Sepi, hembusan angin malam mendayu beriringan dengan hembusan nafas Sinta. Langit kosong, lagi-lagi bintang tak mau muncul di kelamnya angkasa. Sinta menyendiri di balkon kamarnya, tak peduli seberapa dingin angin malam yang menusuk kulitnya. Matanya berkaca, ternyata sesak masih menghimpit dadanya. Orang yang di percaya sebagai pemilik hatinya, ternyata menghianatinya . Detik ini Sinta sadar, bahwa dia seorang diri. Dia sendirian di negara asing. Hal yang dianggapnya bahagia pun seakan hanya fatamorgana atau malah hayalannya semata. Perih dihatinya terasa menggerogoti sosoknya yang terluka tanpa ada bahu yang menopangnya. Bibir Sinta bergetar, semua kalimatnya tertahan di tenggorokan. Kristal bening menggenang bersama kekecewaan serta luka hati yang disimpan olehnya seorang. Semua ini

