8. Pura-pura

1285 Words
"Oh oke, jika kau tidak mau memberi tahukannya pada grandma. Ingat Dave, tujuanmu menikah itu agar adanya penerus di keluarga ini, jika  istrimu tidak bisa mengandung, maka tinggalkanlah dia dan cari wanita lain" ujar Devina lalu  bergegas pergi meninggalkan David yang menegang di tempatnya. Disisi lain, Sinta hanya bisa diam bersembunyi dibalik pilar tangga sambil membekap mulutnya dengan air mata yang terus menerus mengucur deras dari pelupuk matanya. Tak ingin ada orang yang melihatnya menangis, Sinta buru-buru menghapus air matanya lalu bergegas keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah seolah tidak ada yang terjadi . David menegang  melihat Sinta berjalan menuruni tangga sesaat setelah Devina pergi. " Selamat pagi Dave " Sapa Sinta yang kini tengah berjalan menghampiri David, tak lupa senyum palsunya yang tampak manis (garis bawahi). "Se-selamat pagi " jawabnya terbata-bata. " Ada apa dave ? " "Apa kamu mendengar semuanya?" Sinta menatap David dengan tatapan bingung. "Mendengar apa? Apakah kamu tadi berbicara sesuatu ?" David menghembuskan nafas lega setelah mendengar penuturan Sinta . "Ah tidak. Kamu mau kemana ?" "Membuat sarapan" ucap Sinta yang kemudian berjalan menuju dapur. ***** Setelah selesai sarapan, aku pamit dan bergegas pergi menuju kamarku dengan alasan tidak enak badan. Bahkan aku tidak mengantarkan Dave masuk kedalam mobilnya untuk berangkat kerja. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jadilah aku berbaring di atas ranjang sembari memandang kearah langit-langit kamarku. "Apakah keputusanku untuk menikah itu sudah benar ?" Racau ku. Aku ingin tahu apakah hatiku yang benar atau logikaku yang salah. Wanita mana yang tidak terluka, wanita mana yang tidak merasa sedih saat mendengar keluarga dari suaminya mengatakan akan membuang menantunya. Bayi ? Ini salahku yang tidak bisa memberikan haknya dave. Apa aku egois? Aku hanya belum siap memberikannya. Arrrrrrrrgg rasanya dadaku sesak sekali. Aku ingin menangis. Rasanya sakit sekali. Tanpa sadar air mataku mengalir deras. Aku mengambil ponsel ku, dan membuat aplikasi chatting di ponselku. Entah kenapa tiba-tiba saja aku merindukan sahabatku Alfath, semoga kali ini dia akan membalas pesanku. Alfath : sama - sama                        Aku terbelalak melihat pesan dari Alfath, ternyata Alfath membalas pesanku tiga hari lalu. Tanpa pikir panjang lagi aku mengirimkan chat pada Alfath, sekarang aku benar-benar membutuhkannya. Sinta : Al ? Alfath mengetik pesan Alfath : Ya Jemariku mengambang di diatas layar ponsel . Aku senang. Sinta : Apa kabar Al? Alfath : Kabar  baik Alfath : Gue denger sekarang                Lo pindah ke Amerika                 Ta? Sinta : hmmm iya Alfath :  Lo bahagia? Sinta : iya Alfath : syukur deh Hening. Suasananya mendadak jadi akward. Aku kehilangan kata-kata, rasanya aneh dengan situasi ini. Biasanya aku tidak pernah sampai kehilangan kata-kata saat chat bersama Al, dulu kami bahkan bisa mengirimkan ribuan chat dalam sehari ... Hhhhh aku lupa itu kan dulu. *** Angin berhembus cukup kencang malam itu. Sinta terduduk di atas tempat tidurnya dengan tatapan mata yang tertuju pada pintu balkon yang terbuka lebar, membiarkan angin dingin diluar sana bebas masuk sesuka hati. Jam digital diatas nakas sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Sinta masih belum mengantuk sama sekali. Semua yang terjadi hari ini sangat mengganggu pikirannya. Diluar sana, suara derap langkah terdengar mendekati kamar tempat Sinta berada . Itu Dave Ckleeekkk " Kamu belum tidur Sayang?" David bertanya sambil melonggarkan dasi yang sudah terasa mencekik lehernya. Sinta beranjak turun dari ranjang lalu mengambil alih tas kerja yang sedari tadi dijinjing David "Belum, aku belum mengantuk." "Lain kali kamu harus tidur lebih awal Ok, jangan terlalu kelelahan." David mengusap pucuk kepala Sinta dengan penuh sayang, lalu mencondongkan wajahnya untuk mengecup kening Sinta . Sinta mengangguk kecil. "Mau mandi air hangat ? " Sinta mendongak menatap David yang lebih tinggi darinya. "Iya, jika boleh merepotkan" "Tidak repot sama sekali Dave, ini tugasku " Sinta tersenyum tulus menatap David. Lalu berbalik dan berjalan pergi menuju kamar mandi. Tapi, baru saja satu langkah Sinta berjalan, tubuhnya membeku ditempat tatkala tangan kekar milik David melingkar diperutnya ditambah dengan wajah David yang tenggelam di ceruk lehernya. Ada sensasi geli, canggung, dan yang paling membuat Sinta heran adalah sensasi bergejolak di dalam perutnya. Padahal jelas-jelas dia tidak sedang merasa lapar. "Thanks for everything Sinta ... I love you." David mengecup singkat pipi Sinta lalu kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sinta. Sinta tersenyum. Dia mengusap lembut kepala David " I love you too Dave... Dan maaf" David mengernyit bingung lalu mengangkat wajahnya dan memutar tubuh Sinta agar menghadap dirinya. "Maaf untuk?" Sinta kelu. Maaf karena aku belum bisa menjadi seorang istri yang seutuhnya. "Maaf karena membuat acara mandi mu menjadi lama." Sinta menampilkan deretan gigi putihnya. "Ada-ada saja," Tawa David terurai seraya menyentil hidung mancung milik Sinta dengan gemas. Setelah itu Sinta berjalan pergi menuju kamar mandi, dan kali ini benar-benar menuju kamar mandi. Selepas tubuh Sinta menghilang dibalik pintu, Wajah David berubah muram. Dia mengusap kasar wajahnya lalu duduk ditepi ranjang. Dia benar-benar stres. Bagaimana mungkin grandma nya ingin dia menikahi wanita lain sedangkan usia pernikahannya dan Sinta saja belum genap satu Minggu. Bayi. Lagi-lagi topik itu harus kembali menekannya, pertama dia diburu-buru menikah karena topik itu dan sekarang grandma nya ingin seorang bayi hadir dengan waktu yang relatif singkat. Bayi bukan mie instan yang bisa sekali jadi. Sejujurnya David juga sudah mendamba-dambakan hadirnya seorang David junior ataupun Sinta junior dalam keluarga kecilnya, tapi apa boleh buat dia tidak mungkin memaksa Sinta untuk  melakukan hal itu sementara gadis itu belum siap. "Dave air hangatnya sudah siap " David mengerjapkan matanya. Suara Sinta membangunkannya dari semua pemikiran yang membuatnya tenggelam untuk sesaat. Dia bangun dari duduknya, lalu bergegas pergi menuju kamar mandi. 'Mungkin air bisa sejenak menenangkan pikiran ku' batinya *** Pagi sekali David sudah berangkat ke kantor meninggalkan Sinta yang menyiapkan semua pakaiannya dengan sesekali menguap karena masih mengantuk. Alasannya, karena pagi ini David ada meeting penting dan diadakannya sesubuh ini. Mobil Ferarri milik David perlahan memasuki area parkiran. Suara gaduh dari pintu mobil pun menjadi tanda bahwa David sudah sangat terburu-buru meninggalkan mobilnya. Ting Pintu lift terbuka, dengan langkah terburu-buru David berjalan menuju ruang meeting yang letaknya ada di lorong ketiga. " Mari kita mulai meetingnya." Semua orang diruangan itu mengangguk. Meeting yang berlangsung cukup lama itu akhirnya berakhir ditandai dengan kesepakatan antara David dan investor besar yang menjadi kliennya itu. "Hei dude, kemana saja kau selama ini?" Tanya Lucas salah satu sahabat sekaligus rekan kerjanya. "Indonesia." Jawabannya singkat Lucas mengernyit bingung " untuk apa kesana? Jauh sekali," "Menikah." Lucas ber-oh ria lalu kemudian memekik kaget saat menyadari hal yang baru saja dilewatkannya. "Woaaa sahabatku ini ternyata sudah bukan pria lajang lagi rupanya, kita harus merayakannya." Lucas merangkul pundak David lalu membawanya menuju lantai dasar untuk mengambil mobilnya. Tak butuh waktu lama mobil David melaju kencang keluar dari pelataran kantor . Mobil Ferarri itu berhenti disebuah club malam bintang lima. Dia mengunjungi tempat itu saat waktu baru saja menunjukkan pukul 07.00 pagi. "Ayo bro kita masuk, Max sudah menunggu kita" Suara berisik dari musik DJ yang di mainkan dengan volume tinggi itu menyambut indra pendengaran David saat baru saja dia memasuki tempat itu. Lucas pemandu David untuk menuju lantai atas yang suasananya sedikit tenang dibandingkan lantai bawah .  di sana mereka menemui lelaki bule berparas tampan dengan rambut pirang yang yang tak lain adalah Max  pemilik klub itu . "Hello Max, aku punya kabar mengejutkan untukmu_" Lucas melakukan tos bersama Max. " Boss besar kita sekarang sudah tidak lajang lagi haha" Lucas tertawa renyah. "Baguslah" jawab Max singkat. " ya kurasa juga begitu dan sekarang sepertinya hanya kita berdua yang masih lajang haha" Max tersenyum miring lalu meletakkan gelas wine miliknya " No dude, hanya kau yang masih lajang disini" "Woaaa permainan apa ini, jangan  bilang kalau kalian menikah tanpa mengundangku?" "Baiklah Dave coba ceritakan pengalaman malam pertama mu heh, pasti kau sangat menikmatinya bukan?" Goda Lucas. " Tidak juga, bahkan istriku masih perawan hingga saat ini" "Wow, Max sepertinya bos kita ini butuh pelampiasan bisakah kau mencarikannya?" "Pleasure mine" "Carikan yang paling cantik dan tentu saja yang paling terbaik yang kau punya Max!" Teriak Lucas pada Max yang baru saja menghilang dari balik pintu. Lalu Lucas menepuk-nepuk pundak David dengan bercanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD