Kasus ini menjadi pukulan telak bagi kepolisian setempat. Bagaimana bisa kelima pencuri itu kabur dan berhasil menggasak beberapa harta dan perhiasan si pemilik?
Dan tentu saja Bernard dendam dengan mereka. Ahmad salah satu anak buahnya yang paling disiplin dan tidak pernah membantah perintahnya. Wajahnya memerah marah besar dan menatap semua anak buahnya satu per satu.
"Kenapa kalian diam saja?!" Bentaknya lagi. Krista tertunduk dalam.
Ia tidak tahu apa pun karena ia berbeda shift dengan Ahmad. Malam itu pun ia di Santa Maria, dan tidak tahu menahu apa yang Ahmad lakukan bersama timnya.
"Kami akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari tahu keberadaan mereka." Krista melirik ke arah Leonel.
Pria yang bertanggung jawab tentang forensik dan olah TKP. Kemarin ia tidak menemukan apa pun selain darah yang berceceran di dalam rumah itu. Sayang pemilik rumah tidak selamat.
Menyisakan satu orang korban yang bahkan entah kapan ia bisa kembali membuka mata. Bernard membalik kertas laporan di atas mejanya dan suasana menjadi hening.
"Apa kendala kalian? Kenapa sulit menemukan mereka?" Leonel segera berdiri dan menghadap Bernard dengan hormat.
"Sir, baru-baru ini kami mendapat informasi mengenai orang-orang yang memiliki ciri-ciri fisik pelaku melalui kamera CCTV dan mencocokkannya dengan list buronan yang sedang kita incar. Kami yakin kelima orang ini memiliki catatan kriminal diantara mereka." Bernard mengatupkan kedua tangannya di atas meja.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? Jelaskan." Leonel mengangguk dan memberikan hasil penelitiannya pada Bernard. Seketika proyektor berganti dengan laporan Leonel.
"Ketiga orang dari CCTV ini memiliki ciri fisik yang mirip dengan buronan ini. Tetapi sangat disayangkan satu orang lagi tidak bisa dikenali."
Semua orang memperhatikan layar proyektor.
"Mereka profesional." Celetuk Krista tiba-tiba dan langsung membuat Leonel tersenyum tipis.
Proyektor yang tengah memutarkan video perampokan itu beserta tertembaknya Ahmad, Krista memicing dengan tatapan dendam dengan pelaku itu.
"Kau benar, Kris. Mereka profesional. Mereka telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Menggunakan sarung tangan, masuk melalui jendela tanpa ragu, dan menghabisi korban dengan pisau."
"Jadi? Mereka perampok profesional? Kenapa aku melihat mereka seperti perampok naif yang impulsif?" Tanya Bernard kesal.
Kenapa mereka merangsak masuk ke sebuah rumah dan mencuri harta benda ketimbang mengebom bank yang jauh lebih menjanjikan? Dan rumah korban tidak bisa disebut keluarga kaya raya. Mereka hanya keluarga kaya biasa.
Leonel menggaruk belakang kepalanya. Memang kenyataannya seperti itu, dan itulah mengapa Leonel merasa gagal mendapatkan informasi keberadaan mereka.
Krista masih diam dan memperhatikan video itu dengan cermat. Tetapi tetap tidak membuahkan hasil apa pun. Matanya kini menatap beberapa orang yang sibuk berpikir mengenai beberapa buronan ini.
"Kris? Kau menangkap sesuatu yang janggal?" Amanda menyikut lengan Krista.
"Maksudmu?"
"Lihatlah, kenapa bocah itu berlari dari arah dapur? Sedangkan kedua orang tuanya tewas di ruang tengah. Maksudku- Kris, kau mengerti maksudku bukan?" Krista buru-buru mengangkat tangannya. .
Bernard langsung menatap ke arah Krista sebelum ia mengesampingkan kertas laporan Leonel. Ia tidak berharap Krista akan mengacau di dalam rapat kali ini.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" Krista mengangguk.
"Bolehkah video lengkap dari rekaman CCTV diputar?" Bernard mempersilahkan Leonel untuk memenuhi permintaan Krista.
