3. Dianggap tidak ada

581 Words
Setelah semua masakan selesai, Laras menghidangkan di meja makan, dan langsung membereskan rumah, Selesai semua langsung mengemasi pakaian kotor dan membawa kebelakang untuk dicuci. Saat sedang asyik mencuci terdengar suara ramai didalam rumah. Sudah bisa dipastikan itu adalah Mbak Anti dan yang lain. Aku melamun sambil mengucek pakaian. " Dek..." Laras berjingkat sambil menoleh kesamping. " Eh Mbak Imah, ada apa" jawab Laras nyengir. " Aku panggil beberapa kali tidak dengar...ada apa, kenapa melamun sambil mencuci? " Tanya Mbx Imah tetanggaku. " ah tidak mbak, hanya saja lagi kangen Ibu" jawabku berbohong. " Sudah ditlpn belum" " Sudah Mbx tadi" jawabku berbohong lagi. " Itu ramai banget ada siapa dek" tanya Mbx Imah lagi. " Mbx Anti sama suami dan anaknya, lagi sarapan bareng." " Lah emang gak masak apa ya, " tanya Mbx Imah penasaran. " Tidak tahu mbak, cuma aku lagi masak ayam dari mas Dadang semalam, bapak yang bawa" " Oh pantesan, kaya kucing aja ya..bau makanan enak langsung ngumpul" Mbak Imah tertawa. Dan Laras pun ikut tertawa. " Ah mbx Imah ada aja, biarinlah, kan anak cucu" timpal Laras sambil tersenyum pasrah. " Eh ya sudah aku duluan ya dek, mau ada acar ini" pamit Mbx Imah. " Iya Mbak." Hati Laras sangat bersedih. mereka asyik sarapan tanpa mengajak Laras. padahal tinggal makan Laras yang sudah memasak semuanya. ' Perih rasanya dianggap tidak ada,' batin Laras. Selesai menjemur baju, Laras masuk kedalam rumah, sengaja dia masuk lewat pintu depan dan langsung kekamar. Dia malas bertemu dengan mereka pasti hanya akan menambah sakit telinga dan perasaanya karena hinaan dan kata pedas mereka. " Laras kemana Bu" tanya Anto " Tidak tau tadi sih nyuci, gak sekarang kemana" Jawab Bu Minah cuek. " Sudah sarapan belum" " Alah paling juga sudah dek, lihat aja masak enak begini, secara dia kan pelit tiap hari sayur melulu" sergah Mbx Anti. " Ya Sudah kalau begitu aku lanjut kerja" pamit Anto dan langsung keluar. Laras kembali meneteskan air mata mendengar percakapan barusan. ' Betapa kamu mas, hanya mendengarkan kata mereka, tak pernah menanyakan ya padaku, kenapa engkau seolah tidak perduli padaku." Isak Laras. Dia melangkah keluar setelah semua pergi.Suasana sepi hanya tertinggal meja makan yang berantakan dan setumpuk piring kotor di wastafel. Laras mengambil piring dan menyendok nasi, ' makan dulu sebelum beres- beres yang kedua pagi ini' batinya. Laras menghela napas panjang, saat hendak mengambil lauk, tak tersisa sepotong pun. hanya tinggal kuah dan tumis sayur yang masih banyak. Dia hanya tersenyum dan mengambil sayur, kemudian sarapan. dilanjut membereskan kembali meja makan dan dapur. *** " Kapan ini diambil to" tanya Pak Parto. " Sore pak,..kenapa" tanya Parto. " Tidak apa- apa, dicek saja takutnya ada yang cacat. Bapak mau pergi dulu. " " Iya Pak" jawab Anto sambil kembali ngecek barang dagangannya. " Mas..." Panggi Laras. " Eh dek, ada apa, dari mana kamu?" tanya nya kemudian. " Baru selesai nyuci dan membereskan bekas mereka sarapan tadi. Ini kopinya." jawabku pelan. " Oh ya " Kemudian dia duduk dan menerima kopinya. " Eh tunggu" katanya sambil Menarik tangan Laras. " Cincinmu kemana dek!?" tanya nya agak kaget. Laras tampak kebingungan harus jawab bagaimana. " Eh itu...aku simpan mas, tadikan mencuci takut lepas, soalnya agak kebesaran kan" akhirnya Laras berbohong. " Oh ya sudah, aku kira kemana" kata Anto sambil menyeruput kopinya. ' Maafkan aku mas telah membohongimu' batin Laras sambil berlalu kembali masuk kedalam rumah. Rasanya dia sangat bersalah pada suaminya, tapi mau bagaimana lagi. Uangnya tidak cukup untuk belanja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD