Who Am I?

1005 Words
Seharusnya Joanne tidak sok tegar atau bersikukuh kembali ke sekolah. Jelas di hari kedua ini, banyak kejadian yang membuatnya terguncang. Sesekali ia menoleh ke arah Ethan. Entah mengapa Joanne merasa pemuda itu tampak sakit. Seharusnya pukulan Brian tidak dapat melukai Ethan serta kecup penuh semangat dari siswi itu pasti membuat pemuda itu lebih baik. Ethan mengangkat sedikit ujung alisnya saat menangkap basah Joanne kembali menoleh padanya. Seolah berkata, 'Apa yang kau lihat?' "Kenapa?" bisik Brian yang kemudian ikut menoleh ke belakang. Seakan setuju dengan pendapat yang tak pernah diutarakan Joanne, ya, wajah Ethan jelas lebih pucat dari biasanya. "Tidak apa," jawab Joanne sembari kembali coba fokus pada pelajaran yang sedang diterangkan. *** Perasaan bersalah yang seharusnya tidak pernah muncul, menghinggapi Joanne. Apa benar Ethan terluka karena pukulan Brian? Seharusnya ia biarkan saja Ethan mengambil ikat rambutnya. "Jadi, apa aku bisa mengantarmu pulang?" Kali ini Joanne menoleh. Sedari tadi pertanyaan Brian hanya ditanggapi kata, ya, oh, tidak saja oleh Joanne, tetapi kali ini pertanyaan Brian harus diberikan jawaban yang dipikirkan matang-matang. Kalau ya, berarti Brian akan tahu dirinya tinggal di belakang pemakaman terbengkalai. Di sebuah rumah tua mengerikan dekat hutan dan kenyataan itu jelas ingin Joanne sembunyikan dari Brian. Namun, bila jawabannya tidak, maka Joanne takut Brian memikirkan hal yang tidak perlu. "So?" desak Brian. Joanne menoleh ke arah tempat parkir dan lega tidak harus berbohong saat melihat mobil Pamela telah terparkir di sana. "Aku senang sekali kamu bisa mengantar, tapi hari ini sepertinya tanteku menjemput," ucapnya sembari menunjuk salah satu mobil. "Kalau begitu, mungkin lain kali. Sampai jumpa besok Joan," pamitnya. Joanne melambaikan tangan. Mengamati Brian yang meraih helm lalu pergi dengan motor sport merah miliknya. Joanne tidak tahu nilai dari motor itu, tetapi sepertinya Brian bukanlah pemuda dari keluarga sederhana. Tanpa sadar Joanne menyentuh tengkuk ketika merasa bulu kuduknya meremang. Sontak ia menoleh dan dilihatnya trio vampir itu sudah berdiri tak jauh darinya. Joanne menghela napas lalu berlari menghampiri mobil Pamela dan masuk tanpa membalas sapaan dari tante kesayangannya itu. "Ayo, Tante. Sebaiknya kita pergi saja dari sini," ajak Joanne. "Ada apa?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan. Berharap menemukan alasan mengapa Joanne tampak begitu gelisah. Joanne melemparkan tas ke jok belakang lalu memasang seat belt. "Aku selalu merasa terancam bila berdekatan dengan vampir sialan itu," akunya yang menunjuk Ethan dengan ujung dagu. Pamela tertawa pelan. "Aku tidak tahu alasan kamu menjuluki Ethan dengan panggilan itu, tapi ya, aku menyukainya." Joanne balas tertawa walau senyumnya hilang ketika melihat Alice serta Amanda tiba-tiba merengkuh tubuh Ethan yang ambruk dekat mobil. Entah mengapa tiba-tiba ia hendak keluar dari mobil. "Apa Ethan sakit?" tanya Pamela, "apa kamu mau memastikan dia baik-baik saja?" tanyanya lagi. Joanne urung melepaskan seat belt-nya. "Untuk apa aku melakukan itu? Ayo, Tante. Lebih baik kita pergi saja dari sini," ajaknya. "Baiklah. As your wish, Honey." Pamela memutar kunci, melepaskan rem tangan lalu memundurkan perseneling dan mobilnya melaju pergi meninggalkan sekolah. Sempat terdiam beberapa menit serta menikmati keterdiaman mereka, akhirnya Pamela berkata, "Aku cukup terkejut mendapati telepon dari Belinda. Untung saja dia menghubungiku di pagi hari. Aku punya waktu untuk