1. Serba Salah

679 Words
Setelah Sholat magrib, aku berjalan kemeja makan untuk ikut makan bersama bapak dan ibu mertua serta suamiku. Perih hatiku, saat Adzan berkumandang, bukan mertua dan suamiku melaksanakan ibadah sholat magrib malah makan dengan asik dan mengobrol yang tak perlu. " Eh Dek, ayo makan sudah selesai silatnya " sapa suamiku " Sudah mas, " jawabku sambil tersenyum dan kemudian duduk disamping suamiku dan mulai menyendok nasi dan mengambil lauk. Baru saja aku mulai menyuapkan nasi kemulutku, ku dengar Bapak mertua berkomentar. " Bu, besok itu masak ikan atau ayam Gitu Lo.., " " Iya pak...memang kenapa to" jawab Ibu mertua. Aku hanya bisa diam dan menunduk sambil mengunyah makanan yang rasanya sulit sekali aku telan. " Ini Lo Bu, ..ini tumis, itu tumis, itu goreng,...mana to kuahnya, Bapak ini sudah susah makanya, giginya kan sudah ompong" " Ah Bapak, ompong kok minta ayam to..ini tahu sama tempe goreng kan empuk..." jawab Ibu mertua sambil tertawa. Suamiku pun iku tertawa. Aku mencoba untuk tersenyum tapi hatiku rasa perih dan sakit. Perkataan Bapak Mertua walau lembut tapi menusuk ke ulu hatiku. Setiap hari ada saja kesalahanku. Hari ini masak tumis, katanya tumis semua, kemaren masuk sayur berkuah, katanya semua pakai kuah. Rasanya aku ingin menangis menjerit sekuatnya untuk melepaskan semua beban dihatiku. Belum lagi jika Mertua membahas tentang lauk ikan atau ayam atau daging. Uang belanja dari Suami hanya cukup untuk beli sayur dan lauk tempe atau tahu. paling sesekali telur. " Dek, buatkan kopi ya dua, ada Mas Darwin didepan." kata suamiku. " Iya Mas," jawabku sambil mengelap meja makan. Setelah kopi siap aku bawa kedepan, ku letakan dimeja kecil diteras, lalu aku ikut bergabung bersama mereka. " Loh bikin kopi cuma dua, Mbak Anti juga mau Lo, emang gulanya habis" kata mas Darwin kakak iparku. " Ada mas..masih banyak, Tadi kata Mas Anto cuma minta dua, gak taubak Anti juga ada, sebentar aku bikinin " kelasku panjang lebar kemudian berlalu kedalam. Aku berusaha sekuat tenaga menahan perasaanku. Ku lihat suamiku begitu santainya mennggapi omongan pedas dari kedua kakak ipar. Seperti sudah biasa saja . Dianggap angin lalu. Ku letakan secangkir kopi dimeja. " Nah gitu donk baru namanya adik" Aku hanya bisa tersenyum getir. Mereka tampak asik ngobrol dan bercanda, tanpa menganggap ku ada. Akhirnya karena bosan aku meninggalkan mereka , berjalan menuju kamarku. Ku rebahkan tubuhku, semua rasa ini, rasa capek badan dan capek pikiran bercampur jadi satu. Kupejamkan mataku, mencoba meredakan pikiran yang berkecamuk. Ada rasa menyesal, tapi bagaimanapun ini adalah pilihanku. Pikiranku melayang ke keluarga yang aku tinggalkan diseberang pulau. Tak terasa air mata merembes keluar dari sudut mataku. Aku terkejut ketika pintu dibuka. Sepertinya suamiku curiga kenapa aku tidak keluar lagi. Beruntung aku menghadap ke tembok, jadi dia tidak tau kalau aku menangis. Dia kembali menutup pintu dan aku tidak tau lagi apa yang dia lakukan, dan kapan dia kembali masuk kekamar, karena akupun langsung tertidur karena capek. *** Aku terbangun saat mendengar suara adzan subuh. Segera aku bangun bergegas kekamar mandi dan segera menunaikan sholat Subuh. Sejenak mengadukan keluh kesah ku pada Tuhan Yang Maha Esa. " Dasar mantu tidak tau diri, jam segini belum bangun, aku saja sudah beresan. sudah selesai masak dan mau berolahraga " Terdengar suara Mbak Anti " Mau olahraga dimana, Darwin ikut " tanya mertuaku. " Jalan sekitar sini saja Bu,...Ibu mau ikut." tanyanya " Enggaklah, Ibu mau siapkan masakan untuk Bapakmu, semalam dia pergi kerumah Kakakmu terus pulang bawa ayam" kata Ibu mertua sambil mengeluarkan ayam dari kulkas. " Wah kalau gitu nanti aku minta ya Bu buat anak- anak" " Ya iya to masak cucu gak dibagi" kata Ibu. " Selamat pagi Mbak, mau kemana pagi begini " tanyaku dengan sopan. " Pagi kamu bilang,..ini sudah siang ..lihat langit ditimur sudah merah..masih dibilang pagi, dasar pemalas" makinya. " Iya mbak" jawabku langsung masuk kedapur menyibukan diri dengan cucian piring diwastafel. Padahal jam baru menunjukan jam 5.15 menit. Tapi dengan santainya Mbak Anti memakiku kesiangan. Dan seperti biasa setiap pagi kemari hanya untuk minum kopi. dan yang pasti memaki aku semuanya. ' Ya Allah aku capek..' keluh batinku...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD