5. Pelampiasan

822 Words
Laras keluar kamar sambil menyeret kopernya dan berpapasan dengan kedua mertuanya di teras depan. Mereka agak kaget juga melihat Laras menyeret kopernya. " Mau kemana kamu Laras bawa- bawa koper segala" tanya Bu Minah. " Aku mau pergi, Aku sudah capek dengan semua ini Bu, gak sekali dua kali,...tetap seperti itu tidak mau berubah." " Alah kamu aja pakai- pakai perasaan" sahut Bu Minah kembali. " Apa maksudnya Ibu, terus kalau tidak pakai perasaan pakai apa Bu...pakai otot..iya.." teriak Laras. " Laras jaga mulut kamu, berteriak tidak tahu aturan" bentak Pak parto. " Pak ..sebelum mengajari saya aturan, ajari anak bapak itu aturan, biar dia paham aturan...." teriak Laras tak mau kalah. " Kamu...benar- benar kurang ajar, kami ini mertuamu, main bentak saja" " Maaf pak, saya ralat perkataanmu...calon mantan mertua, permisi" Kata Laras dengan sinis, dan segera berpamitan karena Anto sudah sampai diambang pintu depan. " Laras....Laras...lihat saja kamu...." ancamnya setengah berteriak. Namun Laras tak perduli. Dia terus melangkah dengan setengah berlari meninggalkan halaman rumah tersebut dan menyetop angkot yang menuju kota. * " Ada apa" tampak Anti dan Darwin tergopoh- gopoh lari kearah rumah Parto saat mendengar terjadi keributan. Maklum rumah mereka hanya terpisah halaman dan saling berhadapan. jadi ada teriakan sedikit pasti terdengar. " Laras pergi dan menuntut cerai dari Anto" jelas Parto. "Huh biarin aja, sok bisa....paling juga besok datang kembali kemari menyembah - nyembah minta balikan..biarin aja Anto." kata Anti sarkas. " Benar banget..bisa apa dia...." tambah Darwin. " Uangnya kamu kasih dia semua To" tanya Minah kwatir. " Aku berikan tapi tidak diambil. Ini.." jawab Anto sambil menyerahkan uang kepada Ibunya. " Untung tidak diambil, biarin tau rasa dia, jadi gembel dijalan. lihat saja besok pasti balik kesini, atau paling pulang kerumah Bapaknya" " Aduh kalau dia ngadu macam- macam sama bapak mertua, bagaimana pak" kata Anto terlihat sangat kwatir. " Biar Bapak yang urus, anak tidak tahu aturan, tidak sopan santun, biarkan saja. tidak usah diurus, sana masuk semua..." Kata Parto pada semuanya, menyuruh mereka semua masuk kerumah karena tetangga sepertinya mulai memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sudah pasti besok akan menjadi berita utama gosip para Ibu-ibu komplek Mawar. * Sampai dijantung kota, didepan sebuah Pertokoan besar, Laras turun dari angkot. Kemudian duduk dihalte depan komplek pertokoan tersebut. Tak jauh dari halte tersebut berhenti sebuah mobil sedan warna hitam. Seorang nenek- nenek keluar sambil menenteng tas. Detik berikutnya terjadi teriakan yang membuat Laras kaget. " Diam semua ditempat, kalau ada yang bergerak maka nenek ini akan mati.." teriak penjahat bertopeng itu. Ada empat orang. Semua orang diam tercekat ..tak terkecuali security pun tidak berani beranjak dari tempatnya. Mereka hanya berkerumun menjauh dari mereka. " Cepat serahkan semua uang dan barang berharga kepada kami, " ancamnya pada nenek tua itu. Sopirnya membeku ditempat karena ikut diancam. " I..iya...akan saya serahkan, kata nenek tua itu tergagap karena panik. Laras berjalan mendekat. ' Empat orang, lumayan buat pelampiasan kemarahanku' batin Laras. Dia menyeret kopernya dan berhenti tak jauh dari nenek disandra. " Heh mau ngapain lue.." teriak salah satu dari penyandera tersebut. " Duduk.." jawab Laras santai sambil duduk diatas kopernya. " Pergi lue, kalau masaih sayang nyawa" Bentak orang yang memakai jake kulit. " Kalau aku tidak mau, bagaimana.." tanya Laras dengan masih santai. " Banyak lagak, Dul..habisin dia" teriak orang yang menyandera si nenek. " Rasakan ini..." teriak orang yang berjaket kulit sambil melayangkan tinjunya kearah Laras. Namun denga gesit Laras menghindar dan balik menyerang kearah orang berjaket kulit itu. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua,Ternyata bukan lawan yang berarti bagi Laras. Terbukti dengan dua kali pukulan lawanya terjungkal. " Heh lue kenapa diam, bantu si Dul" teriak penjahat yang menyandera si nenek. Laras tetap tampak tenang menghadapi serangan itu. Kemarahan agak tersalurkan. Dan sekali orang tersebut terjungkal menyusul temanya. " Lepaskan.." Kata Laras santai. Hanya tersisa dua orang yang menyandera si nenek dan sopir. Si nenek tampak sudah pias saking takutnya. " Berani lue maju, nenek ini akan mati " gertak penjahat tersebut. " Ok..." sahut Laras santai. Matanya melirik pada seorang pengunjung pertokoan yang memegang dua buah botol minuman yang baru dia beli. Dia berjalan mendekatinya kemudian menoleh kembali ke penjahat penyandera." Lepaskan..." perintahnya kembali. " Bego lue...lue kira lue siapa..pergi atau gue bunuh nenek ini.." ancamnya lagi. Tapi belum selesai dia berbicara, Laras menyambar dua botol minuman dan melemparkan kearah kepala dua orang penyandera itu. Dan tepat sasaran. Dua orang itu berteriak dan pisau terpental dari tangan mereka. Secepat mungkin Laras berlari dan mengamankan si nenek dan sopirnya. Seketika dua orang penjahat menyambar dua temenya yang tak telah tak berdaya dan berlari meninggalkan tempat tersebut. Terdengar tepukan tangan meriah. Laras hanya tersenyum dan menatap sinenek, tapi tak disangka ternyata nenek tersebut langsung terjatuh kearah Laras dan pingsan.. " Nenek.." Jerit Laras panik... " mbx, tolong bantu saya bawa kerumah sakit.." kata sopir.. " I..iya..." Dengan cekatan Laras membantu sang sopir. Dibantu dengan pengunjung yang lain. Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD