Laras melangkah menuju pintu gerbang menghampiri mobil jemputan yang sudah standby didepan pintu gerbang. Segera Laras bergegas masuk kemobil. Dia tampak risih dengan berpasang- pasang mata yang memperhatikan sejak tadi.
" Selamat siang Non.."
" Siang pak..langsung pulang ya.."
" Baik Non.."
Laras bersandar dan memejamkan matanya. Tak lama dia terlelap karena lelah setelah seharian beraktifitas dikampus.
" Non sudah sampai..." kata sang supir mengagetkan Laras yang masih terlelap.
" Masa pak...kan baru naik tadi..kok udah nyampe aja..." Laras kebingungan.
" Kan Non naik langsung tidur..sudah setengah jam Non..." kata sopir sambil tersenyum sopan.
" Ya Sudah..terimakasih pak.." Laras segera turun dan masuk kedalam rumah.
Laras celingukan saat memasuki ruang tengah. Pasalnya rumah sangat sepi. ' pada kemana ya' batin Laras.
" Selamat sore..perkenalkan nama saya Sariyem..biasa dipanggil Sari, dan mulai sekarang saya adalah asisten Nona Muda...." teriak seorang wanita yang hampir sepantar dengan Laras usianya. suaranya cempreng dan begitu berisik membuat Laras terkejut bukan main.
Sambil mengatur nafas dan mengelus-elus dadanya karena kaget. Laras berusaha untuk tersenyum.
" Ya ampun..kamu ngagetin aku aja. kemana yang lain kok sepi..." tanya Laras.
" Nyonya besar sedang pergi. Tadi berpesan agar saya melayani Nona Muda dengan baik. Silahkan .." Sari mempersihkan Nona Mudanya dan meraih barang bawaan Laras.
Laras melangkah menuju tangga kearah kamarnya diikuti Sari.
" Emmm aku panggil kamu nama saja ya..sepertinya kita seumuran"
" Tepat sekali Nona.. penghujung tahun ini saya genap berusia dua puluh dua tahun. jadi tidak masalah Nona panggil saya Sari saja..." timpal Sari panjang lebar.
Laras hanya tertawa sambil mengusap telinganya. Karena suara Sari yang cempreng dan melengking menggema siisi ruangan.
' Duh bakalan rame hari - hari ku' batin Laras.
***
"Anto sampai kapan kamu mau duduk melamun seperti itu. Biarin aja perempuan tidak tau diri itu pergi, toh masih banyak perempuan lain." teriak Bu Minah saat melewati ruang tengah dan melihat Anto duduk termenung dan melamun pastinya.
" Sudah sana besok ikut kerja saja diproyek sama paman kamu, biar kamu tidak berlarut-larut seperti ini, kurang kerjaan saja" semprot Bu Minah lagi.
Anto hanya mengangguk lemah dan segera beranjak meninggalkan Ibunya yang masih mengomel terus.
Anto masih sangat sedih dengan peristiwa perceraian yang begitu cepat. Bagaimanapun dia masih mencintai Laras. Tapi dia terlalu mudah untuk dipengaruhi dan tidak punya pendirian.
Itu yang membuat Laras sangat benci. Tidak bisa melindungi istri saat dibully, dan tidak bisa bersikap tegas.
Karena itulah banyak sekali masalah dalam rumah tangga mereka dan yang pasti akibat dari masalah itu, Laraslah yang dikorbankan dan dipersalahkan.
Tapi apa boleh buat nasi sudahenjadi bubur. Menyesal selalu ada dibelakang dan tidak pernah muncul didepan. Dan sepertinya Anto sangat menyesal guyss.
Emang enak. Sakit hati dan menyesal.