" Dasar orang gila..baru bilang sudah nyerocos terus dimatiin" Maki Anti karena kesal.
" Siapa mah..." tanya Darwin.
" Tidak tau..tidak ada namanya sih.."
" bilang apa" tanya Anto lirih.
" Katanya suruh tanda tangan nanti ada yang ambil" jelas Anti.
Darwin, Parto, Minah begitu juga Imah yang berdiri tak jauh dari mereka tampak bengong, membeku ditempat.
Sedangkan Anto hanya diam ditempatnya. Ada rasa sedih menyesal tapi juga rasa yang dia sendiri bingung mengartikannya.
Tanganya gemetar memegang surat tersebut.
Minah tampak membeku. Sedari tadi dia berusaha menutupi, tapi ternyata dengan kejadian Imah jadi tau kalau mereka sekeluarga telah berbohong soal Laras yang pergi dari rumah.
***
Setelah semua urusan di Bagian administrasi, Laras segera menuju keruang kuliahnya.
Masih tampak mereka semua memperhatikan Laras. Dan saat ini lebih heboh lagi karena dia adalah anak salah satu konglomerat Yang ada diKota ini.
" Laras..."
Mendengar namanya dipanggil, Laras menoleh. Ternyata Mirza.
" Ya..." sahut Laras santai dan terlihat begitu anggun.
" Kita satu kelas,...dan ini kelas kita." kata Mirza sambil menunjuk kearah kelas.
" Kebetulan dan terimakasih bantuanya" Kata Laras datar dan segera melangkah masuk kedalam kelas.
" Assalamualaikum " Laras mengetuk pintu. Karena didalam sedang ada Dosen yang sedang mengajar.
" Walaikumsalam, " Jawab Mereka serempak.
"Maaf Pak ini mahasiswi baru" Kata Mirza mendahului Laras.
" Oh ya....kamu Mirza silahkan duduk dan kamu...silahkan perkenalkan diri" Perintah Dosen dengan tegas.
" Baik Bu.." segera Mirza melangkah ke tempat duduknya.
" Silahkan..." kata Dosen memberi ruang pada Laras.
" Hallo semua..." sapa Laras.
" Hai..." jawab mereka serentak.
Dengan santai tapi terlihat elegan dan anggun Laras berdiri didepan kelas tersebut.
" Saya Mahasiswi baru..pindahan dari Jakarta. Nama saya Larasati Brata Wijaya.Terimakasih."
Seperti terkena sihir. Seisi kelas tampak terdiam membeku ditempat. Nama Brata Wijaya sepertinya sangat berpengaruh.
Begitu juga dengan sang dosen tampak tertegun sejenak.
" Boleh saya duduk Bu..." tanya Laras. membuat Dosen tersebut sedikit kaget, karena tadi sempat bengong.
" Silahkan...Anda cari bangku kosong yang sekiranya nyaman" katanya kemudian.
" Terimakasih" dengan anggun Laras melangkah menuju bangku kosong yang ada di bagian samping kiri. Paling belakang tapi tidak masalah bagi Laras.
"Mari kita lanjutkan materinya. Dan Laras anda bisa meminjam catatan dari teman." Kata Dosen sepertinya sedikit menaruh hormat pada Laras. tidak seperti sewaktu Laras masuk, rada datar dan cuek.
" Sangat mengagumkan Kekuatan dari Brata Wijaya...lumayanlah.. dinikmati saja.." gumam Laras sambil berusaha menyesuaikan mengikuti materi dari Dosen.
" Lihat Bu Desi, biasanya galak dan cuek, apalagi kalau ada yang terlambat, sekarang sukurin dia.." cibir mahasiswi yang ada disamping Laras. Walaupun Lirih tapi terdengar jelas ditelinga Laras
" Manapun dia akan melakukan hal seperti biasanya, itu namanya cari mati" timpal teman sebangku yang lain.
" Secara Brata Wijaya donatur tetap disini" bisik satu lagi.
" Oh begitu.." batin Laras. pantas dari tadi dia sangat dihormati dan disegani. juga Oleh guru yang tadinya galak dan cuek.
Tampak keempat Mahasiswi terkikik, karena obrolan mereka barusan.
" Hei kalian mau ngobrol atau dengarkan materi dari saya. kalau mau ngobrol silahkan keluar saja" teriak Bu Desi kencang.
" Baik Bu" Sontak keempatnya langsung memperbaiki posisi masing-masing.Laras hanya tersenyum melihatnya.