8. MAKHLUK TUHAN PALING GANJEN

1421 Words
Aku menghampiri meja Papa setelah Andrew tidak ada lagi di sekitarku. "Lagi apa, Pa? Sibuk ya?" tanyaku sopan. "Oh, nggak terlalu. Papa sedang memeriksa laporan keuangan dari manajer keuangan. Setelah perkenalan nanti, papa akan mengajari kamu," ujar Papa tanpa berpaling dari dokumen di hadapannya. Aku mengangguk dan memberanikan diri untuk bertanya tentang Andrew. Oh, sialan kenapa aku jadi kepo. Kalau Andrew tahu dia bakal 'geer'. "Pa, Andrew siapa sebenarnya. Ayung agak terkejut dengan pria itu. Sedangkan papa dan mama sepertinya sudah terbiasa menghadapinya." "Andrew anak sahabat papa. Kenapa memangnya, Yung?" "Iya tapi kenapa papa seperti memperlakukannya..., agak..., apa ya? Istimewa gitu." Aku berhati-hati menyebut kata istimewa di hadapan papa. "Baiklah kalau kamu mau tau. Yohanes Levine sahabat papa saat kuliah di UCLA. Dia warga asli California. Yohanes banyak membantu papa selama tinggal dan kuliah di sana. Yohanes menikah dengan orang Indonesia bernama Meriana, kakaknya Tante Lia istrinya Om Bram. Saat Andrew SMA mereka sekeluarga pindah ke Indonesia. Yohanes banyak membantu papa saat masa krisis perusahaan. Dia memiliki 40% saham di perusahaan ini. "Sebetulnya papa sudah menyiapkan Andrew sebagai pengganti papa, terutama semenjak kematian Yohanes dan Meriana beberapa tahun silam. Hanya saja Andrew sangat mencintai dunia kedokteran. Jadi dia menolak secara halus tawaran papa. Makanya papa memberikan rumah sakit keluarga kita untuk Andrew sebagai gantinya." "Oh... ya? Apa Andrew sering berkunjung ke rumah?" tanyaku lagi. "Iya. Dia banyak menghabiskan waktu di rumah selama kamu memutuskan untuk tinggal di Bandung." Kali ini suara papa terdengar sedikit sinis. "Jadi Andrew yang pernah mama ceritakan yang biasa menginap di kamar tamu?" "Iya, tepat sekali. Kamu masih mengingatnya." Pantas saja dia tahu kondisi kamarku, pasti dia sudah iseng untuk masuk ke kamar saat aku tidak ada. "Dia juga akrab dengan Dirga. Padahal baru sekali ketemu, tapi setiap Dirga ke Jakarta yang dicari pertama pasti Om Endu. Itu panggilan Dirga untuk Andrew. Papa sangat mengenal Andrew. Dia pria yang baik, meski gayanya..., ya..., begitu itu." Aku cukup terkesan karena baru saja mendapatkan informasi menarik kalau Andrew sangat dekat dengan anakku. Tapi ada hal yang membuatku menjadi penasaran, kenapa papa begitu menekankan kata pria yang baik saat berbicara tadi? Apa hubungannya? Aku tidak meneruskan pembicaraan ini dengan papa, karena Andrew sudah hadir dengan membawa dua cangkir di tangannya. "Kopi buat Om Harjo, dan teh buat kamu." "Thanks, Drew," ucapku. Andrew hanya membalasnya dengan senyuman. "Kamu sabar ya, Drew. Kita akan ke Rumah Sakit nanti sore. Jika kamu ada kepentingan lain kamu bisa mengerjakannya terlebih dahulu." "Oh, nggak ada Om. Aku di sini aja. Mastiin kalo Ayung nggak akan kabur." Tiba-tiba papa dan Andrew tertawa bersamaan. Membuatku tersenyum kecut melihat Andrew bisa membuat papa sampai tertawa lepas gitu. "Kamu pikir anak Om yang cantik ini tahanan, sampai mau kabur-kabur segala." "Ya kan bisa aja dia kabur lagi kayak dulu." Ucapan Andrew kali ini cukup bisa membuatku menuai murka. Apa coba maksudnya menyindirku seperti itu. "Tidak akan Om biarkan lagi, Drew. Tapi kali ini kamu harus sungguh-sungguh membantu Om." Mereka berdua terlibat obrolan seru yang aku tidak tahu menahu persoalan apa yang sedang diobrolkan. Pukul sepuluh pagi kami semua sudah berkumpul di lobi atau lantai dasar gedung ini. Karyawan papa banyak juga. Ada sekitar puluhan, itu pun kurang lengkap karena ada yang cuti, juga ada yang sedang melakukan perjalanan dinas luar kota. Papa mulai memperkenalkanku. Semua mata saat ini tertuju padaku. Tatapan penuh selidik, ada yang tersenyum, menganggukkan kepala, ada yang menggeleng, ada juga yang mencibir, mungkin yang terakhir ini golongan orang-orang yang meragukanku. Kulirik Andrew, wajahnya datar sekali. Setelah sesi perkenalan selesai mereka semua kembali ke ruangan masing-masing. Aku mulai disibukkan mempelajari dokumen-dokumen kantor. Aku harus mengerti terlebih dahulu seluk beluk masing-masing divisi yang ada di perusahaan ini agar pada saat meeting dengan jajaran direksi aku tidak canggung. Perusahaan papa tergolong perusahaan yang komplit. Menangani berbagai proyek pembangunan gedung, perumahan, apartemen, dan jalan. Juga memiliki divisi khusus yang bergerak di bidang agrobisnis. Menangani pengembangan lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Divisi ini yang paling banyak menyita perhatianku. Karena divisi ini sedang tersandung masalah dengan pemerintah. Pengembangan perkebunan cengkeh yang sedang berjalan di salah satu kota di Sumatra Barat dianggap menggunakan lahan milik pemerintah, padahal jelas-jelas legalisasinya itu menyatakan bahwa lahan itu milik swasta. Tidak tanggung-tanggung papa sudah menandatangani perjanjian untuk lahan seluas ribuan hektar. Jika proyek itu gagal dijamin perusahaan akan rugi besar. Dan harus menjual beberapa persen saham perusahaan untuk menutupi kerugian yang diakibatkan kegagalan satu proyek. Wow, meski ruangan ini ber-ac, tapi bisa membuat keningku basah oleh peluh. Aku perhatikan sekelilingku, ternyata aku baru sadar kalau di ruangan ini, tinggal berdua saja sekarang dengan papa. Kemana perginya si tukang tebar pesona? Mungkin dia sedang melancarkan aksinya. Tidak lama pintu ruangan papa ada yang mengetuk dan Tiara masuk perlahan. "Pak, apa sudah siap untuk meeting siang ini? Meeting akan dilakukan di restoran yang tidak jauh dari kantor, jadi kita bisa sekalian makan siang. Tempatnya sudah saya reservasi." "Oke Tiara, kita berangkat sepuluh menit lagi ya. Terima kasih." Kemudian Tiara berlalu meninggalkan ruangan. "Yung, kamu siap-siap, kita akan meeting dengan salah satu klien baru." Aku hanya mengangguk patuh. Sepertinya papa mengerti isi kepalaku yang saat ini sedang bertanya-tanya ke mana perginya Andrew? "Andrew tidak bisa ikut kita. Dia tadi ditelepon pihak rumah sakit, ada operasi pasien korban perkelahian, katanya lukanya cukup parah, ada luka bacok di perut pasien." "Menjadi dokter seperti Andrew itu berarti harus siap 24 jam ya, Pa?" "Ya, begitulah. Tapi Andrew sangat mengabdikan dirinya sebagai dokter. Ayo kita berangkat sekarang!" Aku mengangguk lagi, lalu mengikuti papa ke luar dari ruangan. Kulihat Tiara sudah siap di depan mejanya dengan memeluk beberapa dokumen dan membawa sebuah tas jinjing berukuran sedang miliknya. 