menunda kegiatanku hari ini," ungkapnya. "Maaf, Tante kalau aku mengganggu pekerjaanmu," sesal Joanne. Pamela menepuk pelan pundak Joanne. "Tidak, Sayang. Aku memang perlu sedikit bernapas dan menemuimu adalah salah satu cara untuk menghibur diriku sendiri. Hanya saja, Belinda tidak mengizinkan aku untuk mengajakmu makan malam di luar lagi," sesalnya. "Tidak apa, Tante. Sebenarnya, aku yang meminta mom untuk menghubungi Tante karena mom berkata mungkin semua pertanyaanku bisa Tante jawab," ungkap Joanne. "Oh, ya? Apa ada sesuatu?" Joanne meremas jemarinya sendiri. Sebenarnya percakapan ini sering kali dibahas Joanne, tetapi sayangnya Pamela hanya mampu berkata kalau semuanya sulit dijelaskan. Dunia serta kejadian vampir terlalu rumit untuk dijabarkan dalam satu hari. Semuanya hanya harus dijalani serta diterima tanpa perlu ada kata mengapa di setiap pernyataan. "Tante. Aku tahu mungkin pertanyaanku ini bosan didengar, tapi aku sudah cukup mengerti tentang satu ancaman kematian serta lainnya. Mom tidak mau bercerita banyak karena mungkin memang tidak ada yang dia tahu, tapi aku yakin Tante mau sedikit bercerita tentang identitas kalian," jawab Joanne. Pamela melirik Joanne lalu menepikan mobil dan tak lupa mematikan mesin. "Kamu itu istimewa Joanne. Kamu sungguh istimewa." "Tante, aku perlu tahu kenapa—" "Begini Joan. Aku akan bercerita dan aku akan menjawab satu pertanyaanmu di akhir cerita. Carlos mungkin akan melarangku bertemu kamu bila dia tahu kalau, ya, cerita ini sampai padamu. Jadi, apa kamu bersedia untuk tetap diam serta berpura-pura tidak tahu apa-apa?" tanya Pamela memotong ucapan Joanne. Joanne mengangguk dengan cepat. "Ya, Tante, baik. Baiklah!" jawabnya menyanggupi. Pamela tersenyum lalu sedikit memiringkan tubuhnya guna menatap Joanne. "Joan, kamu beruntung karena pikiranmu tidak bisa dibaca oleh para vampir." "Kenapa?" Pamela tertawa. "Ingat hanya satu pertanyaan saja dan apa kamu yakin itu pertanyaan terbaik yang ingin kamu lontarkan padaku?" "Ba-baik, Tante. Aku akan diam dan mendengarkan." Pamela tertawa lalu mengelus pucuk kepala Joanne. "Baik. Sayang. Itu keputusan yang paling bijak. Jadi, aku akan mulai bercerita. Dengarkan ini baik-baik karena aku hanya akan bercerita satu kali dan kamu boleh bertanya satu saja." Joanne mengangguk-angguk. Matanya benar-benar diliputi rasa penasaran tak terkira. "Joan. Kamu pernah melihat uang logam? Uang logam mempunyai dua sisi. Semuanya saling membutuhkan dan tidak berarti bila tanpa sisi satunya. Itulah hidup. Bahagia dan pasangannya derita, surga neraka, baik buruk. Semuanya diciptakan berpasangan. Manusia memiliki dua hal itu dalam dirinya sendiri. Begitupun kaum kami." Joanne menahan diri untuk tidak menyela ucapan Pamela, ia hanya mengangguk-angguk. "Joan, vampir diciptakan dewa untuk melengkapi hidup manusia, begitupun sebaliknya. Kami sudah hidup berdampingan sejak ribuan bahkan mungkin sejak pertama kali bumi diciptakan, tapi seperti yang aku katakan. Kebaikan selalu saja berdampingan dengan sesuatu yang disebut keburukan dan teman-temannya yang lain. Sampai satu kata 'mengapa' menghancurkan kedamaian. Mengapa hanya vampir yang diizinkan dewa untuk dapat hidup selamanya? Mengapa hanya vampir yang diizinkan untuk tidak merasakan sakit, kebal wabah penyakit dan sebagainya? Pertanyaan itu yang menghancurkan kami, Joan." Joanne terdiam. Ia mengerti dengan sangat kalau Pamela begitu terluka ketika menceritakan hal ini padanya. "Ini baru saja dimulai, Joan." ucapnya sembari mengusap pipi Joanne.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD