Aneh rasanya menginjakkan kaki di ruangan besar penuh dengan aroma kayu lembab juga jamur di musim penghujan, tetapi Ethan terus melangkah masuk.
Berjalan menyusuri setiap lorong penuh buku hingga berderet sampai hampir menyentuh langit-langit. Mungkin para vampir itu menjadikan buku sebagai hiburan selama ratusan atau ribuan tahun.
Walau tidak tahu apa yang dicarinya. Ethan meraih satu buku berjudul Rahasia. Buku tebal bersampul kulit kayu oak yang mengkilap itu kelas miliki rahasia didalamnya.
"Apa kamu masih sakit sampai menginjakkan kaki di ruangan ini?"
Buku itu terlepas dari tangan Ethan. "Kau mengagetkan aku, Alice!" protesnya.
Alice tersenyum kemudian meraih buku itu. "Rahasia. Apa yang sedang kamu cari? Aku sudah membaca berulang-ulang seluruh buku yang ada di tempat ini. Jadi, ya, mungkin aku bisa memberi jawaban," ujarnya.
"Semacam cara tetap menjadi manusia atau cara menghindari perubahan vampir," jawab Ethan.
Alice tertawa kemudian mengembalikan buku itu pada raknya. "Tidak ada kalimat itu di buku ini pun semua buku yang ada di rumah ini. Kau mengada-ada, Ethan. Ada apa denganmu?" selidiknya.
"Kamu pasti tahu sesuatu, 'kan Alice. Mengingat usiamu hampir seribu tahun, rasanya pasti kamu tahu sesuatu!" tegas Ethan.
"Membicarakan usia dengan wanita itu sungguh tidak sopan, Ethan. Omong-omong, kamu dari mana saja? Tumben melewatkan makan malam."
"Kamu selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan dan aku semakin terkesan. Katakan saja, kamu pasti punya satu petunjuk!" desak Ethan.
"Ada apa denganmu? Apa kamu merindukan detak jantungmu? Berubah lagi menjadi manusia? Tidak ada hal semacam itu, Ethan," jawab Alice.
"Andai saja aku bisa merindukan itu atau ingat bagaimana rasanya saat jantungku berdetak, tapi aku tidak punya kesempatan untuk mengingat itu, Alice."
Alice mengerutkan dahinya. Walau ia sudah tahu apa yang sedang Ethan cari, tetapi memastikan kalimat itu keluar sendiri dari bibir pemuda yang dijaganya adalah pilihan terbaik.
"So, what are you looking for?"
"Cara tetap menjadi manusia. Semacam itu," jawab Ethan.
"Apa kamu sedang mencari tahu hal yang tidak berkaitan denganmu?" desak Alice.
Ethan menggaruk ujung alisnya, berusaha menghindari tatapan Alice, tetapi malah kembali terjebak dalam kecurigaannya.
"Iya, aku mencari tahu tentang Joanne. Setiap kali dia menyebut namaku dan rasanya itu ada tepat di samping telingaku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya. Itu mengesalkan sekali!" aku Ethan.
Alice terdiam, dengan sigap meraih tangan Ethan lalu menggulung lengan mantelnya. "Pergelangan tanganmu masih kosong. Bagaimana mungkin kamu bisa mendengar panggilan Joanne?"
"Aku tidak mengada-ada! Panggilan darinya membuatku gila dan aku tidak pernah tega melihat seorang wanita menangis!"
Alice masih tidak menanggapi ucapan Ethan. Ia berpikir dengan keras. Bagaimana bisa Ethan mendengar panggilan dari Joanne?
Untuk bisa mendengar seruan dari vampir, mereka harus saling menautkan tanda kepemilikan di pergelangan tangan dan jelas Ethan tidak memiliki itu.
"Atau apa mungkin Joanne sudah berhasil kamu tandai?" tanya Alice penasaran.
"Hah? Kau tidak mendengarkan aku Alice?" protes Ethan.
Alice jelas mengacuhkan Ethan, ia menggaruk ujung dagunya lalu berjalan pelan meninggalkan Ethan yang masih kebingungan.
"Ini aneh,kalian harus benar-benar terikat, setelah itu, kalian baru bisa mendengar satu sama lain atau jangan-jangan ... Ethan! Apa kamu mencintai Joan? Apa kalian sudah tidur bersama? Mungkin karena Joan belum sepenuhnya berubah jadi vampir maka tanda itu tidak muncul di pergelangan tanganmu!" tebak Alice.
"A-aku apa? Kau gila? Mencintai Joan? Tidur dengannya? Aku masih memiliki lusinan pilihan vampir terbaik untuk menjadi mate-ku!" marah Ethan.
"Oh, tidak ya? Berarti dugaanku keliru. Joan, aku semakin penasaran padanya," cicit Alice.
Ethan menarik tangan Alice. "Jawab pertanyaanku dengan serius, Alice!"
"Apa? Aku tidak berbohong padamu. Tidak ada hal semacam itu, Ethan. Joan akan mati sebagai manusia dan aku juga tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi pada darah hitam yang mengalir di tubuhnya. Semua itu tidak tertulis di buku manapun. Untuk apa aku berbohong padamu," jawabnya.
Ethan menyugar rambutnya. "Sial! Jadi, apa yang harus aku lakukan? Aku harap dia tidak menyebut namaku lagi!"
Alice tertawa. "Karena aku menyayangimu, aku akan berusaha mencari tahu. Ingat, kita masih bisa membela diri bila ingin berdekatan dengan Joanne, tetapi kali ini sepertinya Amanda begitu cemburu melihatmu semakin dekat dengan Joanne."
"Haruskah aku berterima kasih padamu karena sudah mengingatkan tentang Amanda?" Alice kembali tertawa lalu meninggalkan Ethan sendirian.
Ethan turut mengekori langkah Alice. Mereka berhenti tepat saat berpapasan dengan Ardolph juga Amanda.
"Kalian sudah kembali dari perbatasan?" tanya Alice.
Ardolph mengamati putranya yang tidak pernah menunduk ketika ia memandangnya lalu menatap Alice. "Apa Benjamin sudah tiba?"
Alice mengangguk. "Semua telah menunggu di ruanganmu."
"Baiklah, ayo kita selesaikan masalah ini," tegas Ardolph, "dan Ethan, ikutlah bersama kami," lanjutnya.
Ethan terdiam. Tak biasanya Ardolph mengizinkan Ethan terlibat dalam masalah penting klan. Jadi, ia tidak mau membuang kesempatan langka ini.
Ardolph puas mendapat anggukan dari Ethan lalu berjalan menuju lantai bawah tepat di ruang kerjanya.
Di sana, beberapa panglima perang sudah menunggu dan segera bangkit ketika Ardolph memasuki ruangan.
"Duduklah," titah Ardolph yang kemudian mengamati tiap-tiap wajah di hadapannya.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka menyerang karena gadis itu," ungkap salah satu pria berambut keperakan yang diikat asal.
"Tidak biasanya kamu gentar Laurent," goda Alice yang mencondongkan tubuh ke arah Laurent.
Pria itu tertawa. "Tidak, Love. Tentu saja aku akan selalu berani untukmu," balasnya.
Tawa Alice terlepas hingga ia harus menyeka ujung matanya. "Maaf-maaf. Silakan lanjutkan laporan kalian."
"Kehadiran gadis itu jelas tidak memiliki keuntungan untuk klan. Melindunginya sama saja membahayakan klan. Sepertinya kamu yang harus membujuk Caroline," ucap Amanda.
"Hugo dan Barnard jelas menginginkan gadis itu dan mereka mulai bergerak. Sedikit demi sedikit mengganggu ketertiban di perbatasan," ucap pria tampan yang duduk di sebelah Laurent.
"Apa kamu yakin soal itu, Ben?" tanya Ardolph.
"Ya. Beberapa dari mereka tertangkap mendekati hutan Iberis. Kami masih bisa menangani penyusup itu, yang aku khawatirkan adalah mereka akan menganggu petani yang tinggal tidak jauh dari hutan Iberis. Di sebelah barat dekat lembah Winfild," jawabnya.
"Perketat penjagaan di sana. Mereka pasti membutuhkan darah lebih banyak." Ardolph kembali menatap Ethan. "Ethan, apa kamu bisa menjauh dari Dalton? Pergilah ke Semenanjung Umena. Aku akan membawamu menemui Rose dan menitipkanmu padanya."
"Aku pikir Dad akan mempercayakan satu pekerjaan hebat untukku, tapi rupanya Dad hanya menyuruhku untuk bersembunyi layaknya pecundang," sindir Ethan.
Alice menyenggol kaki Ethan. Jelas saat ini mendebat Ardolph adalah satu kesalahan besar, tetapi Ethan malah bangkit.
"Dad, kau malah memaksaku untuk tetap tinggal dan menjaga Joanne persis seperti yang diinginkan mom!" pekiknya kemudian pergi meninggalkan pertemuan.