30 menit kemudian kami telah sampai di sebuah restoran Prancis yang cukup mewah. Meski jaraknya cukup dekat dengan kantor, tapi kami harus berlomba-lomba dengan kemacetan kota Jakarta saat jam makan siang seperti ini. Memasuki restoran aku memerhatikan desain interior restoran klasik ini tapi tetap terkesan elegant. Banyak lampu-lampu bergaya ala-ala kerajaan di sekitar langit-langit dan dinding restoran. Seorang pelayan perempuan datang menghampiri kami bertiga. "Selamat siang dan selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu? Apa sudah reservasi sebelumnya?" Sapa waitress itu ramah. "Sudah mbak. Reservasi atas nama Tiara dari Attila Group," ucap Tiara menyebutkan namanya. Kemudian kami diantar ke ruangan lain di lantai dua. Sesampainya di lantai dua kami terus melangkah ke sebuah ruangan berbentuk kubus, berlapis kaca di sisi kiri dan kanannya, yang membuat ruangan ini menjadi kedap udara sehingga suara dari dalam tidak akan sampai terdengar keluar. Bentuk mejanya seperti meja makan biasa dengan kursi delapan buah. Sepertinya ruangan ini memang dikhususkan untuk keluarga besar atau sebagai meeting room. Kami tidak lantas memesan makanan karena akan menunggu klien datang terlebih dahulu. Selang beberapa menit tiga orang masuk ke ruangan yang tidak lain adalah klien yang sedang ditunggu. Meeting pun bisa dilakukan. Di sela-sela meeting, pimpinan perusahaan klien mengajukan beberapa pertanyaan dan papa bisa memberikan jawaban-jawaban yang sangat tepat sehingga siang itu didapatkan kata sepakat dengan klien. Papa sangat handal sekali dalam bernegosiasi, tutur bahasanya sangat luwes, bisa diselingi dengan sedikit guyonan saat suasana mulai tegang. Namun aku heran, Papa bisa menjadi sangat kaku saat menghadapi Mas Reza. Begitupun Mas Reza juga tidak bisa bersikap lembut pada papa seperti bersikap kepadaku. Setelah dua jam berlalu meeting berakhir. Klien telah meninggalkan restoran sepuluh menit yang lalu. Di saat bersamaan Andrew datang menghampiri ruangan. "Siang semuanya! Sukses tendernya, Om? Hai Tiara, hai Ayung." Dengan senyum sumringah Andrew datang dan langsung duduk di sampingku. Saat menghempaskan tubuhnya ke kursi, dengan sengaja Andrew menyentuhkan bahunya dengan bahuku. Aku pun langsung mendelik tajam padanya. "Lancar, Drew. Udah goal," kata Papa sambil mengacungkan salah satu ibu jarinya ke arah Andrew. "Wah keren, Om. Gimana Ibu CEO? Mengalami kesusahan? Kalau Tiara nggak bantuin kamu, laporkan saja padaku, biar aku kasih pelajaran dia," ucap Andrew sembari tertawa. Yang diomongin langsung tersipu malu. Ugh, si Tiara ini kok gampang banget digoda Andrew. "Kamu sendiri ngapain ke sini? Katanya ada operasi," ujarku ketus terhadap Andrew. "Aku janjian sama papa kamu, cantik." Aku langsung memasang ekspresi jengah ketika dia mulai melancarkan aksi gombalismenya. Kenapa aku harus dipertemukan dengan laki-laki super genit gini... Ya Tuhan. Sumpah ya, Andrew ini adalah laki-laki ter-annoying yang pernah aku temui. "Oya Om, kita ke rumah sakit naik mobilku saja ya. Biar mobil Om untuk mengantar ladies. Kan arah kantor sama rumah sakit berlawanan tuh." "Ya terserah kamu aja, Drew. Ya udah ayo berangkat. Oya..., Yung. kamu langsung balik kantor sama Tiara ya." Aku mengangguk dan tersenyum puas. Great Idea papa. Berarti aku tidak harus semobil lagi dengan makhluk Tuhan paling ganjen se-Indonesia ini. ~~~ ^vee^ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD