Joanne menggosok wajah serta bagian bibir lebih keras. Akhirnya semalam suntuk ia tidak bisa terpejam dan tepat setelah sinar matahari menerobos sela gorden, Ethan melompat pergi lalu hilang di tengah kabut pagi yang menyelimuti hutan.
Joanne termenung setelah meraih sikat gigi. Untung saja akal sehatnya kembali tepat sebelum Ethan merenggut kecupan pertama berharga miliknya.
"Sinting! Bisa-bisanya aku mendengarkan semua ocehannya!" omel Joanne pada bayangannya sendiri yang dipantulkan cermin.
Setelah membersihkan diri, Joanne memasukan seragam olahraga ke tas lalu turun untuk sarapan bersama Belinda.
"Pagi, Mom," sapa Joanne yang duduk setelah mengecup pipi Belinda.
"Pagi, Honey. Bagaimana tidurmu?" tanyanya yang kemudian sibuk menumpuk tiga pancake keju di piring Joanne lalu melumurinya dengan sirup maple.
"Aku tidak bisa tidur sampai pagi, tapi syukurlah seseorang menemaniku," jawabnya.
"Aku tidak menyangka kalau Felix sungguh bisa menemanimu dengan baik. Aku akan bersikap lebih terbuka padanya," tutur Belinda sembari menatap Felix yang sibuk menyantap potongan tuna kaleng di mangkuknya.
Joanne tertawa kecil. Bayangan Ethan jelas tercipta di kepalanya ketika ia dengan serius mengucapkan seseorang menemani malamnya.
"Apa kamu tidak perlu ke sekolah? Beristirahatlah, pasti kamu mengantuk. Cuaca sedang tidak baik, aku rasa kita akan memasuki musim gugur, sering sekali turun hujan. Aku harus meminta ayahmu untuk membelikan kita penghangat ruangan baru," keluhnya.
Joanne memotong pancake miliknya lalu menyuapkan sesendok ke mulut. "Aku mulai terbiasa dengan cuaca dingin juga tidak pernah merasa bermasalah meskipun jarang tidur," aku Joanne.
Belinda meletakkan garpunya lalu mengelus pipi Joanne. "Honey, kamu harus tidur minimal delapan jam sehari. Apa hari ini ada hal penting di sekolah?"
"Tidak, aku hanya merasa lebih hidup ketika berada di sekolah. Bertemu teman sebaya, Brian, itu menyenangkan sekali."
"Brian, apa akhir pekan ini kalian jadi berkencan?"
Pertanyaan Belinda hampir membuat Joanne menyemburkan kunyahannya. "Ke-kencan? Siapa?"
Belinda menandaskan suapan terakhir pancakenya. "Kamu dan Brian."
Joanne menggeleng dengan keras. "Aku tidak berpikir sejauh itu, Mom. Kami hanya akan makan siang dan nonton bioskop saja," sergahnya.
Belinda bangkit, meraih piring kosongnya lalu membawa ke bak pencuci piring. "Semua juga dimulai dari makan dan nonton bioskop bersama. Ah, aku jadi mengingat kencan pertamaku dengan Carlos. Manis sekali," celotehnya.
"Aku rasa akan terlambat bila kita tidak bergegas," ujar Joanne yang tahu Belinda bisa jadi sangat menyebalkan bila terus bercerita tentang kisah romansanya bersama sang suami.
Belinda meletakkan piring kotor Joanne ke dalam bak cuci piring lalu meraih kunci mobil dekat keranjang rotan berisi jeruk. "Baiklah. Ayo," ajaknya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Joanne bingung untuk menghadapi Brian. Tentu saja ia senang karena Alice juga mengatakan kalau, ya, Brian menyukainya, tetapi akan banyak hal berbahaya yang bisa terjadi.
Setelah cukup lama memandang ke luar jendela, akhirnya Joanne menatap Belinda yang sibuk menyetir. "Mom, apa sulit rasanya menjadi pasangan vampir?" tanyanya.
Belinda sedikit melirik putrinya. "Kenapa? Aku tetap berharap kamu bisa bertahan sebagai manusia. Kalau aku, ya, bisa dibilang pada akhirnya akan berubah menjadi vampir. Ayahmu akan mati bila aku mati, Joan dan aku tidak ingin hal itu terjadi karena akan banyak vampir lain yang ikut binasa," jawabnya.
Jujur saja, jawaban Belinda tidak banyak membantu. Malah Joanne semakin bertanya akan maksud kalimat terakhir Belinda.
"Aku hanya cemas, maksudku, sepertinya aku mulai berubah seperti ayah," cicit Joanne.
Belinda ingin sekali menepikan kendaraan laku mengintrogasi Joanne akan ucapannya, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan sebab Joanne pasti bisa terlambat.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" selidik Belinda.
"Mom. Selama ini, aku pikir tato yang ada di pergelangan tanganmu adalah karya seni atau ungkapan cinta yang sama dengan milik Dad, tapi nyatanya itu adalah tanda kepemilikan Dad. Benarkah begitu?"
"Tato? Tanda? Apa yang kamu bicarakan Joan?"
Joanne memijat dahi dengan ibu jari dan telunjuknya. Persis seperti Brian, Belinda tidak bisa melihat tanda kepemilikan vampir karena mereka hanya manusia biasa.
"Joan, kamu belum menjawab pertanyaanku!" desak Belinda.
"Mom, intinya semua vampir di muka bumi ini tahu kalau Mom adalah milik Dad seorang," jawab Joanne yang kembali melayangkan pandangan ke luar jendela mobil.
Kali ini Belinda tidak lagi banyak bertanya. Suara pelan Carlos yang berbisik di kepalanya meminta untuk cepat mengantarkan Joanne lalu kembali ke rumah.
Sekilas ia melirik Joanne mengusap pucuk kepala putrinya hingga tersadar kalau ada sedikit perubahan yang terjadi pada fisik Joanne.
Belinda yakin kalau putrinya tidak mungkin mewarnai rambut atau mengubah tatanannya tanpa seizinnya, tetapi jelas kalau rambut hitam bergelombang Joanne kini tampak sedikit merah.
"Mom, bukankah seharusnya kita berbelok? Mom?"
"Ah, ya, ehm, aku tidak fokus, maaf, Sayang, di depan sana kita bisa memutar arah," kilahnya.
Joanne hanya mengangguk. Sesekali kembali menatap Belinda. Bertanya dalam hati, apa yang dipikirkan ibunya sampai bisa kehilangan fokus?
Setibanya di depan gerbang sekolah, Joanne melepaskan seat belt lalu keluar dari mobil setelah memberikan kecupan lembut di pipi Belinda.
Ritual selanjutnya adalah melambaikan tangan sampai bamper belakang mobil ibunya tidak lagi terlihat.
"Pagi, Joan."
Joanne menoleh, refleks matanya menatap pergelangan tangan Brian yang tertutup seragam. "Pagi, Brian. Biasanya kamu sudah di kelas. Ada apa? Baru tiba?" tebaknya.
Brian menggeleng. "Sengaja menunggumu. Aku tidak sabar menanti akhir minggu," celotehnya.
Joanne membetulkan tali ransel yang sebenarnya baik-baik saja. Semua itu dilakukan agar rasa gugup Joanne berhasil tertutupi.
"Soal itu, ehm, ya, aku rasa dua hari tidak akan terasa lama. Ayo kita ke kelas," ajaknya.
Brian tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Sikap itu malah membuat Joanne tercenung. Apa yang diharapkan Brian? Ingin Joanne menggenggam tangannya? Benarkah?
"Apa yang kamu tunggu, Joanne?" ulang Brian.
Joanne bergantian menatap Brian serta telapak tangan pemuda itu. Ya, ia mengakui kalau dirinya tertarik pada Brian. Menyukai lengkungan memikat yang seakan diberikan Brian hanya untuknya seorang.
Namun, sentuhan kecil ini. Mungkin berlebihan, tetapi semuanya dimulai dari berpegangan tangan bukan?
'Astaga, mudah-mudahan wajahku tidak berubah merah,' batin Joanne.
"Kenapa, Joan?" tanya Brian lagi.
Joanne melangkah, rasanya tidak sopan mengabaikan tawaran Brian, toh seharusnya hanya berpegangan tangan kurang dari lima menit tidak akan berpengaruh apa-apa, tentunya selain jantung Joanne yang bertambah cepat berdetak.
"Brian, aku, aku, apa aku boleh menyentuh tanganmu?" tanya Joanne tergagap.
Brian tertawa. "Tanganku bersih, Joanne," kelakarnya.
Joanne melengkungkan senyum. Bukan itu yang dikhawatirkan, tetapi tangannya bergerak mendekati Brian.
Jemari Brian sudah hampir diraihnya, tetapi tiba-tiba saja ....