Sudah hampir dua bulan aku menjalani rutinitas CEO Attila Group. Sempat menemui beberapa kesulitan, terutama saat menghadapi beberapa manajer yang mempunyai pengalaman lebih baik dariku. Namun everything gone be alright. Andrew juga tidak pernah muncul. Papa bilang dia betul-betul sibuk, banyak hal yang harus dibenahi dalam manajemen rumah sakit.
Andrew bilang pada papa kalau dia lebih mudah melakukan operasi bedah 10 pasien dalam sehari, daripada harus memperbaiki manajemen rumah sakit yang mulai bobrok, karena ulah salah satu oknum yang mana oknum itu sampai detik masih belum juga bisa ditebak siapa pelakunya.
Aku juga sudah mulai mengemudikan mobil sendiri ke kantor, sedangkan papa hanya sesekali datang ke perusahaan. Kini Papa mulai banyak menghabiskan waktunya di rumah. Papa mengawasi perusahaannya dari rumah.
Pagi ini kuparkir sedan hitamku di basemen gedung perkantoran. Setelah bunyi bip, bip, aku meninggalkan mobil bergegas menuju ruanganku dan memulai pekerjaanku hari ini.
Saat sedang memeriksa laporan dari divisi keuangan, tiba-tiba aku teringat Dirga. Mataku terasa perih karena menahan diri untuk tidak menumpahkan air mata setiap kali mengingat putra semata wayangku itu.
"Mama kangen Dirga nak." Kupeluk sebuah pigura berukuran postcard yang kuambil dari dalam laci meja kerjaku. Foto kami bertiga, Mas Reza, aku dan Dirga. Aku menjadi manusia paling utuh saat itu, paling bahagia dan paling sempurna. Sedangkan saat ini aku sering merasa sendiri di tengah keramaian.
***
Sepertinya hari ini aku harus lembur. Tender yang baru dimenangkan oleh perusahaan cukup menyita perhatianku. Kliennya sangat rewel sekali. Setiap desain yang diajukan oleh divisi kreatif design, selalu ditolak dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal.
Aku harus segera bertemu dengan pemilik perusahaan, agar menemukan titik terang dan proyek bisa segera dilaksanakan. Kulihat jam di pergelangan lengan kananku, sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Tiara izin pulang lebih cepat, karena suaminya sedang sakit. Kulepas blazer yang sedikit menyesak di badanku. Kini aku hanya menggunakan sebuah inner berbahan katun motif kembang kecil-kecil tanpa lengan dan rok sedikit di atas lutut.
Aku mengempaskan tubuh ke kursi kerja beroda yang berukuran dua kali lipat dari lebar badanku. Ponselku bergetar beberapa kali, kulihat nama yang tertera di layar. Ya ampun Mama. Aku lupa mengabari kalau aku sedang lembur. Mama pasti khawatir setengah mati saat ini.
"Hallo ma."
"Kamu di mana, Yung? Udah jam berapa ini, kok belum pulang kantor, Nak?"
"Yung masih di kantor ma. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Setengah jam lagi kelar kok ma."
"Ya ampun... Papamu keterlaluan memang, sudah menyiksamu sampai seperti ini."
Aku tertawa mendengar kekhawatiran mama yang terkadang suka berlebihan. "Mama ngomong apa? Ini proyek baru Ayung ma. Gak ada hubungannya sama papa kali ach."
"Ya sudah kamu hati-hati ya pulangnya. Apa perlu jemputan?"
"Nggak usah ma, Ayung bisa pulang sendiri kok. Udah ya ma, mau lanjut dulu biar cepet kelar kerjaannya."
"Ya deh, dadah."
Lalu aku meletakkan ponsel kembali di atas meja. Selang sepuluh menit ponselku kembali bergetar beberapa kali, kulihat dari layar ponsel ternyata private number. Aku tidak berniat menerima telepon sok misterius itu.
Setelah ponselku berhenti berdering, ada suara bip bip dua kali menandakan ada sebuah pesan singkat masuk
Sender from: +628123***:
Lembayung where're you? Aku barusan dari rumah, katanya kamu belum pulang kantor? -Andrew-
Pasti dia mendapat nomer ponselku dari mama. Mau apa dia ke rumah? Jangan negatif thinking dulu, mungkin ada urusan sama papa. Kemudian aku langsung menyimpan kontaknya di daftar kontak dan memberi nama.
Send to: Bule Sunda
Aku masih di kantor
Sender from: Bule Sunda
Astaga, giat amat neng kerjanya?Aku sampai sana 20 menit lagi. Don't go anywhere!!!
Aku membaca pesan singkat dari Andrew sambil tersenyum dan tidak membalasnya. Aku memilih kembali berkutat dengan pekerjaanku.
Ternyata benar 20 menit kemudian sosok Andrew sudah berada di ambang pintu ruanganku. Rambutnya agak berantakan dari biasanya. Kemeja berwarna kuning tuanya sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Lengan kemejanya sudah dilipat rapi hingga ke siku. Satu kancing teratas sudah tidak dipasang, dasi warna kuning lebih tua dari kemejanya juga sudah dilonggarkan ikatannya. Tapi kemeja itu masih rapi berada di dalam balutan celana bahan hitamnya.
Andrew berjalan ke arahku dengan senyum manisnya. Tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya, kakiku mendadak lemas, jantungku berdetak lebih kencang, hewan bersayap mulai berterbangan di perutku. Padahal aku sangat bisa menghindar bahkan tidak terpengaruh jika pria ini hanya menggodaku lewat kata-kata manisnya. Namun jika harus berhadapan dengannya, apalagi hanya berdua saja di dalam satu ruangan, rasanya darahku berhenti mengalir.
No, no, no! Stop Lembayung, hentikan sikap anehmu. Andrew pasti bisa membaca ekspresi tegang di wajahmu saat ini.
Andrew berjalan berputar mengelilingi meja kerjaku yang cukup besar, lalu setelah sampai di hadapanku dia langsung duduk di atas mejaku dan menghadap padaku. Aku sedikit memundurkan kursiku agar ada jarak di antara kami.
"Kamu laper nggak, Lembayung?" Pertanyaan ini memecah kesunyian yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Iya dikit," jawabku singkat.
"Makan yuk, aku laper," ucap Andrew seraya menepuk-nepuk perut ratanya.
"Kamu tuh, kalo laper ya makan aja sana. Ngapain mesti repot-repot ngajak aku coba?" Aku mendengus, dan syukurlah pikiranku sudah berada di posisi normal.
"Nggak enak makan sendiri. Kamu masih lama, Lembayung?"
Andrew turun dari mejaku lalu menatap kaca besar di balik kursiku untuk melihat jalanan dari lantai 25 gedung ini.
"Udah kok. Ini lagi beberes doang."
"Oke good. Aku ke toilet dulu ya."
Aku hanya mengacungkan ibu jari kananku dan mulai membereskan mejaku yang sangat berantakan. Saat Andrew keluar dari toilet di dalam ruanganku, aku sudah siap. Kami kemudian meninggalkan ruanganku menuju basement.
"Mobil kamu tinggal di sini aja. Titip security gedung aja. Kamu ikut mobilku."
Kulihat jam di pergelangan tangan kananku sudah menunjukkan pukul 10:15, sudah malam rupanya. Aku mengangguk setuju karena aku memang sangat takut dengan jalanan malam kota Jakarta. Apalagi jarak kantor ke rumahku cukup jauh.
Aku memasuki sedan hitam seri terbaru milik Andrew. Setelah memasang sabuk pengaman, mobil melaju secara perlahan. Kulirik dekat DVD ada sebuah lipstik dengan branded yang cukup wah menurutku. Dengan cuek aku mengambil dan menunjukkan pada Andrew.
"Aku yakinnya ini bukan milikmu, Drew?" ujarku sambil berusaha menahan tawa.
Andrew mengambil lipstik itu, membuka kaca jendela di sampingnya sedikit, lalu melempar lipstik tadi ke jalanan.
"Hay! Itu lipstik mahal you know?"
"Oya? Tapi pemiliknya murahan." Ada sorotan sinis dari iris mata hazelnya saat mengucapkan kata murahan tadi.
"Maksud kamu murahan? Itu punya pacar kamu? Kenapa main buang aja, nanti dicari loh sama yang 'punya'," ucapku seraya membentuk jari telunjuk dan tengahku menjadi seperti tanda kutip.
"Forget it!" Andrew kembali menatap lurus ke jalan, sedangkan aku memalingkan wajahku ke kaca jendela di samping kiriku.
Mobil Andrew memasuki sebuah kafe yang masih cukup ramai di jam-jam seperti ini. Setelah memarkir mobilnya dengan tepat, kami berjalan beriringan memasuki kafe.
Syukurlah masih ada meja kosong khusus dua orang dekat kaca jendela besar. Seusai memesan, kami berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Aku menatap kosong keluar jendela, kedua tanganku kusatukan untuk menopang daguku. Sedangkan Andrew menyandarkan tubuhnya hingga terlihat seperti tubuhnya merosot dan memainkan smartphonenya.
"Well, Pekerjaan apa yang membuat kamu sampai lembur, Lembayung?"
Andrew memecah kesunyian dan meletakkan ponselnya ke meja. Dia suka sekali memanggilku dengan nama panjangku ketimbang nama panggilanku. Baru dia yang memanggilku seperti itu. Kebanyakan orang menyebutku dengan panggilan Ayung atau Yung.
Kulirik sekilas ponsel Andrew yang masih menyala itu, ada gambar seorang perempuan, sepertinya remaja, karena di foto itu terlihat mengenakan seragam SMP dan memegang sebuah piala, rambutnya diikat sederhana membentuk ekor kuda. Tapi sayang sebelum aku sempat melihat wajahnya, layar ponsel Andrew sudah gelap.
"Ada proyek baru. Pembangunan real estate di daerah Kemang. Tapi bosnya rewel."
"Rewel gimana?" Andrew menyondongkan tubuhnya, hingga kini wajahnya tepat di depan wajahku. Aku langsung menegakkan tubuhku dan tidak lagi duduk bertopang dagu.
"Semua desain yang ditawarkan oleh team kreatif design ditolak. Alasannya juga nggak masuk akal. Yang kurang elegant, kurang mewah, kurang inilah, itulah," cecarku menggebu-gebu. Andrew tersenyum memerhatikanku bercerita.
"Trus rencana kamu gimana?"
"Aku harus bertemu dengan manajer atau boss perusahaan itu segera, supaya bisa menemukan kata sepakat jadi proyek bisa cepat dijalanin."
"Perusahaan mana?"
"Perusahaan asing. Dari Singapore. Silinama Group."
"Oh, itu ularnya developer di Asia Tenggara, hati-hati jika bekerja sama dengan perusahaan itu. "
"Kamu tahu soal itu, Drew?"
"Ya taulah. Papa kamu kan sering cerita soal bisnisnya dan para pelaku di dalam bisnis ini. Sepertinya Silinama sedang mengujimu. Dari dulu, Silinama itu selalu bisa bertekuk lutut di bawah kaki Om Harjo. Coba deh kamu bikin konsep sendiri untuk mereka. Siapa tau justru mereka cocok dengan konsep dari kamu."
"Tapi aku gak bakat ngedesain. Aku nggak punya sense of art. Aku taunya cuma mengelola bisnis, dan memimpin perusahaan. Lagian sudah ada divisi khusus yang menangani masalah desain."
"Ya, kamu coba dulu dong. Kamu bisa coba dari mulai browsing desain-desain real estate dari berbagai negara. Trus kamu gabungin deh konsepnya."
"Gitu ya? Entar deh aku coba."
Andrew tersenyum manis sekali. Deg! Sudut hatiku merasa hangat seketika kala melihat senyuman Andrew malam ini.
Tak lama pesanan kami datang. Kami larut dalam makanan kami masing-masing. Kami makan dalam keadaan hening, tidak ada perbincangan ketika makan. Entah kenapa juga, aku akan selalu memperhatikan Andrew saat dia makan.
Tiba-tiba Andrew mengambil beberapa lembar daun selada berwarna hijau cerah itu dari piringku dan langsung dilahapnya. Selesai sudah kegiatan makan Andrew. Sedangkan aku, masih terpaku menatap makananku. Sepertinya Andrew sadar aku sedang melamun. Tangannya melambai-lambai di depan wajahku.
"Lembayung, are you oke? Kok makanannya cuma diaduk-aduk? Dimakan dong. Atau nggak enak ya? Kalau kamu mau, bisa pesen yang lain aja."
Aku menggeleng dan mulai melanjutkan kegiatan makanku.
"Kamu tuh sering banget melamun, 'tar kesambet loh."
"Bisa aja kamu, Drew."
Andrew melihat jam dipergelangan lengan kirinya. "Udah jam setengah 12 ini. Kamu mau aku antar pulang sekarang?"
Aku mengangguk setuju, tapi, saat hendak melangkah meninggalkan meja, kudengar suara sedang berseru ke arah aku dan Andrew.
Kulihat seorang perempuan berparas cantik seperti titisan Cleopatra berlari kecil menuju Andrew dan menghambur memeluk Andrew, lalu mencium pipi kiri dan kanan Andrew.
Aku menggeleng dan berpaling dari dua orang di hadapanku ini. Kulihat perempuan itu semakin bergelayut manja di tubuh atletis Andrew. Kedua lengannya melingkar sempurna di leher Andrew.
"Gue kangen elo AL. Maafin ya waktu itu nggak sempet pamitan ke elo."
"It's oke, Nad. Gue udah lupa soal itu," jawab Andrew datar.
"Lo sama siapa ke sini, Al?"
Tanpa menjawab pertanyaan perempuan itu, Andrew kemudian menarik pelan lenganku.
"Kenalin ini Lembayung."
"Ini Nadia."
Kemudian kami berjabat tangan.
"Pacar baru lo ya?"
Dem! Rasanya aku pengin segera keluar dari sini. Kurasakan hawa kafe rasanya mulai panas setelah pertanyaan itu meluncur dari insan Nadia.
"Bukan... Nadia, gue mesti balik dulu ya. Bye, Nad."
Kemudian mereka berdua berpelukan dan saling mencium pipi kiri dan kanan masing-masing. Aku melangkah lebih dulu keluar kafe dan menyegerakan langkahku menuju mobil, meninggalkan Andrew yang masih pisah sayang dengan perempuan itu.
Sesampainya di samping mobil kudengar bunyi bip dan aku langsung masuk lalu menghempaskan tubuhku ke sandaran jok mobil. Andrew pun menyusul masuk. "Kamu kenapa buru-buru tadi jalannya?" tanyanya sambil menyalakan dan melajukan mobilnya ke luar dari area parkir kafe.
"Aku capek, Drew," kilahku pada Andrew.
"Kamu marah padaku soal Nadia?" Andrew tiba-tiba mendaratkan telapak tangan kirinya di atas paha kananku. Seketika tubuhku menegang dan lemas perlahan-lahan. Tapi aku tidak menepis tangan Andrew. Wajahku justru berpaling ke jendela mobil. Aku tidak mau Andrew mendapati wajahku yang menegang saat dia menyentuhku. Jujur setelah Mas Reza tidak ada pria manapun yang bisa membuat perasaanku tidak karuan seperti ini.
"Lembayung Attila? Are you jealous?" Panggilan Andrew yang cukup keras menyebutkan nama lengkapku, sedikit mengejutkanku tapi berhasil menyelamatkanku dari lamunan yang semakin dalam.
"Yes? Tadi kamu ngomong apa, Drew?"
"Ah sudahlah. Lanjutin aja ngelamunnya," ujar Andrew kesal, mengangkat tangannya yang tadi mendarat di atas pahaku, dia kembali lanjut menyetir.
"Jadi lipstik tadi punya Nadia?" Rasa kepoku menjerumuskan diriku sendiri. Bego!
"Bukan, itu punya Carla," jawab Andrew datar dengan pandangan tidak lepas dari jalanan di hadapannya. Sesantai itu dia menyebut nama lain yang aku yakini adalah nama seorang perempuan.
Kami akhirnya sama-sama terdiam selama perjalanan pulang. Waktu seolah berpihak kepadaku yang menginginkan supaya segera sampai di rumah.
Akhirnya tanpa terasa, kami sudah sampai di rumahku. Pagar rumah terbuka secara otomatis saat mendengar suara deru mobil Andrew. Setelah sampai di depan teras, aku melepas sabuk pengamanku. Ketika hendak keluar mobil, Andrew menahan bahuku, membuatku mengurungkan niat untuk mendorong pintu mobil agar terbuka.
"Good night Lembayung, have nice dream ya."
Deg! Jantungku berdenyut seperti dicubit, perasaanku langsung gugup mendengarkan kata demi kata yang terdengar sangat lembut itu. Tatapannya hangat diiringi senyumnya yang manis.
"I, iya. Thanks Drew. Bye."
Syukurlah aku segera sadar dari hipnotis Andrew. Aku pun bergegas keluar dari mobil, dan masuk ke rumah setelah memastikan mobil Andrew keluar dari halaman rumah ini.
---
^vee^