Alice kembali menyadarkan punggung di bantalan kursi setelah Ethan keluar dengan membanting pintu hingga mungkin engselnya sedikit bergeser.
Ethan adalah miniatur Ardolph. Walau rupanya lebih mirip Caroline, tetapi jelas seluruh sifat serta keras kepala ayahnya diwarisi Ethan.
"Kalian sama keras kepala serta tidak suka diremehkan. Ardolph, seharusnya kamu bisa menangani titisanmu itu," cetus Alice.
Semua mata tertuju pada si Cantik Pemberani yang menjadi tangan kanan Ardolph sekaligus penjaga Ethan. Hanya Alice satu-satunya vampir yang mampu berkata gamblang sesuai dengan kata hatinya.
"Bisakah kita bicara berdua saja, Alice?" tanya Ardolph.
"Sure. You're my Alpha," jawab Alice.
Dengan satu anggukan semua orang meninggalkan ruangan dengan tertib lalu setelah pintu benar-benar tertutup dan suara hak sepatu Amanda menghilang. Ardolph memijat dahinya.
"Pusing bertengkar dengan dirimu sendiri, Ardolph?" ejek Alice.
"Aku hanya mencemaskan dia, Alice," aku Ardolph.
"Iya, tapi kamu lupa kalau Ethan memiliki darahmu dan vision Caroline jelas seringkali tepat. Walau aku juga tidak bisa setuju seratus persen untuk melindungi Joanne, tetapi mengabaikan vision Caroline adalah keliru," ucap Alice.
"Aku tidak bisa mempertaruhkan klan serta keluargaku pada garis takdir Joanne."
"Kita tidak pernah tahu ancaman yang sebenarnya ada di mana, Ardolph. Sedari dulu, kita hanya mencegah peperangan melawan manusia kembali terulang. Ardolph, kamu sendiri tahu kalau kita berada di wilayah yang tepat. Lyn dan Nix jelas membagi klan dengan cara paling adil serta memiliki tujuan masing-masing."
Ardolph mendengarkan secara saksama ucapan Alice dan menyadari ia seringkali melakukan hal keliru saat sedang panik.
"Aku memercayakan Ethan dan Joanne padamu, tetapi aku juga tidak dapat mencegah Amanda untuk melepaskan rasa cemburunya," tegas Ardolph.
"Amanda. Apa kamu sungguh merestui hubungannya dengan Ethan?" selidik Alice.
Ardolph tertawa pelan. "Setelah tiba-tiba dia tahu aku mengikat tanda dengan Caroline dan dia mengikatkan diri pada bayi kami?"
"Setelah kamu menolak cintanya," ucap Alice memperjelas kalimat Ardolph.
Ardolph mengangguk. "Cinta. Satu kalimat penuh sengsara serta kebahagiaan. Kau setuju denganku?"
Alice bangkit, menepuk roknya hingga sedikit tersingkap lalu melangkah pergi sembari berkata, "Membahas soal cinta hanya membuatku ingin membunuhnya saja, Ardolph. Aku akan menjaga Ethan dan Joan. Percayakan mereka padaku."
Senyum Ardolph mengembang sempurna. Punggung Alice semakin menjauh. Tak pernah terbayangkan kalau wanita malang itu akan menjadi bagian terpenting di klan serta hidupnya.
***
Joanne sempat ragu saat melangkah turun dari mobil Belinda. Hari ke tiga bersekolah. Setelah hari-hari penuh kejutan, Joanne sangat berharap hari ini akan berlalu tanpa ada sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya.
"Aku akan menjemputmu pukul dua sore nanti, Joan. Jangan pergi dengan siapa pun termasuk Pamela. Kau mengerti?" seru Belinda.
"Baik, Mom. Sampai ketemu nanti sore, berhati-hatilah," balas Joanne yang kemudian berjalan mengikuti kerumunan murid lainnya.
Naik ke lantai tiga, dua lorong dari tangga, kelas paling pojok. Joanne sudah menghapal letak kelas serta bagian penting sekolahnya. Mantra Alice jelas tidak bisa membuatnya berlama-lama menghapal semuanya.
Menurut semua orang, kehadiran Joanne di sekolah ini sudah berbulan-bulan dan bukankah tidak hapal letak kelas hanya akan membuatnya tampak konyol?
"Joan!"
Joanne menoleh. Tak pernah bisa menolak untuk ikut tersenyum membalas wajah ceria Brian yang berlari mendekatinya.
"Pagi, Brian," sapanya.
"Pagi juga, bagaimana tidurmu?"
Lagi-lagi Joanne harus berbohong, ia tidak yakin kapan tertidur setelah semalam suntuk menangis. "Apa wajahku mengerikan? Semalam aku sulit tidur," jawab Joanne.
Brian menangkup pipi Joanne. "Tidak, kamu selalu cantik seperti biasanya."
"Apa kau buta sampai tidak bisa melihat kantung mata di wajah gadis itu?"
Serempak mereka menoleh. Ethan menyeringai, Amanda membuang wajahnya sedangkan Alice melambaikan tangan berusaha menampilkan wajah penuh persahabatan.
Brian melepaskan tangan dari pipi Joanne, sebenarnya ingin pergi saja dari situ, tetapi Joanne malah terpaku sembari menatap wajah Ethan.
"Apa kalian ingin tetap di sini untuk menonton pasangan Romeo-Juliet ini?" sindir Amanda.
"Kita pergi dari sini," timpal Ethan yang berjalan melewati Joanne dan tak lupa menyenggol pundak gadis itu hingga Joanne sempat terhuyung beberapa langkah.
Joanne mengepalkan tangan, geram akibat senggolan sengaja dari Ethan. "Awas saja! Aku akan membalasmu, Ethan!" cicitnya.
***
Sepanjang hari Joanne tampak begitu kesulitan menahan dirinya sendiri untuk tidak menoleh serta menatap Ethan. Berkali-kali ia mengetuk ujung pena ke meja atau mengentak-entakkan kaki ke kaki kursi hingga akhirnya rasa gelisah itu ditangkap baik oleh Brian.
"Kamu kenapa? Tidak enak badan?" tanya Brian cemas.
Joanne menunduk, berharap Brian tidak sadar kalau ia juga tidak tahu mengapa hatinya begitu gelisah. "Aku ingin ke kamar mandi. Sebentar," jawabnya.
Joanne bangkit, menepuk belakang roknya lalu berjalan menuju depan kelas, sempat menoleh ke arah Ethan sebelum meminta izin pada profesor yang mengajar.
"Kendalikan dirimu, Joan. Kenapa kamu begitu kesal? Ya, kenapa dia menyenggolku? Menyebalkan bukan?" gumamnya sembari terus berjalan menuju kamar mandi.
Setibanya di sana, Joanne mencuci tangan lalu diam beberapa saat sembari memandangi wajahnya sendiri di cermin.
"Apa benar kalau aku memanggilnya, dia pasti akan datang?" tanya Joanne lagi.
Gadis itu membuka satu per satu pintu toilet guna memastikan tidak ada orang di dalamnya lalu menyelot pintu kamar mandi.
"Ethan," panggilnya.
Joanne menoleh ke kiri dan kanan, tetapi yang bersangkutan belum juga datang.
"Ethan, Ethaaan, Ethan!" panggilnya lagi. Joanne kembali memeriksa satu per satu bilik toilet, tidak tampak batang hidung Ethan. "Dia hanya mengada-ada!"
"Karenamu aku jadi tahu seperti apa toilet perempuan. Apa aku harus berterima kasih?" Gelenyar dingin menyergap tengkuk Joanne. Gadis itu tidak mau menoleh, walau Ethan tiba-tiba menyentuh pundaknya. "Kenapa?" Dalam satu tarikan, Ethan memutar tubuh Joanne hingga gadis itu tanpa sengaja jatuh ke dekapan Ethan.
Keduanya saling menatap. Setiap kali Ethan memandang jauh ke dalam mata Joanne, jelas ia merasakan ada kekuatan aneh yang menariknya untuk tetap berada di dalam sana. Seakan mata itu sudah sejak lama dikenalnya.
"Siapa kamu?" tanya Ethan.
Joanne mengerjapkan mata lalu mendorong tubuh Ethan agar jauh-jauh darinya. "Apa kamu sungguh-sungguh bisa mendengar panggilanku?" tanyanya.
Pertanyaan Joanne jelas mengingatkan Ethan pada ucapan Alice, dengan cepat Ethan menarik tangan Joanne lalu menggulung lengan kemejanya.
"Apa yang kamu lakukan?" protes Joanne.
"Diamlah, Joanne!" sentak Ethan yang sibuk memeriksa pergelangan tangan Joanne. "Mungkin bukan di sini, apa di pergelangan yang satunya?" cicit Ethan.
"Apa yang kamu cari?" marah Joanne kemudian mengibaskan tangan Ethan.
"Alasan aku bisa mendengarmu. Alasan kenapa kamu bisa memanggilku sesuka hati!" jawabnya dengan ekspresi yang juga marah.
Joanne gemetar. Pupil mata Ethan jelas berubah. Seakan mengatakan sudah muak dan waktunya menghabisi Joanne.