10. KAMU SIAPA?

1537 Words
Seminggu ini aku disibukkan berbagai kegiatan dari mulai meeting, ketemu klien, dan menilik berbagai proyek yang berhasil dimenangkan oleh perusahaan. Membuatku seringkali terjebak lembur di kantor. Mama sudah mengerti posisiku, dan tidak lagi menerorku cepat pulang seperti waktu itu, setelah dibantu menjelaskan oleh papa. Sebelum pulang ke rumah aku menyempatkan diri untuk mampir membeli pizza kesukaanku di gerai pizza yang buka 24 jam, lokasinya tak jauh dari kantor. Setelah menerima sekotak pizza dari pramuniaga, aku mengendus kardus berisi makanan kesukaanku ini. Pizzanya sangat harum dan menggugah selera makanku. Aku pun bergegas meninggalkan gerai pizza. Dan bug! "Oopss sorry," ujarku dengan kepala tertunduk. Ya, salahku. Aku berjalan menunduk saat itu untuk memastikan pesanan pizzaku di dalam kantong plastik sesuai dengan struk yang diberikan oleh kasir. Aku tidak sadar menabrak tubuh seorang pria karena langkahku yang tergesa. Tangan kokohnya menahan lengan dan pinggangku agar tidak terjatuh. Tubuh kami terasa begitu dekat sehingga aku bisa mencium aroma tubuh pria yang aku tabrak ini. Aroma maskulin dan wangi cokelat. Aku merasa mengenal dengan baik aroma ini. Tidak mungkin dia! Aku pun mendongak dan yang aku pikirkan ternyata tepat sekali. Andrew sudah berdiri di hadapanku. Dia menggunakan pakaian yang sangat santai, T-shirt berwarna hijau daun, celana berwarna putih sepanjang lututnya dan sneakers putih. Wajahnya sangat segar dan rambutnya masih basah. Dandanannya ala abege banget.. "Lembayung..., kamu nggak apa-apa?" Andrew bertanya dengan nada khawatir. "Nggak apa-apa." Aku segera sadar dan melepaskan pegangannya di tangan dan pinggangku. "Kamu sama siapa?" "Sendirian aja. Kamu?" Belum sempat Andrew menjawab pertanyaanku, seorang perempuan berparas cantik dan sexy mengamit mesra lengan Andrew. "Ayo beib, kita pesan sekarang, keburu rame loh!" Perempuan tadi langsung menarik Andrew dari hadapanku. Aku sendiri memilih untuk melanjutkan langkahku, tanpa menoleh lagi pada Andrew. "Siapa lagi perempuan itu? Emang penuh kejutan laki-laki satu itu," gumamku dalam hati saat sudah berada di dalam mobilku. +++ Semenjak kembali ke Jakarta aku semakin sering bermimpi Dirga. Kali ini di dalam mimpi, aku melihat Dirga berlari meninggalkanku setelah mencium pipiku yang sedang duduk di taman. Aku mencoba untuk mengejarnya, tapi aku merasa tubuhku diguncang dengan cukup kuat. Kupanggil-panggil nama Dirga, tapi dia tidak menoleh meski sudah kupanggil berkali-kali. "Dirga, mana Dirga?" ujarku terbangun seperti orang gila menyerukan nama Dirga hingga berkali-kali. Aku sadar saat Andrew merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, membelai rambut panjangku dan menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah ke belakang telingaku. Napasku tersengal, kening dan leherku penuh dengan peluh. Andrew mengusap lembut peluhku dengan jari-jari tangannya. Kemudian mengambilkanku segelas air minum. Aku membiarkan perbuatan Andrew. Aku benar-benar butuh tempat untuk bersandar saat ini. Setelah napasku mulai teratur, Andrew kembali membuka suara. "Kamu mimpiin Dirga ya?" Aku hanya mengangguk dan menangis. Andrew menangkup wajahku dengan telapak kanannya. "Sekarang kan ultahnya Dirga. Wajar kalau kamu mimpiin anak kamu sendiri. Kamu mau aku anterin ketemu Dirga?" Aku kembali mengangguk tanpa mampu berkata-kata. "Okey, sekarang cepet mandi dan pakai pakaian warna kesukaan Dirga." Aku pun turun dari tempat tidurku. Kuregangkan otot-otot tubuhku untuk mendapatkan kesadaranku seutuhnya. Dan saat kesadaranku mulai utuh, kudapati Andrew masih duduk di sofa putih dalam kamarku. "Aku mau mandi, nggak mungkin kan kamu menungguku di situ?" tanyaku dengan nada sejutek mungkin. "Kalau mau mandi ya mandi aja. Siapa juga yang mau ngintip. Lagian kalau kamu takut aku nekat ngintip, pintu kamar mandinya kan ada penguncinya, tinggal klik kuncinya aja, beres." Aku bersiap untuk melemparkan bantal ke arah Andrew, tapi dia mengambil keputusan tepat untuk segera keluar dari kamarku. Segera aku berlari ke arah pintu dan mendapati dia masih menyandar di tembok sebelah pintu kamarku sambil menyeringai. Lalu akhirnya pergi setelah ketahuan olehku masih bersembunyi di balik dinding kamarku. Setengah jam kemudian, aku sudah siap dengan dress warna biru kesukaan Dirga, bermotif polkadot putih, dengan bahan katun strech plus wedges berwarna beige. Papa dan mama mengantarku hingga ke pintu. Kadang aku heran, papa sama mama kenapa bisa menjadi percayaan banget pada Andrew. Tidak ada berat-beratnya membiarkanku dibawa pergi ke manapun oleh Andrew. Aku memasuki sedan hitam milik Andrew, saat aku duduk semilir dapat kuhirup aroma parfum yang biasa digunakan oleh Andrew. Kulihat sekeliling mobil, sangat bersih dan nyaman. Lama kelamaan aroma parfum khas Andrew semakin terasa dekat denganku. Setelah mencari asalnya, ternyata berasal dari jas putih yang tersampir di bangku yang sedang aku duduki. Mungkin jas prakteknya si Andrew, pikirku. Andrew masuk mobil dan mendapatiku sedang melihat ke arah jas itu. "Sorry..., jasnya belum aku beresin. Aku belum sempet pulang ke apartemen. Dini hari tadi ada operasi, setelah selesai aku langsung ke sini," ujarnya memberi penjelasan alasan keberadaan jas putih itu di sandaran jok mobilnya. Aku hanya ber 'oh' ria saja. Andrew mengambil jas tadi lalu melipatnya dengan sangat hati-hati dan diletakkan di jok belakang. "Jadi ke tempat Dirga?" tanyaku memecah kesunyian di antara kami saat perjalanan. "Yups," jawab Andrew dengan singkat. Lalu kami sama-sama diam selama perjalanan. Meski sudah beberapa kali bertemu aku masih merasa canggung dengannya. Sekitar 45 menit kemudian kami berhenti di sebuah pemakaman yang cukup mewah, dan rapi. Rumput hijau terbentang luas seperti lapangan golf. Batu nisan berwarna hitam berjejer rapi terbagi menjadi beberapa blok. Ini bukannya pemakaman keluarga besarnya Papa. Ujarku dalam hati. "Kita sudah sampai." "Kita mau ke makam siapa, Drew?" tanyaku sambil menatap heran pada Andrew. "Katanya mau ketemu Dirga? Ayo!" Andrew mengajakku untuk segera turun. "Aku pikir kita mau ke Bandung?" "Turun aja dulu, biar bisa segera kangen-kangenan." Aku masih diam mematung. Kemudian tubuh Andrew bergerak ke arahku, aku pun sontak menegakkan badanku menghindar dari kepalanya yang kini tepat berada di depan hidungku. Aku dapat mencium aroma rambutnya yang wangi sampo. Aku sempat terkejut memikirkan apa yang akan dia lakukan? Ternyata dia melepaskan sabuk pengamanku. Aku bisa bernapas lega setelah Andrew selesai melepas sabuk pengamanku. Saat di depan gerbang pemakaman, Andrew menawarkan tangannya untuk kugandeng, aku menerima saja. Aku terlalu takut berjalan sendirian di tengah pemakaman seluas ini. Kami berjalan beriringan memasuki areal pemakaman, melewati deretan batu nisan kelima dari pintu masuk. Dapat k****a dari batu nisannya. Ada beberapa nama dengan nama belakang Attila. Setelah melewati lima batu nisan, Andrew menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, hingga membuatku menabrak punggungnya. Andrew lalu menoleh dan melempar senyum manisnya. Kami berdua duduk berjongkok di depan sebuah batu nisan. "Hai Dirga ganteng. Nih, mama kamu datang nengokin." Aku membaca nama yang terpahat dengan tinta berwarna kuning emas diatas batu marmer berwarna hitam. 'Dirga Wiratama' "Kirim doa dulu, nanti aku jelasin." Kami berdua duduk bersimpuh di hadapan makam Dirga. Setelah selesai berdoa aku mencium batu nisannya. Setelah selesai, kulihat kanan dan kiriku. Andrew sudah menghilang dari sisiku. Sialan! Ke mana nih cowok. Bisa-bisanya dia ninggalin gue di tempat sepi gini. Aku berdiri dan meluaskan pandanganku. Kulihat sosok itu sedang duduk bersimpuh di sebuah makam. Aku pun berjalan menuju sosok itu dengan langkah hati-hati. Setelah sampai k****a nama di batu nisan yang serupa dengan milik Dirga. 'Yohanes Levine', kemudian pandanganku beralih ke batu nisan yang satunya lagi 'Meriana Levine'. Andrew bangkit dan mengucek matanya. Aku tebak dia pasti habis menangis, karena di helaian bulu matanya menyisakan bekas airmata. "Udahan kangen-kangenannya? Kok cepet amat? Bukannya udah bertahun-tahun kamu gak nengokin Dirga ya?" "Iya Drew, sudah selesai kok. Lagian aku lebih butuh penjelasan, dari pada harus berlama-lama di pemakaman sepi gini. Merinding tau, Drew." Andrew malah menertawaiku, setelah mendapat jawabanku. Kami pun berjalan beriringan menuju mobil. Setelah mobil melaju agak jauh dari kompleks pemakaman, Andrew mulai bercerita. "Makam Dirga dipindahkan sebulan setelah kamu berangkat ke New York. Papa kamu yang memindahkan. Ada banyak pertimbangan sebelum akhirnya dipindah. Pertama di Bandung nggak ada yang merawat, dan yang pasti nggak ada pihak keluarga yang mengunjungi karena nggak ada satupun saudara dari pihak kamu maupun Reza yang tinggal di Bandung. Kedua, supaya dekat sama Jakarta, jadi kalau ada keluarga mau berkunjung, nggak perlu jauh-jauh ke Bandung. Ketiga, supaya makam Dirga jadi satu sama leluhurnya di sini." Aku melipat kedua tanganku di depan d**a sambil mengempaskan napas dengan kasar. "Kamu jangan marah. Niat papa kamu kan baik dan pertimbangan itu ada benarnya. Ya kan?" "Yes i know, mau kayak gimana pun aku mau protes, papa adalah selalu yang paling bener. Trus tadi kamu ke makam siapa?" "Daddy sama mamaku." "Aku turut berduka cita ya, Drew." "Its okey. Aku udah lama move on kok. Kejadiannya juga udah lama ini. Makanya kamu jangan terlalu terpuruk ya karena kehilangan satu orang yang kamu cintai. Aku kehilangan dua orang sekaligus waktu itu. Di usiaku yang masih jauh dari kata matang." "Enak aja. Aku juga kehilangan dua orang kali, Drew. Anak dan suamiku. Mereka berdua itu duniaku." "Mantan suami lebih tepatnya. Kalau kamu lupa. Suatu saat kamu pasti ketemu dia kok." "Dari cara kamu membicarakan Mas Reza sejak pertama kali kita bertemu, mengisyaratkan kalau kamu tahu banyak hal apa yang terjadi sebenarnya pada Mas Reza selama aku kuliah." "Emang papa kamu nggak cerita ya kalau operasinya berjalan dengan sangat lancar. Saat dia sudah sadar tiba-tiba menghilang begitu saja. Nggak tau terima kasih banget." Tiba-tiba sorot mata Andrew mendadak menjadi sinis saat dia membicarakan Mas Reza. "Kayaknya kamu tau lebih banyak hal yang terjadi selama aku di New York ya, daripada aku yang notabene istrinya Mas Reza dan anak dari papaku. Papa bahkan nggak pernah ngomongin soal niat memindahkan makam Dirga padaku." Andrew hanya tersenyum sinis kemudian melajukan kembali mobilnya tanpa sesekali menatapku seperti tadi. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD