun yang mulai mencair. Aroma sembab embun diantara udara yang basah membuat jalan antara hidung, mulut dan telingaku seolah teramat bersih saat aku menghirupnya. Kuayun tanganku ke atas, lalu kuhembus napasku perlahan lewat mulut. Kugerakkan tubuh atasku ke kanan lalu kiri lalu bersiap berlari di jogging track. Pagi itu aku berlari mengelilingi CSC yang pada jalur paving melingkar dan mengarah ke stadion yang pernah kukunjungi bersama Suvara. Aku mulai berani berkeliling tanpa Suvara, karena tentu saja aku tak bisa selamanya mengekor pada Suvara. Saat tengah asyik berlari, aku melihat anak laki-laki dengan kalung yang sama dengan Suvara itu juga tengah berlari. Tampaknya dia tak peduli dengan kilatan liontinnya yang terkadang tertepa sinar matahari sehingga terlihat menyilaukan. Mungkin dia punya cara berkompetisi yang sama dengan Suvara. Tidak perlu menyembunyikan diri toh suatu hari akan terlihat siapa saja kompetitor kita. Seperti halnya Suvara, aku akhirnya tersenyum padanya dan dia pun membalas senyumku. Kami berpapasan dan hampir bersamaan menghentikan laju lari kami saat semua sirene terdengar. Saat itu atap stadion menutup dan sebuah layar besar terlihat menyala. “Kalian akan punya waktu 1 jam untuk bersiap dan menuju kelas kalian. Mulai saat ini, kalian akan punya jadwal yang padat, maka aturlah waktu dengan baik.” Lalu tampilan layar itu mati kembali. Kelas? Kelas apa? Di mana? Aku dan anak laki-laki itu saling menatap sesaat sebelum sama-sama mengernyit, lalu berlari ke arah asrama kami. Lift mendadak penuh. Aku menengok ke arah tangga, beberapa anak tampaknya punya pemikiran yang sama denganku. Hanya lantai tiga, tidak akan sulit pikirku dengan setengah berlari menaiki tangga. Begitu sampai di depan pintu asrama, kulihat Suvara telah keluar dengan begitu rapi. Dia menatapku bingung tapi lalu mengikutiku masuk ke dalam kamar kami. “Cepat mandi, biar kubantu menyiapkan baju dan alatmu,” katanya meletakkan tumpukan buku di dekapannya. “Kamu baik sekali Suvara,” aku lalu menghilang di balik pintu kamar mandi. Saat aku bersiap, kulihat Suvara sudah tidak ada di kamar. Kelas! Ah, kenapa tadi tidak bertanya dulu kemana harus menuju kelas. Aku bergegas dan keluar menuju lorong bersama anak-anak lain. Aku mengikuti langkah-langkah kaki yang terlihat telah dengan yakin menuju suatu tempat. Tidak salah, akhirnya kami mengarah ke sebuah lorong di lantai dua. Lorong itu mirip dengan lorong kamar kami, hanya saja pintu-pintu di sini lebih lebar, menandakan ruang yang juga lebih lebar. Lalu yang mana kelasku? Beberapa anak terlihat masuk ke ruangan demi ruangan tanpa ragu. Aku mencoba melihat mereka, mengamati apa yang membuat mereka tahu itu kelas mereka. Ah, ternyata ketika semakin dekat, bisa kulihat engsel pintu dengan kilau yang sama dengan liontin yang kupakai. “Canggih!” pekikku. Beberapa anak terlihat masih kebingungan mencari tahu dimana kelas mereka. Rasanya tak tega membiarkan mereka terdiam di sudut lorong. Kuhampiri mereka dan kuperlihatkan kalungku lalu kujelaskan bahwa mereka akan melihat kilau yang sama pada engsel pintu kelas mereka. Mereka tersenyum, lalu kami saling berpencar. Kusentuh engsel pintu yang berwarna kehijauan itu lalu kuputar dan kudorong perlahan. Seorang anak menerobos masuk dan mendahuluiku yang belum melangkah. Jika saja ada banyak waktu. Aku akan memuaskan diriku untuk terkesima dengan apa yang kulihat. Kulihat ruangan yang begitu lebar itu, sangat tidak masuk akal jika jarak antar pintu hanya sekitar 4-5 meter, tapi di dalamnya, ruangan itu mungkin lebih jika berukuran 150 meter persegi. Apakah aku sedang memasuki ruang waktu? Atau seseorang sudah menemukan distorsi ruang sehingga bisa membuat hal yang luas masuk dalam sesuatu yang kecil?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD