Selesai dengan cucian piring, aku berjalan kearah kulkas. Kubuka kulkas tapi malang sekali tak ada sedikitpun bahan makanan tersimpan. Begitu juga dengan bumbu- bumbu dapur.
Aku menghela napas perlahan. Denging dari teko air mendidih mengamgetkanku. Segera ku Seduh kopi dan teh, kemudian aku hidangkan dimeja makan. Aku berjalan hendak membangunkan suamiku. karena hari ini, barang pesanan pelanggan akan diambil.
Aku melangkah kekamar untuk membangunkan suamiku.
" Mas bangun sudah hampir terbit matahari, sholat dulu" kataku.
" Ah belum siap aku dek" katanya sambil menggeliat tapi akhirnya bangun dan langsung duduk dimeja makan.
" Cuci muka dulu mas.."
" Anto itu kalau pagi- pagi cuci muka langsung jerawatan. Gimana to kamu ini, kok gak paham- paham" sergah Ibu mertua dengan agak ketus.
" Eh iya Bu maaf lupa"
Aku hanya pasrah. Apapun jika menyinggung tentang mas Anto dan itu bukan kebiasaanya pasti Ibu mertua langsung membelanya.
Impianku adalah punya suami seorang ahli ibadah supaya bisa menuntunku, tapi apalah dayaku yang kudapat tidak sesuai dengan yang ku inginkan. Apalagi keluarganya sama sekali tidak mengerti tentang agama. Dan masih sangat mempercayai adat- adat kejawen yang berbau mistik.
" Ras, bumbu habis ya, " suara Ibu mengagetkanku
" Iya Bu, kmaren lupa gak sempet beli" jawabku.
" Ya sudah kamu kepasar sana belanja tu jangan nanggung sekalian beli untuk stok, biar gak bolak balik "
" Iya Bu" Aku menjawab pasrah. Ibu mertua berkata seolah aku ini adalah orang yang pelit. Padahal pengeluaranku jauh lebih besar ketimbang pendapatanku. Aku segera berjalan kedepan, sambil membawa tas belanjaan.
" Mau kemana dek" tanya mas Anto
" Kepasar mas, bumbu habis,.."
" Oh ya sudah, hati- hati"
Ke jalankan motor perlahan. Beruntung aku adalah seorang wanita mandiri , jadi tidak merepotka suamiku yang notabene bekerja dirumah sebagai pembuat perabot kayu.
Sesampai dipasar aku termenung diparkiran. Aku bingung, uangku tinggal tersisa seratus lima puluh ribu. Dan pasti jika ku belanjakan dengan untuk semua resiko dapur pasti kurang dan pasti hanya dapat sebagian kecil.
Lama sekali aku terdiam, jika aku belanja kurang pasti mertuaku akan bersuara pedas dan mengadu ke kakak- kakak iparku, dan pasti mereka akan segera memakiku pelit dan menceramahi ku. Yang pastinya tidak penting bagiku.
Akhirnya kuputuskan untuk ke toko emas didepan parkiran, aku lepas cincinku dan segera kujual.
" Alhamdulillah, bisa buat stok sampai ada perabot yang laku." batinku.
Aku segera belanja dan bergegas pulang. Takut mertua bersuara pedas lagi. dan pasti itu akan membuat telingaku panas.
Sesampai dirumah segera kubawa belanjaan masuk. ku taruh dimeja dapur.
Aku segera menyimpan dompetku kekamar dan kembali lagi kedapur.
Sampai didapur aku kaget karena mbak Anti sudah membongkar semua belanjaanku dan juga Ibu mertua duduk dikursi dapur beserta bapak Mertua yang sedang minum kopi sambil makan gorengan. Itulah kebiasaanya.
" Wah dek Laras lagi banyak duit ya, ih beljaanya banyak banget." Katanya girang sambil menjajar semua belanjaanku
" Enggak Mbx. cuma sengaja belanja buat stok." jawabku.
" Ih kalau gitu aku ambil sedikit DECH, soalnya bumbuku habis belum sempet belanja." Katanya sambil mengambil plastik dan memasukan barang yang dia mau.
" Loh mbax..."
" Eh mbxmu itu cuma minta sedikit, pelit banget, jangan perhitungan sama sodara" Ketus Bapak Mertua.
" Tapi itu..." kembali perkataanku dipotong oleh ibu Mertua.
" Ya ampun Laras, kamu ini kan nanti ada yang ambil barang, dapat duit bisa belanja lagi. Kan Mas sama mbakmu lagi sepi pelanggan".
Aku tak membantah lagi dan langsung ke kulkas untuk mengambil ayam dan mencucinya diwastafel. Mataku terasa panas, sekuat tenaga aku menahan air mata ini supaya tidak keluar.
' Apa aku harus begini terus aku Lelah dengan semua ini, sampai kapan aku bertahan ya Allah....' batinku menangis.
untung aku membelakangi mereka, jadi mereka tidak melihat mataku yang sudah berkaca- kaca.
Aku mengerjapkan mata beberapa supaya air mataku tidak jatuh. Dan melanjutkan memasak tanpa memperdulikan mereka yang masih terus berkata- kata yang membuat aku jengah.