Chapter 4

1030 Words
Aku mulai melangkahkan kakiku dengan leher yang terus memanjang untuk melihat sekelilingku. Langit-langit yang putih dan terlihat tinggi, jendela-jendela kaca yang semuanya terbuka dan menunjukkan cuaca yang cerah dengan awan yang melintas. Sedang setinggi apakah aku saat ini. Sedang asyiknya tercengang, seorang anak menabrakku dari belakang, kami sama-sama terhuyung lalu terjatuh. Aku yang lebih dulu berdiri segera mengulurkan tangan bermaksud menolongnya. Tapi alangkah terkejutku saat melihatnya. Aku justru tidak dapat menguasai diriku. Dia tersenyum menerima uluran tanganku. Dengan erat aku menahan tangannya yang menopang tubuhnya untuk bangkit. Aku masih tak habis pikir kenapa wajahnya mirip denganku. Bukan hanya mirip, tapi sama. Begitu dia terbangun dia melepas jabat tangan kami. "Maaf, tapi aku hampir tak melihatmu," katanya. "Aku juga minta maaf karena menghalangi jalanmu," jawabku dengan tidak mengalihkan pandanganku. Anak itu tak banyak berkata-kata lagi dia langsung berbalik dan mengedarkan pandangannya pada seluruh bangku yang tersusun dalam tribun. Aku mengikuti matanya. Tribun dengan kurang lebih 10 tingkat dengan masing 24 kursi di setiap tingkatnya. Terpisah menjadi 3 bagian untuk 5 buah anak tangga. "Ya Tuhan," pekikku pelan. Anak itu melihatku. Tapi kemudian dia berlari kecil ke sebuah set tempat duduk di tingkat ke dua. Aku melihat bangku kosong di atas anak itu. Selagi belum ada yang masuk lagi, aku mengikutinya berlari kecil demi bangku itu. Masih banyak bangku kosong di tribun atas sementara di bawah semua bangku telah terisi. Aku canggung melewati belakang anak-anak lain yang wajahnya sama semua denganku. Memang tubuh mereka berbeda. Ada yang tinggi kurus, ada yang sama persis denganku mungil tak berisi, tapi dengan warna kulit yang lebih gelap. Tapi wajahnya yang terlihat memiliki bentuk yang sama dengan milikku. Itu yang membuatku canggung. Sensasi ini terlihat hanya kumiliki. Tidak dengan lainnya. Membuatku merasa ada yang salah dengan mataku. Aku menggosoknya berkali-kali setelah memasukkan tasku di kolong bangku. Ruangan sebesar ini, anak sebanyak ini, tapi gangguan suara kecil sekali. Tak banyak yang berbincang. Mungkin karena sama-sama belum saling mengenal. Kami masuk berdasar warna kalung, artinya semua yang di sini adalah... pesaing. Aku semakin canggung untuk melihat semuanya. Kucoba menolehkan kepalaku ke tribun yang ada di atasku. Banyak raut mimik yang sangat berbeda. Ada yang tersenyum melihatku, ada yang terlihat begitu sinis, ada yang segera menunduk seperti takut, lebih banyak yang tidak peduli. "Hai," anak di sampingku menyenggol bahuku. "Hai," balasku. "Niara," dia tampak menyebutkan namanya dengan senyum yang lebar. "Kisya," jawabku. "Baru pertama kali?" "Terlihat begitu ya?" "Jangan gugup, setelah ini kamu akan tahu kenapa bisa begini," dia lalu terlihat melambai pada seorang anak dengan pita merah di pergelangannya. Anak berpita itu segera membalas lambaian tangannya dan berusaha mencari bangku yang terdekat dengan kami. Tapi sayangnya semua telah terisi. Tersisa bangku yang cukup tinggi dari dasar. Dia menunjuk bangku yang akan didudukinya, Niara tampak mengangguk lalu kembali melihatku. "Tahun ini lebih ramai sepertinya," katanya. "Apakah sebelumnya juga sebanyak ini?" tanyaku. "Iya, tapi ini sedikit lebih banyak." Sayang tempat dudukku jauh dari jendela. Sehingga awan yang terbelah oleh sayap seekor burung tak bisa kuperhatikan dengan jelas. Aku agaknya mulai tertarik dengan dunia luar yang semakin jarang kuperhatikan akhir-akhir ini. Saat aku menikmati keadaan di luar jendela yang semakin tampak asing, segerombolan anak-anak berlarian masuk dan setengah bergurau, dari tingginya mereka tampak seragam dan seusia. Oh, sayang sekali wajah mereka tampak kembar. Padahal aku benar-benar ingin tahu apakah mereka kembar atau hanya seumuran. Mereka menyebar mencari tempat kosong. Saat menyadari masing-masing mereka berjauhan, kertas berbentuk pesawat diterbangkan salah satunya. Mereka saling melempar pesawat kertas itu. Pesawat itu tertangkap oleh tangan Niara yang mengacung. Begitulah jepitan jari Niara memerangkap pesawat kertas yang sudah menjelajah ruangan. "Ayolah lempar ke sini lagi!" teriak salah satu anak. Aku tak bisa mengenalinya apakah dia salah satu dari anak-anak tadi atau tidak. Aku hanya memperhatikan dia dan Niara yang mulai bertengkar. "Tidak, sebentar lagi kelas dimulai," jawab Niara. "Tapi kan belum," anak lain berdiri dari tempat duduknya. Seketika ruangan menjadi gaduh. Ada yang meminta pesawat itu kembali diterbangkan, ada yang membenarkan Niara menahan kertas melayang itu. Sebagian kecil hanya diam memperhatikan, aku misalnya. Anak-anak yang baru masuk pun berkasak kusuk mencari tahu. Semakin ramai dan tak terkendali ketika layar di depan kami menyala. Ruangan mulai berkurang senyap saat kami serentak menyadarinya. Pesawat kertas tadi diterbangkan Niara ke arah depan dan tepat berhenti di mimbar kelas. Aku bertepuk kagum, karena aku tahu Niara sengaja melakukannya. Niara memang mendaratkan pesawat kertas itu di sana agar tak lagi diambil pemiliknya. Dan pendaratannya sempurna. Tepat sebelum pintu terbuka, seorang perempuan melenggang masuk. Ruangan yang tadinya riuh dengan aksi Niara, kembali senyap mendadak. Kami semua fokus pada satu titik, perempuan itu. Belum separuh baya, mungkin aku masih bisa memanggilnya kakak. Dia memakai setelan warna merah muda yang lembut dengan rambut disanggul. Rautnya datar, tidak sedikit pun tersenyum. Dari pintu dia langsung berjalan ke meja. Mangambil sesuatu dari laci meja lalu memakainya di pergelangan tangannya. Setelah itu dia berdiri lagi dan berjalan ke arah mimbar. Benda yang dipakainya diarahkan ke layar. Seketika ruangan menjadi gelap dan layar menunjukkan profil dirinya dalam bentuk 3D. Baru kemudian dia menatap ke arah kami. "Selamat datang di kelas pertama Moon Academy, sebelumnya perkenalkan, nama saya Marsche, saya adalah wali kelas yang akan mengawal kalian sampai seleksi akhir. Sampai salah satu atau mungkin beberapa dari kalian akan menerima hadiah yaitu penerbangan ke bulan. Pagi ini saya tidak akan memberikan materi apapun, saya akan menerangkan tata tertib di sini. Saya tidak ingin salah satu dari kalian berbuat kesalahan yang membuat kalian harus pulang sebelum dinyatakan tersisih dalam seleksi. Aturan yang pertama adalah alasan kalian datang ke camp ini. Semuanya adalah karena hasil karya kalian yang telah kalian daftarkan dan kami anggap layak untuk mendapat bimbingan yang lebih dari kami. Tidak ada dari kalian di sini yang tidak berkemampuan." Suaranya cukup menggelegar meskipun tanpa menggunkan pengeras suara. Setiap kalimatnya menggunakan intonasi dan irama yang sangat pas sehingga kami tidak perlu menanyakan sesuatu dari apa yang dijelaskannya. Dia menjelaskan kami akan ada di sini sampai 6 bulan ke depan. Kami akan diminta membuat sesuatu yang spektakuler, yang sangat berbeda dari apapun di luaran sana. Dan aku mulai berpikir apa yang berbeda yang bisa kubuat. Seperti katanya, hanya beberapa bahkan mungkin hanya satu dari ruangan ini yang bisa pergi ke bulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD