Sudah beberapa hari Laras tinggal bersama Soraya. Segala aktifitas yang sangat jauh berbeda. Disini dia diperlakukan bak seorang Putri Keraton. Selalu disibukkan dengan berbagai aktifitas.
Mulai dari pendidikan kepribadian, kursus bahasa asing, dan lain sebagainya. Dan yang paling membuat Laras merasa tertantang adalah bangku kuliah. Yah dia kembali belajar lagi.
Menjadi seorang mahasiswa. Sesuai impian ya. Dan bonusnya dia menjadi mahasiswa tajir, dan modis, ditambah lagi wajah yang cantik.
Walaupun sudah menikah, tapi usia Laras baru dua puluh tahun. Itupun belum genap dan masih kurang beberapa bulan.
" Semangat Laras....harus semangat " Laras mensugesti dirinya sendiri.
" Semangat Non..." timpal sang sopir ikut menyemangati.
" Makasih pak...oh belum kenalan, siapa nama bapak.." tanya Laras pada sopir barunya. Sengaja Soraya memberi Laras satu sopir pribadi. Supaya memudahkan setiap aktifitasnya. Karena Laras juga belum bisa menyetir.
" Nama saya Boy...Non..."
" Boy....." belum selesai perkataan Laras sudah dipotong oleh sopir sambil terkekeh.
" Boymen..hahaha"
Laras ikut tertawa mendengarkan.
" Bisa aja si bapak...terus saya harus panggil apa..Boy atau Men"
" Boy donk Non...keren dikit gitu..." kata Sopir.
" Ok...ok..." Laras terkekeh geli mendengar kekonyolan sopirnya tersebut.
" Pak nanti ajarin nyetir ya.." pinta Laras setelah reda tawanya.
" Asiaaapppp..."
" Ih si bapak..." kembali Laras terkekeh oleh ulah sopirnya.
" Kita sudah sampai di lobby Non...silahkan".
" Terimakasih pak...saya turun dulu ya.."
" asiaaapppp..nanti telepon saja Non....saya miscall dulu..."
" Ok..." kata Laras sambil menutup pintu mobilnya.
Begitu menjejakkan kaki di lobby Kampus, Laras sudah sangat risih dengan pandangan mahasiswa yang tengah ada di lobby.
Mereka berbisik- bisik membicarakan Laras. tapi dia tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan memasuki area kampus. Sampai ada seseorang yang menegurnya.
"Apakah anda mahasiswa baru..ada yang bisa saya bantu". tanya orang tersebut.
Laras berhenti dan berpaling pada orang tersebut. Kemudian tersenyum.
" Anjirrrr senyumnya mautt bro..." teriak salah satu diantara mereka.
" Bisa diabetes gua kalau begini" sahut yang lain.
Laras tak perduli. Berusaha seanggun mungkin. ingat pendidikan kepribadian dirumah barunya.
" Iya benar. saya Mahasiswi baru" katanya kemudian.
" Kebetulan saya Asisten dosen disini. Siapa nama anda, dan jurusan apa, nanti akan saya antar." kata orang tersebut dengan sopan.
' Tampan juga, sopan lagi ' batin Laras. Baru dia akan menjawab, dikejutkan dengan suara teriakan nyaring dari seorang perempuan.
" Helloooooooo.....haiii....ada gwe...jangan lirik cewek lain.." kata perempuan itu dan langsung nempel dan memegang erat lengan si penanya tadi.
" Apaan lue Nad...lepasin...tangan gue" kata Mirza risih. Yah Asisten dosen tersebut bernama Mirza, mahluk paling keren, paling kece dan paling ganteng, sehingga selalu diperebutkan oleh para mahasiswi.
Laras tersenyum geli melihatnya. Dengan anggun dia berjalan meninggalkan mereka yang masih saling berdebat. Dan beberapa yang lain tampak menggunjing mereka.
" Ngapain sih lue pada pergi sana.." usir si cewek tersebut.
" Ih apaan sih..." sahut mereka dan langsung pergi.
Begitu Nadya lengah, Mirza melepaskan diri dan mengejar Laras. Dan pasti si Nadya dan beberapa temenya ikut mengekor.
" Eh tadi pertanyaanku belum dijawab" katanya lagi.
Laras berhenti menoleh kearah mereka dan menyebutkan namanya.
" Larasati Brata Wijaya jurusan Bisnis manajemen"
" Haaaa...." mereka yang dibelakang Mirza bengong. Dan Nadya agak terkejut juga.
" Tajir melintir broo..." celoteh mereka.
" Bukan levelnya kita..." timpal yang lain.
Mirza terdiam sejenak. Kaget juga mengetahui bahwa yang berdiri didepanya adalah keluarga Brata Wijaya. Tempat ayahnya bekerja sebagai sopir. Hadi adalah ayah dari Mirza.
" Mari saya antar..." katanya mempersilahkan dengan sopan. Bagaimanapun Laras adalah keluarga majikan ayahnya.
" Terimakasih" sahut Laras pendek dan terus melangkah. Mirza mensejajari langkahnya.
Sementara Nadya bersungut-sungut kesal dan menghentak- hentakan kakinya.
" Awas Lo ya...." gumamnya.
" Ih dikacangin.." sorak dari temen- temen Mirza.
" Iiihhhhh...." Nadya mengangkat tasnya hendak memukulkan kearah mereka.
" Kaburrrrrr....." teriak mereka sambil berlari meninggalkan Nadya yang masih setia dengan kemarahan dan kejengkelannya.