Ini baru permulaan? Joanne tidak ingin menoreh luka, tetapi jelas Pamela harus tetap bercerita.
"Kami, para vampir yang telah melewati kehidupan pertama jelas berhasil melarikan diri dari manusia karena bisa membaca pikiran mereka, tapi vampir muda kami tidak memiliki kesempatan untuk itu, Joan. Terlebih manusia tahu kalau kami akan binasa bila terkena api. Aku bahkan tidak bisa melupakan hari p*********n itu, Joan."
Joanne bisa melihat kabut yang menyelimuti mata Pamela. Kepedihan itu turut dirasakannya.
"Mereka menginginkan kami mengubah mereka. Memberikan hidup abadi tanpa mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya sedikit mampu bertahan. Tubuh yang tidak bisa menerima racun kami, hanya akan mengubah mereka jadi monster haus darah, tapi mereka tidak mau mengerti. Kami dibantai, dipojokan hingga hanya tersisa empat vampir saja, Joan. Empat vampir sejati. Ardolph Vernon, Cedric Vais, Barnard Dawn, dan Hugo Loris."
Joanne coba menghapal nama yang disebut Pamela. Ia pernah mendengar nama Cedric bahkan tahu sosok Ardolph, tetapi Barnard dan Hugo. Jelas nama itu begitu asing baginya.
"Mereka berempat jelas menghimpun kekuatan untuk mempersiapkan perang selanjutnya, tapi dua dewa pencipta tentu tidak membiarkan dunia hancur begitu saja. Ingat Joan, semuanya memiliki dua sisi, bahkan dewa sekalipun. Pencipta kami, Nix dan Lyn."
Pupil mata Joanne melebar. Ya, ia juga pernah mendengar nama itu disebut Alice.
"Lyn dan Nix membawa satu ramalan dan aku tidak bisa menceritakan hal itu karena kelak salah satu dari para vampir sejati akan mengungkapkannya padamu. Bersabarlah sedikit. Oke? Mendengar itu, Ardolph segera meminta perundingan untuk pemisahan wilayah serta berupaya membujuk agar sementara waktu rekannya yang lain mau melupakan dendam bahkan menghapus keberadaan mereka di dunia dan ya, seperti yang kamu tahu sekarang. Vampir, itu hanya mitos, hanya satu cerita dongeng atau film saja. Ini sedikit membantu kami untuk menghimpun kekuatan selanjutnya. Jadi, itulah yang aku bisa ceritakan. Kamu mengerti?" tanya Pamela
Joanne mengangguk-angguk. "Tante, apa sekarang aku boleh bertanya?"
"Tentu saja, tapi bijaklah. Hanya ada satu pertanyaan dan ramalan itu, tidak ada yang tahu kecuali para vampir sejati. Jadi, bila kamu bertanya padaku, ya, itu sia-sia saja," jawabnya.
Ada banyak pertanyaan dan memutuskan satu saja pasti begitu sulit, tetapi ada satu hal yang mengganggu Joanne.
"Tante, mengapa dad selalu memaksaku untuk menjalin satu hubungan dengan keluarga Vernon? Aku tidak suka Ethan! Dia, menjijikkan!"
Pamela tertawa. "Apa kamu yakin pertanyaan itu paling penting? Apa kamu tidak mau tahu apa yang ditakutkan Carlos atau apa yang akan terjadi pada hari ulang tahunmu yang ke tujuh belas?"
Joanne tertegun. Alasan itu, jawaban itu ... memang perlu didapatkan Joanne, tetapi kali ini, ia harus tahu mengapa Carlos harus susah payah menjalin hubungan baik dengan pihak Ardolph meskipun Ardolph benci itu.
"Aku perlu tahu lebih banyak tentang Ethan, Tante," tegasnya.
"Baiklah. Ethan Vernon. Pemuda tampan itu. Aku bingung harus menceritakannya dari mana, tetapi kalian punya satu kemiripan, yaitu ada karena jatuh cinta."
"Jatuh cinta?"
"Iya. Jatuh cinta. Kami para vampir tidak diizinkan menjalin hubungan dengan para wanita selain dari kaum kami, tetapi siapa yang bisa menolak karunia itu kalau Dewa Eros sudah berkehendak. Ardolph dan Caroline serta Carlos dan Belinda. Mungkin ada beberapa pasangan yang lain, tetapi mereka tidak diberikan karunia untuk memiliki keturunan. Mereka yang memiliki jantung tetapi darah hitam jelas mengalir di setiap nadi, sepertimu Joan," jelasnya.
"Aku dan Ethan?" tebak Joanne.
"Kalian memiliki kemiripan, tetapi Ethan berbeda denganmu. Ayahnya adalah vampir sejati, sedangkan Carlos, ya, dia sepertiku. Manusia yang berhasil hidup sebagai vampir," jawabnya.
"Lalu, mengapa sepertinya aku yang selalu dianggap berbahaya, Tante?"
"Aku hanya bisa menjawab satu pertanyaan dan itu mengenai Ethan. Apa kamu sudah lupa?"
Kedua bahu Joanne turun. "Ya, Tante. Jadi, aku harus berbaik hati dengan Ethan karena kisah kita hampir mirip, tetapi aku masih ingat betul kalau jantung Ethan tidak berdetak. Maksudku dia benar-benar vampir. Apa karena dia sudah berusia tujuh belas tahun?" tebak Joanne lagi.
"Dia sudah lama mati, Joanne. Seseorang membunuh Caroline ketika kandungannya sudah sangat besar dan ya, Ardolph membawa keluarganya kembali dari kematian. Setiap vampir sejati memiliki kekuatan istimewa dan para vampir baru jelas akan memiliki kekuatan istimewa juga setelah kami berhasil melewati kehidupan kami yang ke empat puluh sembilan," jawabnya.
Melihat Joanne tidak lagi bertanya dan bahkan sepertinya semakin banyak yang dipikirkan gadis itu, Pamela kembali menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pergi menuju rumah Joanne.
"Baiklah, kita sudah sampai. Aku harus segera pergi. Maaf tidak bisa ikut makan malam denganmu. Joan," sesal Pamela.
Joanne melepaskan seat belt. meraih tasnya lalu mengecup pipi Pamela. "Baik, Tante. Aku suka aroma parfum baru milikmu."
Pamela tertawa lalu mengusap pucuk kepala Joanne. "Terima kasih atas pujiannya. Joanne, berhati-hatilah. Tetaplah di dekat Ethan atau Felix. Mereka akan menjagamu sampai titik darah penghabisan."
"Felix? Kucingku? Dia menjagaku? Yang benar saja, Tante, bahkan dia saja takut pada petir dan Ethan ... aku tidak mau dekat-dekat dengannya," sanggah Joanne.
"Baiklah. Oh, ya, berhati-hatilah. Jangan terlalu dekat dengan para pemuda. Kamu belum bisa mengendalikan kekuatanmu yang semakin besar tiap harinya. Oke?"
Joanne sejujurnya tidak tahu apa maksud dari ucapan Pamela, tetapi sepertinya ia juga tidak akan mendapatkan jawaban bila bertanya.
"Baiklah, Tante. Sampai jumpa nanti,"
"Sepertinya Belinda belum kembali dari berbelanja. Jangan keluar rumah, tetaplah di dekat Felix. Oke?"
Sekali lagi Joanne mengangguk lalu keluar mobil dan entah darimana datangnya tiba-tiba saja Felix mengeong tepat di kaki Joanne.
"Kau mengagetkan aku, Felix!" protes Joanne lalu menggendong buntalan bulu hitam bernyawa ke pelukannya. "Sampai ketemu lagi, Tante," ucapnya seraya melambaikan tangan ketika mobil Pamela meninggalkan pekarangan rumah.
Joanne mengambil kunci di dekat pot bunga lalu masuk ke dalam rumah. Tanpa ibunya, rumah ini semakin terasa mengerikan.
Joanne menurunkan Felix lalu melemparkan tasnya ke sofa dan bergegas menuju dapur.
Di sana ia mengeluarkan gelas lalu mengisinya dengan jus jeruk dingin. Menandaskannya dalam satu tegukan.
Joanne hendak pergi ke kamar, tetapi deru mobil yang mendekat. Gadis itu bergegas menuju pintu depan. Ia malas bila nanti Belinda akan berteriak-teriak meminta bantuan.
"JOANNE!" jerit Belinda ketika melihat Joanne muncul dari balik pintu.
Mendapatkan pelukan erat sampai ibunya harus meneteskan air mata jelas membuat Joanne kebingungan.
"Ada apa, Mom?" tanya Joanne kebingungan.
"Astaga, kamu dari mana saja? Aku terlambat menjemputmu karena berbelanja dulu dan sudah tidak ada siapa-siapa di sekolah! Bagaimana kamu bisa pulang? Kau membuatku hampir mati ketakutan, Joan!"marah Belinda.
"Aku? Mom, Tante Pamela yang mengantar aku pulang," jawabnya.
"Pa-pamela? Pamela siapa! Dia tidak bisa menjemputmu karena jadwal kerjanya padat!" sentak Belinda.