8. Suasana Baru

580 Words
" Bagaimana Hadi.." tanya Soraya saat Hadi memasuki ruangan tersebut. " Iya Nyonya sudah boleh pulang, saya sudah urus semua, sekarang tinggal beberes dan pulang." jawab Hadi. " Oh akhirnya....tiga hari disini serasa sebulan. " keluh Soraya. " Nenek bisa aja..." celetuk Laras. " Hemmmm Ras..mulai hari ini kamu harus biasakan memanggilku dengan sebutan Oma....jangan lupa ya..." " iya Nek...eh Oma.." Laras cengar- cengi sendiri. " Ayo bersiap, kita pulang sekarang..." " Ok..siap..Omaa" sambut Laras. Selesai bersiap mereka semua langsung meluncur menuju kerumah Soraya. Sepanjang perjalanan Laras memperhatikan jalanan. " Kamu serius sekali" tegur Soraya Laras menoleh kearah Soraya dan tersenyum. " Laras sudah lupa Oma, kapan terakhir kali Laras kesini." " jadi kamu ini adalah anak rumahan yang pernah kekota. Ga pernah jalan- jalan gitu" tanya Hadi penasaran. " Mungkin pak" jawab Laras sambil tertawa. Mereka asik ngobrol, sampai tidak sadar sudah sampai. Mobil masuk ke halaman sebuah rumah yang sangat megah dan besar. " Kita turun.." ajak Soraya. Begitu menjejakkan kaki ketanah, Laras terkagum- kagum melihat rumah yang megah dan besar. Taman yang indah penuh dengan bunga warna warni. Laras berlari kearah bunga- bunga tersebut. Soraya hanya tersenyum sambil menggeleng. " Tidak disangka seorang yang begitu kuat dan jagoan tapi suka bunga..." gumamnya sambil terkekeh. Kemudian berjalan menghampiri Laras. " Ayo Oma tunjukan kamarmu," " Eh..iya Oma.." Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Melewati ruang yang besar dan luas penuh dengan pajangan yang sangat mewah. Terus kelantai atas. Soraya membuka pintu, kemudian menarik Laras masuk kedalam kamar. " Ini kamar utama kedua dirumah ini. dan sekarang ini adalah Kamar kamu. Cucu Soraya Brata Wijaya." kata Oma dengan bangga. " Dengar mulai sekarang kamu harus merubah sikap dan nanti akan datang seorang guru kepribadian untukmu. Dan sudah saatnya kamu melanjutkan pendidikanmu. Sekarang istirahat, nanti kita ngobrol lagi" " Iya Oma.." Laras mengangguk pasrah. Laras celingukan . Mencari- cari sesuatu. Dan sepertinya Soraya paham apa yang dicari Laras. " Ada didalam lemari paling kiri. Dan didalam lemari lainya semua perlengkapanmu sudah disiapkan. simpan saja baju lamamu jangan dipakai lagi ya..." Jelas Soraya sambil tersenyum. Laras hanya tersipu malu. " Mandi dan istirahatlah...Oma juga mau tidur dulu sebentar" pamit Soraya sambil mengelus rambut Laras. " Laras tersenyum dan langsung menutup pintu. *** " Kira- kira kemana si Laras. bikin susah Saja. Bapaknya datang kesini marah - marah" keluh Anto pada Darwin dan Anti. " Halah..biarin aja tar juga pulang kalau sudah habis duitnya, emang mau jadi gembel dia.." " Tapi ini sudah empat hari mbak, dasar bikin susah saja" maki Anto. " Sudah diemin aja, Kalau kamu sok nyari dia..malah besar kepala nanti dia sok- sok dipentingkan..biarin aja..." kata Darwin menimpali pendapat istrinya. " Eh iya...malah sok kecakepan..kayak yang paling cakep saja..."kembali Anti memaki Laras. Bibinya sampai monyong kekanan dan kekiri mengekpresikan rasa ketidak sukaanya pada sang adik Ipar. Asyik mereka membicarakan tentang Laras. Datanglah tetangga mereka Imah. seorang Muslimah tapi doyan bergosip ria. " Eh Mbak Anti, lagi pada ngumpul. Dek Laras kemana ya..sudah beberapa tidak kelihatan." tanya kemudian. Mereka saling pandang dan memberi isyarat. " Oh..lagi ketempat kakak diserang. ada apa mbak.." Anto balik bertanya. " Oh tidak, tak kira kemana, biasanya duduk didepan ..kok ini beberapa hari tidak kelihatan" tambahnya. " Oh iya..dia mau jalan- jalan dulu jadi agak lama" kata Anti menambahi, sepertinya dia mulai agak khawatir karena Imah terlalu banyak tanya. " Ya sudah, saya pamit dulu mau mencuci baju ini" pamit Imah, kemudian berlalu. Mereka menghela napas bersamaan. " Iya " pekik Anti kemudian. "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD