"Silahkan ini ruangannya.." kata Suster itu.
" Makasih Sus" sahut Laras dan segera bergegas masuk bersama Hadi.
Tampak Nenek Soraya tersenyum lembut , wajahnya masih sedikit pucat.
" Hai cantik kemarilah". katanya seraya melambaikan tangan.
" Iya nek.." Perlahan Laras mendekat dan duduk dikursi samping tempat tidur.
" Nama kamu Laras ya.." tanya Soray
" Iya Nek, kok nenek tahu?" bukanya menjawab Laras malah balik bertanya.
" Anak pintar, ditanya malah balik bertanya" nenek Soraya tertawa, Laras punikut tertawa.
" Kan penasaran nek..." sergah Laras.
" Dokter yang memberi tau Nenek, oh ya kenapa kamu membawa koper tadi, kamu mau kemana?" mendengar pertanyaan Soraya, wajah Laras kembali mendung.
" Pergi nek.." jawabnya sambil menghela napas panjang.
" Kemana"
" Tidak tau Nek"
" Tidak boleh pergi kalau tidak ada tujuan."
" Aku ...." Laras menghentikan perkataanya.
" Jangan kemana- mana, tetap disini bersama nenek, anggap saja ini sebagai balas budiku padamu" potong nenek Soraya.
" Tapi bagaimana dengan keluarga Nenek"
" Nenek tinggal sendiri, tidak punya keluarga. Hanya ada keponakan jauh, tapi juga sudah berkeluarga dan tinggal sendiri" jelas Nenek panjang lebar.
Laras terdiam, pikirannya bingung harus bagaimana dia menentukan jalanya sekarang.
" Kenapa diam? " tanya Soraya lembut.
" Aku jadi tidak enak sama nenek, jika aku menerima tawaran nenek terkesan aku ini butuh imbalan" lirihnya, tapi terdengar jelas oleh Soraya.
" Aku tidak masalah. dan Aku rasa orangpun tidak masalah. Tetap disini bersamaku. ini perintah Nenek?!" kata nenek sambil tertawa.Laras menanggapi dengan senyum.
" iya nek, Insya Allah.."
" Nah gitu nenek jadi senang, Hadi kenapa kamu berdiri disitu seperti patung, " Kata nenek pada Hadi, yang memang sejak tadi hanya berdiri dekat pintu.
" Iya Nyonya,..." kata Hadi berlari mendekat.
" Telpon kerumah. siapkan kamar untuk cuci nenek dan telpon juga Sarah suruh sipakan pakaian untuk cuci nenek dan semua perlengkapan ya. emmm untuk pakaian suruh Sarah ke butik si Elma ya." papar nenek panjang lebar.
Laras hanya tersenyum saja.
Tiba- tiba handphone si nenek berdering keras.
" Hallo.."
" Semua sudah saya urus Bu"
" terimakasih. segera Kirim kemari ya"
" ok"
Sambungan telpon terputus.Si Nenek Soraya tampak tersenyum senang.
Tiga puluh menit kemudian datanglah seorang kurir menyerahkan sebuah amplop coklat dan langsung pamit pergi.
" Bukalah Hadi"
" Iya Nek" Jadi segerabuka amplop coklat tersebut dan mengangsurkanya pada Soraya.
Soraya tersenyum menerima benda tersebut, kemudian memberikannya pada Laras.
" Sekarang namamu Larasati Brata Wijaya cucu dari Soraya Brata Wijaya CEO dari perusahaan Wijaya Group." kata sang nenek mantap.
Laras terpaku ditempatnya. Wajahnya terlihat lucu sekali. Masih tak percaya dengan pendengarannya. Wijaya Group, tidak disangka dia sekarang ada dalam keluarga Wijaya yang konglomerat itu.
" Hey, cantik...kenapa bengong begitu, kemarilah BIL KTP mu ini, tadi kamu tinggalkan di bagian administrasi Rumah sakit ini"
" I...iya nek..., rasanya aku tak percaya, bertemu dengan...." Laras terdiam karena Sora memotong perkataanya
" Soraya Brata Wijaya..dan jadi cucunya"
Soraya tersenyum dan Laras pun ikut tersenyum dan menyimpan KTP nya kedalam dompet.
" Maaf ada perubahan di statusmu." Kata Soraya lagi.
" Tidak apa- apa Nek"