4. Aku kecewa padamu

717 Words
Sesuai janji sore ini pembeli datang dengan membawa mobil bak untuk mengangkut seperangkat kursi kayu ukir produksi dari furniture Anto " Silahkan Pak, " sambut Anto ramah. " Terimakasih Pak Anto, wow..bagus sekali, saya sangat puas. " " Syukurlah pak...ini silahkan notanya" kata Anto sambil menyerahkan nota pembeliannya. " Ok terimakasih dan ini uangnya dihitung dulu." kata pelanggan tersebut sambil menyerahkan uangnya. " Tidak usah pak, saya percaya dengan Bapak." sahut Anto sambil masih tetap tersenyum. Laras memperhatikan dari teras rumahnya. Tak lama semua barang sudah naik ke mobil dan mereka berpamitan. Laras pun masuk kedalam kamarnya menunggu untuk Anto pulang dengan membawa uang hasil penjualan satu set kursi ukir. Lama dinanti tak kunjung datang akhirnya Laras memutuskan untuk mengambil air wudhu karena sudah terdengar suara adzan magrib. Sampai habis Isya, Anto belum juga masuk kerumah, terlihat masih asik mengobrol didalam gudang tempat pembuatan furniture. Karena kesal menunggu Laras berinisiatif menyusul Anto ke gudang. Begitu sampai digudang Laras terperanjat kaget melihat apa yang terjadi didepanya. " Masss....." pekiknya Mereka kaget karena teriakan Laras. Tampak Anti mencebik cebikan bibirnya karena jengkel. " Biasa ajah kenapa sih...kayak gak pernah lihat aja..." cibirnya. " Apa...biasa...ini sudah tidak biasa mbx...ini barang haram...kelewatan kamu mas..aku kecewa sama kamu" Isak Laras sambil berlari kearah rumah. " Huh sok suci, urus istrimu itu, urus dia Anto jangan kebanyakan lebay" " Iya Bang.." jawab Anto sambil berlalu. Bapak dan Ibu mertuanya kaget melihat Laras berlari melewati mereka tanpa menyapa dan langsung masuk kekamar dan menutup pintu. "Ada apa dengan bocah itu buk..." tanya Pak Parto. " Tidak tau pak...biarin saja.." sahut Bu Minah, sambil menyeruput kopinya. Tak lama setelahnya, Anto masuk kerumah menyusul Laras. " Ada apa sih..kenapa istrimu lari kayak dikejar - kejar anjing. " tanya Minah. " Ah biasanya Bu..." jawab Anto sambil mengibaskan tanganya. " Bau alkohol kamu" Pekik Bu Minah " Makanya dia marah" seringai Anto. "uh kamu.." Bentak Bu Minah bukan karena membela Laras, tapi karena dia juga kesal melihat Anto kembali mengenal alkohol. " Jangan kebablasan " bentak pak Parto sama kesalnya dengan Minah. " Iya..." jawab Anto lalu masuk kedalam kamar. Suara derit pintu membuat Laras mengangkat kepalanya. Wajahnya bersimbah air mata. " Aku cuma minum sedikit..Bang Darwin yang ngajak." katanya kemudian. " Sedikit kamu bilang mas, sedikit atau banyak...sama saja itu haram" teriak Laras. " Emang kenapa, dulu aku juga minum, bukanya sekarang minum sedikit juga enggak mabuk." timpalnya dengan santai. " Tetap saja aku tidak suka. dan itu dimurkai Allah.....dan..." Plaaaakkk.... Belum selesai Laras berbicara Anto lebih dulu menamparnya. " Kamu...menamparku Mas" kata Laras sambil memegangi pipinya yang perih tapi lebih perih rasa dihatinya. " Banyak mulut kamu" kata Anto santai. " Apa Mas, enak sekali kamu berkata begitu..." suara Laras bergetar karena menahan emosinya. " Ah kamu begitu, karena gak mau jatah uang buat kamu berkurang kan..." " Apa maksudmu Mas..." tanya Laras dengan masih menahan emosinya yang meledak ledak. " Mbak Anti bilang, kamu itu pelit, belanja sedikit, takut mbak Anti ambil, Mbak Anti sekeluarga makan disini pun kamu tak suka. mereka juga keluargaku, bahkan jauh sebelum kamu. " Kata Anto sama emosinya sambil menunjuk wajah Laras. " Kamu..ini entah yang keberapa kali kamu dengar kata mereka, dan sekarang kamu pun mulai sering minum barang haram itu, apa yang kamu mau mas..." bantah Laras tak kalah sengit. " Terbalik, harusnya aku yang tanya mau kamu apa...tapi aku sudah tau apa mau kamu" balas Anto. " Oh ya..apa mauku mas kalau kamu tau..." teriak Laras kembali. " Nih...ini mau kamu uang kan...dan kamu inginkan utuh tak kurang sepeserpun...tapi maaf...aku ambil untuk kesenangan, dan sebagian aku beri Untuk Bang Darwin dan keluarganya.." bentak Anto sambil melemparkan uang sisanya ke wajah Laras. Laras tersentak mendengar semua kata- kata yang keluar dari Anto dan juga sikap kasarnya yang kesekian kalinya. " Cukup Mas...cukup...aku sudah cukup bersabar. Dan mungkin sekarang batas dari kesabaran ku. Aku tidak terima dan aku minta cerai." teriak Laras sambil menyambar kopernya dan memasukan baju- bajunya kedalam koper. Anto tercekat, dia tidak menyangka kalau Laras akan mengucapkan kata cerai. Tapi dia tak mau kalah. " Ingat sekali kamu keluar dari rumah ini jangan mengharap kamu bisa kembali lagi kesini." Ancam Anto dengan angkuhnya. " Masa bodo...aku sudah capek Mas...capek dengan sikap kamu, sikap keluargamu dan sikap para ipar..aku capek.." sentak Laras sambil keluar menarik kopernya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD