Aroma mint segar bercampur pucuk daun cemara menyeruak kala lengan seseorang membekap hampir setengah wajah juga leher Joanne. Menarik paksa gadis itu dua langkah untuk menjauhi Brian.
"Pagi, Brian, Joan," sapa Alice dengan senyum khas gadis Eropa. Memamerkan deretan gigi rapat tersusun rapi, putih juga bibir merah mudanya yang semakin menipis.
"Le-lepas! Lepas!" protes Joanne yang sontak meninju perut Ethan dengan sikunya hingga cengkeraman pemuda itu melonggar.
Joanne berbalik, mengelus leher juga bibirnya. Bukan karena sakit, tetapi itu adalah satu gerakan tak terduga yang pernah dilakukan seseorang padanya. Sekaligus bersentuhan dengan Ethan selalu saja memberikannya kejutan listrik statis yang semakin menyengat.
Ethan malah menyeringai lalu merangkul pundak Amanda yang sedari tadi sudah melipat wajah, tidak suka karena mencampuri urusan Brian dan Joanne.
"Kau gila? Apa kau sudah gila?" maki Joanne lagi.
Alice segera merangkul lengan Joanne. "Kamu seperti tidak mengenal Ethan saja. Dia memang suka bercanda seperti itu. Oh ya, Profesor Anna mencarimu, sepertinya dia ingin memberikan bimbingan murid baru di akhir minggu ini," ungkapnya.
"Bimbingan murid baru? Setelah cukup lama aku berada di sini? Akhir minggu ini?" ulang Joanne.
"Ya, apa kamu sudah ada rencana? Kamu tahu Profesor Anna bukan? Dia tidak suka jadwalnya diganggu," jawab Alice.
Joanne mengigit bibir, refleks menatap Brian yang dengan cepat mendekati Joanne lalu menarik tubuh gadis itu dari rengkuhan Alice.
"Aku tidak pernah mendengar hal semacam itu sebelumnya," sanggah Brian.
Alice coba tidak fokus terhadap lengan Brian yang merengkuh pundak Joanne. Iri terhadap gadis yang berada di dekapannya. "Oh, ya? Tidak mungkin Profesor Anna membual, 'kan?"
"Sebagai ketua dewan kesiswaan, tentu aku tahu dengan pasti apa saja yang menjadi program dari pembina. Aku tidak pernah mendengar hal semacam itu sebelumnya!" sergah Brian pantang menyerah.
Alice maju selangkah. Jelas Brian tahu segalanya dan semua ini hanyalah satu bagian kecil dari rencana untuk menggagalkan kencan menyebalkan antara Brian dan Joanne.
Walau di sekolah ini status Alice hanya sekadar siswi, tetapi jelas seluruh pergerakan sekolah dikendalikan atas perintahnya. Semua vampir kelas bawah yang mengelola sekolah tentu akan menuruti kemauan Alice.
Alice menggedikkan bahu. "Aku hanya wakilmu, Brian. Tentu saja, dibandingkan aku, kamu pasti lebih tahu segalanya, tapi aku hanya mengantarkan pesan. Mungkin saat istirahat nanti, Joan bisa bertanya langsung pada Profesor Anna. Kalau begitu, aku pergi dulu, sampai ketemu lagi," pamitnya.
Amanda dan Ethan menyusul kepergian Alice, sedangkan Brian dan Joanne hanya diam menyaksikan mereka menaiki anak tangga lalu hilang di antara kerumunan murid lain.
"Dia pasti hanya mengada-ada!"
Joanne tercekat ketika merasakan embusan hangat di dekat telinga. Suara itu begitu dekat hingga membuatnya sontak sedikit mendorong Brian.
"Kita, ehm, aku rasa sebaiknya segera ke kelas dan, nanti aku akan menemui profesor untuk menanyakan hal ini, ayo," ajaknya.
***
Setelah mengumpulkan keberanian serta didukung rasa penasaran yang memuncak, akhirnya Joanne sudah duduk di sofa tunggal ruang kerja Profesor Anna.
Joanne tidak bisa mengatakan ruangan ini besar atau sempit, tetapi bila dibandingkan dengan ruang kerja Carlos di rumahnya yang dulu, jelas ruangan ini lebih mungil dengan rak kecil berisi beberapa buku juga meja serta set komputer di atasnya.
Joanne tidak melihat banyak kertas seperti ruang kerja Carlos, mungkin saja karena Profesor Anna lebih menyukai semuanya terlihat simpel.
Mendengar suara derit pintu, Joanne merapikan roknya lalu diam memperhatikan Profesor Anna masuk lalu duduk di hadapannya setelah meletakkan sekotak s**u siap minum juga dua bungkus roti isi.
"Aku takut kamu tidak sempat makan siang karena pertemuan ini, tapi kita akan bicara sesingkat mungkin," tutur wanita berkacamata besar yang mungkin bisa menelan wajah mungilnya.
Joanne mengangguk. "Maaf kalau aku juga mengganggu makan siang—"
"Ah, jangan sungkan padaku. Aku hanya meneruskan pesan saja dari wali kota Spencer yang ingin mengajakmu juga ibumu makan siang di penghujung minggu ini," potongnya.
"Makan siang? Tapi, Alice, dia—"
"Ya, aku juga ingin membicarakan tentang sekolah, mengingat kamu istimewa, Joan," potongnya lagi.
Joanne terdiam. Ia tahu kalau beberapa guru di sekolah ini adalah vampir dan tidak aneh juga bila mereka ingin Joanne bisa berbaur dengan manusia, tetapi bukankah Joanne tidak akan lama tinggal di sini?
"Kamu berdekatan dengan murid lain. Interaksi kalian juga semakin baik. Aku bisa merasakan energimu mulai mengikat beberapa dari mereka, terutama Brian."
"Bukankah di sekolah ini juga ada vampir lain? Maksudku, Amanda, Alice dan Ethan? Mereka tidak membatasi kegiatan dengan murid lain," Joanne terdiam setelah sadar kalau ucapannya bernada tinggi penuh akan protes.
Profesor Anna mengganti posisi duduk dengan menyilangkan satu kaki lalu menaruh tangan di paha. "Well, mereka berbeda. Mereka tahu kapan harus berhenti menyerap energi manusia dan kamu belum belajar untuk melakukan itu."
Joanne mengigit bibir. Ini terasa sangat tidak adil. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan Profesor Anna. Belajar mengendalikan kekuatan sudah pernah dibahas Alice, tetapi penerapannya masih tidak bisa direalisasikan.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Joanne menyerah.
"Kamu tidak harus menjauhi manusia karena kita saling membutuhkan. Baiklah, kita akan bicara lagi hari minggu nanti di kediaman wali kota Spencer. Ajak serta ibumu. Aku rasa masih ada waktu untuk makan siang," tambahnya.
Joanne kembali mengangguk, meraih kotak s**u juga roti isi di atas meja lalu pergi dari ruangan Profesor Anna.
Di sepanjang lorong menuju kantin, Joanne terus memikirkan apa hal buruk yang mungkin akan menimpa Brian bila memang ia menyerap energi pemuda itu secara berlebihan walau Joanne tidak menyadarinya.
Memang, harus diakui, Joanne tidak pernah merasa lelah saat berdekatan dengan Brian, meskipun ia tidak berisitirahat.
Joanne terdiam kala melihat Brian duduk bersama beberapa siswa di pojok kanan kantin.
Menatapnya yang tertawa riang membuatnya merasa bersalah. Joanne takut kalau ia akan menjadi monster dan menyakiti orang lain.
Kalau seperti ini, mau tidak mau Joanne harus belajar sesuai dengan perintah Alice. Setidaknya ia harus tahu bagaimana caranya agar Brian tetap aman ketika mereka sedang berdekatan.
Joanne keluar dari ruang utama kantin, bergegas menuju beranda. Tiba di ambang pintu, ia melihat tiga vampir itu sedang makan siang.
Duduk nyaman di meja bundar dengan hidangan yang tentu jauh berbeda.
'Seharusnya mereka menambahkan spanduk VIP di sini,' batin Joanne.
Joanne berjalan tanpa ragu lalu duduk di sebelah Alice yang bingung melihat kedatangan Joanne.
"Tempat ini fasilitas sekolah, 'kan? Tidak keberatan aku duduk di sini, 'kan?' tanya Joanne.
Alice menggeser salad buah yang belum disentuhnya. "Ini yang bisa kamu makan tanpa bergidik. Aku jadi penasaran dengan pembicaramu bersama Anna."