Dan benar saja, setelah Amanda mengatakan ada hal yang tidak beres dengan kejadian penembakan itu. Krista langsung menangkap hal itu. Kenapa Leonel tidak melihatnya?
"Bukan pria yang ditengah itu yang menembak Ahmad, tetapi ada satu orang lagi. Lihatlah, bocah itu juga tertembak. Padahal pelaku hanya menggunakan pistol, tidak mungkin pistol menembus tubuh manusia."
Leonel buru-buru berjalan ke tengah dan meminta video diulang kembali. Krista awalnya tidak mengerti sama sekali karena video potongan yang ditampilkan juga hanya adegan bagaimana Ahmad tertembak disana.
"Sebaiknya kita lihat video sejak awal mereka datang." Kata Leonel langsung mengotak atik laptopnya.
Semua orang di dalam ruangan langsung membantu melakukan observasi dari video tersebut. Setelah video selesai terputar, Krista langsung menyimpulkan sendiri.
"Perampok ini sadis sekali. Masuk melalui jendela kamar dan menodong pria si pemilik rumah, lalu menyeret istri pria itu ke tengah ruangan dan membunuhnya. Apakah mereka tidak cukup hanya dengan mengancam saja?" Krista mengatupkan mulutnya.
"Pencuri akan melakukan segala cara jika ia merasa terancam." Sahut Bella di samping kiri Amanda.
Kali ini Krista sibuk memperkirakan reka adegan di dalam kepalanya. Keempat pencuri itu memasuki rumah melalui jendela kamar dan mengancam pemilik rumah.
Istrinya di dapur pun mendengar suara keributan di ruang tengah buru-buru sembunyi dan mengendap menelpon bantuan sebelum akhirnya salah satu perampok memergokinya di dapur.
"Mereka tidak menembak wanita itu ketika membunuhnya." Celetuk Bella.
Karena panik, akhirnya perampok itu membunuh wanita itu dengan pisau. Mereka tidak tahu jika ada bocah kecil yang bersembunyi di dalam toilet sebelum akhirnya bocah kecil itu keluar dari tempat persembunyian.
Sangat disayangkan Ahmad memasuki dapur melalui pintu belakang membuat bocah itu terkejut dan berlari menjauh.
Ahmad juga sama terkejutnya dengan bocah itu dengan otomatis mengejar. Sayangnya ia tidak tahu jika ketiga perampok itu sedang berkumpul di ruang tengah.
Ahmad langsung tertembak ketika ia mengejar bocah itu. Dan sayangnya bocah itu juga tertembak dan kritis. Krista menghela nafasnya dalam.
Melihat kelanjutan video itu dimana Marson, partner Ahmad kala itu juga ditembak berkali-kali sampai tumbang di dapur. Lalu keempat perampok itu pergi dari rumah melalui pintu depan.
Mereka kabur setelah satu orang perampok di dalam mobil langsung menyalakan mesin ketika teman-temannya. Hanya Johan, pihak kepolisian yang selamat disana karena dia memeriksa sekeliling rumah lebih dulu.
Mendengar suara letusan tembakan, Johan terlambat membantu dan hanya menemukan kedua temannya terkapar di lantai. Johan pun menyimpulkan kejadian itu sendiri.
"Perhatikan pencuri yang di tengah... dia malah terlihat seperti amatiran. Dia saja panik saat melihat Ahmad dan menembak dengan asal." Bernard mulai berkomentar.
Krista tahu orang-orang akan berpikir demikian. Ia mengangkat tangannya lagi untuk mengintrupsi Bernard, seketika perhatian kembali padanya.
"Maaf jika aku menyela. Perhatikan arah pistol pencuri yang di tengah itu dari sudut dia berdiri. Yang menembak Ahmad bukan dia, dia panik dan menembak asal dan mengenai si bocah. Sedangkan Ahmad... Dia tertembak di kepalanya. Tidak mungkin itu kebetulan jika bukan karena skill menembak salah satu pencuri itu. Itulah mengapa aku mengatakan mereka profesional, tapi beberapa dari mereka saja."
Leonel bersedekap dan menatap Krista meminta penjelasan. Ia tidak mengerti maksud dari wanita itu sampai Krista mulai menjelaskan lagi.
"Jelaskan." Ucap Leonel dan Krista mengangguk.