Just Kill Me

1005 Words
Lagi-lagi Joanne dan Pamela duduk bersisian dan Carlos berjalan mondar-mandir di hadapan mereka. "Mungkin Joanne tidak berbohong, Carlos," bujuk Belinda. "Jadi, kamu mau aku memercayai Joan? Hanya vampir sejati dan ... mereka yang bisa mengubah wujud!" "Mereka? Apa maksud Dad, mereka itu Lyn dan Nix?" tanya Joanne. Bagai ditusuk pedang, tatapan Carlos juga Pamela menghunus Joanne. "Kau tidak boleh menyebut nama mereka, Joan!!" sentak Carlos. Pamela merangkul pundak Joanne. "Sayang, hanya mereka yang memiliki kekuatan pengendalian unsur yang bisa menyebutkan nama itu secara gamblang. Mereka adalah Dewa kami. Bahkan vampir sejati pun sungguh menghindari penyebutan nama mereka," jelasnya. Joanne hendak berucap, tetapi sekali lagi ia merasa lebih baik diam saja serta merahasiakan pembicaraan dengan sosok palsu Pamela. "Sudahlah, bukankah sebaiknya kita bersyukur saja karena Joan baik-baik saja dan mulai sekarang, aku akan selalu mengingatkan kamu untuk tidak lupa membawa ponsel ke sekolah," tegas Belinda. "Baiklah, Mom. Kalau begitu sebaiknya aku kembali ke kamar saja," pamit Joanne. "Ya, beristirahatlah. Aku akan memanggil bila makan malam sudah siap," timpal Belinda. Joanne bangkit, sebentar menatap Pamela lalu bergegas pergi dengan pengawalan dari Felix. "Aku tidak merasakan energi apa pun di sekitar Joanne. Carlos, apa sebaiknya kita mulai mencari di mana keberadaan mereka?" tanya Pamela dengan penuh harap memandang Carlos. "Kita tidak tahu siapa yang menentang ramalan itu, Hugo dan Barnard jelas berusaha melenyapkan Joan. Selagi Joan berada di bawah lindungan klan Utara, dia akan baik-baik saja." Kini giliran Carlos yang menatap Belinda, kecemasan tidak dapat ia sembunyikan. "Belinda, aku hanya bisa mengawasi kalian dari jauh. Aku tidak mendapatkan izin untuk berlama-lama atau sering berkunjung ke wilayah Utara. Pamela juga akan kembali ke Selatan. Kamu harus membujuk Joan agak mendekatkan diri pada Ethan. Ini demi keselamatannya." Walau Belinda tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi memilih until mengangguk pelan adalah cara terbaik untuk membungkam Carlos. Perlahan ia menatap ke arah tangga, menerka apa yang dipikirkan Joanne serta merasa bersalah karena memosisikan anaknya dalam kondisi sulit. Sementara itu, setelah hampir lima kali jalan mondar-mandir di kamar, sekali lagi Joanne menatap Felix yang membersihkan bulunya sendiri di atas tempat tidur. "Felix? Jelas dia berkata kalau Felix menjagaku," cicit Joanne. Joanne mendekati Felix, mengangkat tubuh kucing kesayangannya lalu mengamati setiap bagian dari Felix dan hasilnya Felix persis seperti kucing kebanyakan pada umumnya. Felix mendesis tak suka kala Joanne menyentuh perutnya lalu melompat turun dari gendongan Joanne. "Kenapa dia harus mengatakan itu tentangmu, ya, Felix?" gumam Joanne. Felix menggerakkan ujung telinganya lalu merenggangkan tubuh kemudian berjalan mendekati sofa. Tidak ada yang bisa dijawab kucing hitam itu. Joanne berjalan menuju jendela, menyingkap gorden lalu membuka daun jendela. Udara malam membelai wajahnya. Suara aneka makhluk malam terdengar saling bersautan dari arah hutan. Joanne bisa melihat ujung pohon besar menjulang di tengah hutan. Ia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya di dalam sana, tetapi Joanne merasa sepertinya ia harus masuk ke dalam sana. Joanne mengalihkan pandangannya ke langit. Hal terbaik tinggal di Dalton adalah pemandangan langit bertaburan bintang yang tak pernah dapat ia temukan di kota besar. Dari ribuan bintang itu, Joanne menerka mana yang paling terang, paling istimewa. "Istimewa," cicit Joanne. Wanita yang menyerupai Pamela jelas mengatakan kalau Joanne begitu istimewa, sangat istimewa dan Ethan juga Felix akan melindunginya. "Ethan, Ethan, Ethan! Kenapa harus melibatkan dia? Mungkin kalau Felix bisa melindungiku dengan cakarnya, tapi Ethan? Apa yang bisa dia lakukan? Satu pukulan dari Brian saja sudah membuatnya kesakitan! Payah!" "Meremehkan aku?" Seketika Joanne berbalik. Gadis itu kehabisan oksigen kala melihat Ethan duduk menopang kaki di sofa. Pemuda itu bangkit, dengan wajah yang cukup kesal mendekati Joanne. "Ka-kamu, tidak sopan untuk—" "Aku bisa melindungimu, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya bila ibuku tidak meminta. Berhati-hatilah dalam menyebutkan namaku karena suaramu jelas menggangguku." Joanne mengigit bibir. Ini tidak masuk akal, tetapi apa benar dia adalah Ethan? Sungguh-sungguh Ethan? Mungkin bila Ethan memiliki jantung, pastinya organ itu berdegup kencang kala tiba-tiba Joanne menangkup pipinya serta mengusap pelan dengan ibu jari Joanne. "Apa, ini sungguh kamu?" tanya Joanne pelan. Sempat terlena beberapa detik akan paras menawan Joanne, akhirnya Ethan menepis tangan gadis itu dari pipinya. "Memangnya kau pikir aku siapa?" sentaknya. Bibir Joanne mengerucut. "Ya, hanya ku yang bisa membentakku seperti itu! Dasar menyebalkan!" makinya. "Kau yang memintaku datang dan ini balasanmu setelah aku sudah payah melakukan teleportasi?" balas Ethan. "Aku, aku tidak memintamu datang! Kau yang mendatangiku!" timpal Joanne. Ethan merengkuh pinggang Joanne dan gadis itu tidak punya waktu untuk berontak ketika pemuda itu mendekapnya erat-erat. "Kamu tahu apa yang menggangguku? Aku bertanya bagaimana rasa darahmu? Aromanya membuatku terus memikirkannya setiap saat," aku Ethan sembari mengecup kepala Joanne. "Ethan, lepaskan aku! Kau, kau sudah gila!" Semakin Joanne berusaha melepaskan diri dari Ethan, maka dekapan pemuda itu semakin erat. Mendengar isak tangis pelan dari bibir Joanne, seketika Ethan mendorong tubuh Joanne hingga menabrak ranjang. "Jangan sesuka hati menyebut namaku!" marah Ethan kemudian melompat dari jendela kamar Joanne. Berkali-kali Joanne menyeka air matanya. Entah mengapa ia harus begitu terluka ketika Ethan mengatakan ingin membunuhnya. "Si Bodoh itu. Kenapa aku harus memikirkan dia? Aku membencimu Ethan! Kau dengar itu! Aku membencimu Ethan Vernon!" pekiknya. Ethan yang sudah melangkah jauh meninggalkan rumah Joanne kembali menoleh kala dengan jelas mendengar gadis itu memanggil namanya. Alih-alih mengabaikan, Ethan malah kembali berlari menuju rumah Joanne karena cemas gadis itu berada dalam bahaya. Dari balik jendela, ia melihat gadis itu duduk sembari memeluk lututnya sendiri. Menangis sesenggukan sembari memaki Ethan. "Kau tahu, Ethan. Kalau memang kamu bisa membunuhku, maka lakukanlah sekarang Ethan. Aku tidak ingin berubah menjadi vampir mengerikan seperti kamu atau ayahku, Ethan. Aku hanya ingin bisa menjalani hidup seperti manusia biasa!" Ethan mengepalkan tangannya kala mendengar dengan jelas permintaan putus asa dari Joanne. "Ini begitu sulit dan aku selalu saja di hadapkan pada pilihan yang tidak aku sukai, malah aku tidak punya pilihan itu, Ethan. Kau mendengarku, Ethan?" "Itulah yang akan terjadi bila kamu tidak bisa menerima dirimu sendiri, Joan," cicit Ethan. Ethan mengibaskan tangannya, bersamaan dengan itu angin menutup gorden kamar Joanne hingga ia tidak lagi bisa menatap tangisan Joanne dan untuk waktu yang cukup lama, Ethan berdiam diri, mendengarkan tangisan Joanne.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD