" Gara- gara mantu geblek tidak tau diri, aku harus begini. lagian kemana dia seperti hilang ditelan bumi" omel Minah.Dia terlihat sangat jengkel sekali membersihkan halaman samping rumah bekas pekerjaan tukang kayu.
" Eh Bu Minah, kok bersihin sendirian, Dek Laras belum pulang to dari jalan- jalanya" Tanya Imah tetangga sebelah.
Minah nampak kaget mendengar pertanyaan Imah. Sebisa mungkin dia menguasai diri.
" Iya Dek Imah. biarinlah dirumah dia kan capek, semenjak menikah hanya mengurusi masalah dapur terus, beresin rumah."
" Iya Bu, tapi kok sendirian ya, dek Antonya enggak ikut" tanya Imah mulai kepo.
Minah kebingungan bagaimana harus menjawab pertanyaan Imah. Dia takut ketahuan.
Belum sempat dia menjawab, Sebuah sepeda motor berhenti didepan rumah
" Posss....posss" teriak pengemudi tersebut.
" Pos apa ya Mas" tanya Imah.
" Untuk Bapak Anto" jawab Tukang pos.
" Oh untuk dek Anto Bu..." kata Imah seraya mengambil amplop tersebut dan membaca tulisan pengirimnya. Sementara Minah masih berdiri terpaku.
" Pengadilan Agama!?" pekik Imah.
" Tanda tangan Bu.."
Minah yang masih shock mendengar apa yang baru saja dibaca Imah, dengan gemetar menerima resi dan menandatanganinya.
" Permisi" pamit tukang Pos dan segera pergi.
" Ada apa...ada tamu siapa?" tanya Parto yang baru keluar dari dalam rumah, saat mendengar suara gaduh.
Imah segera menyodorkan amplop coklat yang tadi diterima dari tukang pos.
" Untuk dek Anto pak" jelasnya.
Parto menerima amplop tersebut. Dan membaca pengirimnya. Kaget juga sepertinya.Sementara Minah sudah beralih duduk dibangku teras, karena masih shock.
" Saya mau lanjut jemur baju pak, Bu" pamit Imah karena merasa tak enak. Walaupun dia belum paham dengan apa yang terjadi. Memilih menyelesaikan pekerjaannya. Walaupun begitu dia pasti masih bisa sangat jelas mendengar dan bisa nimbrung ngobrol.
Karena jarak rumah kami hanya empat meter dari teras ke teras.
Tampak Anto bersama Darwin dan istrinya berjalan menuju teras. Mereka baru saja menyelesaikan finishing salah satu barang pesanan. Dan seperti biasa Anto yang jadi satpam.
"Ada apa pak.." tanya Anto penasaran melihat ibunya bersandar pada kursi nampak sedikit panik dan Parto memegang amplop coklat ditangannya.
Tanpa berkata Parto menyerahkan amplop tersebut pada Anto. Anti dan Darwin yang kepo ikut melihat.
" Pengadilan Agama," teriak Darwin dan istrinya bersamaan. Tapi Anto hanya diam dan langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dan membacanya.
" Apa aku tidak salah..." pekik Anti sambil menutup mulutnya.
Darwin tampak sedikit kaget. Anto langsung terduduk lemas dikursi teras.
Anti mengambil alih surat tersebut dan membacanya dengan seksama.
" Apa isinya Anti" tanya Parto karena melihat tingkah mereka bertiga yang tidak biasa.
" Surat cerai dari pengadilan pak" jawab Anti hati- hati.
" Dasar anak tidak tau diri, pergi dari rumah malah mengirim surat cerai. Mau menunjukan kalau dia itu pintar " teriak Parto emosi.
" Apa mbak Anti dek Laras menuntut cerai" Tanya Imah yang sedari tadi hanya menyimak sambil menjemur baju diujung terasnya.
Bukan cuma menuntut mbak, ini surat cerai, Tinggal Anto tanda tangan sudah sah.
Tiba- tiba telepon Anto berdering.
" Siapa to.."
" No tidak dikenal"
" Sini aku yang angkat" kata Anti sambil menyambar handphone dan mendial tombol terima.
" Hallo"
" Segera tanda tangani dan orang saya akan mengambilnya nanti"
Begitu selesai bicara penelpon langsung mematikan sambungan teleponnya. Membuat Anti memaki- maki.