Joanne bisa menerima bila Ethan memberikan satu alasan. Cukup satu saja alasan mengapa dia sangat membenci Joanne? Pasti Joanne bisa menerimanya dan tidak kesal sendiri saat mendapat perlakukan kurang menyenangkan bila berpapasan dengan pemuda itu.
Biasanya, Joanne tidak mudah menangis, tetapi ia selalu saja meluapkan amarahnya dengan satu derai air mata sialan yang sulit ditahan.
Ethan yang tidak pernah bisa melihat air mata melepas tangan Joanne. Kelemahannya itu sungguh menganggu. "Kenapa kamu menangis? Dasar cengeng!" sentaknya.
Berkali-kali Joanne menyeka air matanya, tetapi keran air di pelupuk mata jelas terbuka lebar. "Apa salahku padamu? Aku juga tidak ingin berada di kota ini!" balasnya.
Pembahasan ini lagi. Ethan sungguh kesal karena tidak dapat menahan dirinya untuk menemui Joanne saat gadis itu memanggil namanya dan itu juga bukan kemauan Ethan.
"Kau bertanya padaku, jadi aku harus bertanya pada siapa?" timpal Ethan.
Joanne kembali menyeka ujung hidungnya yang mulai berair. "Aku benci berada di dekatmu, Ethan! Tidak bisakah kamu mengacuhkan aku saja? Aku tidak pernah memintamu atau siapa pun menjagaku!"
"Memangnya kamu pikir aku mau melakukannya?" bentak Ethan.
"Kalau begitu jangan! Enyahlah dari sisiku Ethan!!" jerit Joanne.
Ethan mundur beberapa langkah, menatap aneh Joanne kemudian menendang pintu toilet hingga engselnya terlepas lalu pergi begitu saja.
Tubuh Joanne melorot, tanpa mempedulikan lantai toilet yang mungkin mengotori roknya, Joanne tetap duduk diam sembari membekap diri sendiri.
Semua ucapan yang tak seharusnya terlontar jelas keterlaluan. Meminta seseorang untuk enyah adalah satu tindak kejahatan mengerikan yang tidak bisa Joanne bayangkan dan itu dilakukannya.
Setelah puas menangis hingga akhirnya melewatkan jam pelajaran pertama, Joanne memutuskan untuk tinggal di ruang kesehatan dengan alasan sakit kepala.
Kali ini wajah pucatnya benar-benar bisa mengelabui petugas yang berjaga dan ia bisa tidur sampai bel istirahat berdentang.
***
Joanne membuka mata ketika mendengar suara pintu terbuka. Hampir saja ia melupakan Brian, tetapi suara pemuda yang kedengarannya khawatir itu malah membuat Joanne bertambah pusing.
Tirai putih tersingkap dan kecemasan benar-benar singgah di wajah Brian. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Joanne tidak merasa yakin, tetapi sebaiknya anggukan kepala mampu membuat Brian berhenti bertanya. "Aku akan masuk kelas selanjutnya," ucap Joanne.
"Beristirahatlah bila memang kamu merasa lebih baik. Aku cemas karena kalian tidak kembali setelah meminta izin ke toilet," ungkap Brian.
"Kalian?" tanya Joanne memastikan jawabannya sendiri.
"Ya, kamu dan Ethan. Aku khawatir sampai berpikir mungkin Ethan membuat masalah dan kamu terlibat di dalamnya," jawab Brian.
Joanne terdiam lalu coba duduk. Jelas sekali kalau Ethanlah yang terjebak dalam masalah yang diciptakan Joanne. "Lalu di mana dia sekarang?"
Dahi Brian berkerut, Joanne tahu Brian tidak suka dengan pertanyaan itu, tetapi ia harus tahu di mana Ethan.
"Entahlah, aku juga tidak melihat mobilnya di halaman parkir," jawab Brian.
Joanne seharusnya merasa lega karena Ethan sungguh pergi dari sisinya, tetapi itu malah membuatnya semakin merasa bersalah. "Aku, sepertinya telah mengatakan sesuatu yang tak semestinya, Brian," aku Joanne.
Dahi Brian kembali berkerut hingga ujung alisnya bertemu. "Apa? Ethan hanya berusaha mendapatkan kamu, Joan. Satu-satunya gadis yang menolak untuk tinggal di sisinya," tegas Brian.
"Tapi, dia tidak pernah menggodaku, Brian!" sergah Joanne.
"Jadi, kamu berharap dia menggodamu?" sindir Brian.
Kali ini Joanne tidak suka dengan ucapan Brian. Jelas mereka tidak memiliki hubungan dan Joanne juga tidak harus meladeni atau bertanggungjawab akan kecemburuan Brian.
"Terserah apa katamu, tetapi aku harus menemui Alice!" tegasnya.
Joanne turun dari ranjang lalu sedikit berlari menuju lantai tiga. Saat jam istirahat, biasanya mereka bertiga akan duduk di kantin, berusaha berbaur dengan murid lain dan menikmati waktu istirahat.
Dugaan Joanne terbukti setelah mendapati Alice dan Amanda bersama beberapa murid lain duduk melingkar di meja kantin.
Tidak tampak kehadiran Ethan di antara mereka dan itu membuat Joanne cemas. Ketika nalurinya menuntun Joanne menghampiri mereka, bibir Joanne malah membeku.
"Mencari seseorang, Joan?" tebak Alice.
Joanne tersentak. Akal sehatnya kembali bersamaan dengan tatapan penuh tanya dari orang-orang itu. "Tidak, tidak ada apa-apa," jawabnya kemudian berlari pergi secepat yang Joanne bisa.
Hingga tiba di kelas, ia kembali bisa mengatur deru napasnya. Joanne menatap kelas yang kosong lalu duduk di mejanya, meraih tas serta mengeluarkan bekal makan siang yang disiapkan Belinda.
Satu kotak pasta dingin serta sebotol minuman jus rasa jeruk. Joanne bisa menghangatkan pasta miliknya di kantin, tetapi pilihan itu dengan cepat ditepis ketika ingat wajah-wajah penasaran yang baru saja menatapnya.
Hilang sudah selera makan Joanne. Ia kembali memasukan kotak makan siangnya ke tas dan tanpa sadar menoleh ke belakang.
Kursi kosong Ethan jelas membuatnya semakin bersalah. Joanne membekap bibirnya ketika hampir saja memanggil nama Ethan. Tentu ia tidak ingin pemuda itu berpikir kalau Joanne berniat mempermainkannya karena sungguh Joanne memang tidak ingin berurusan dengan Ethan.
Namun, Joanne hanya ingin Ethan tetap ada di sini dan bersikap seolah tidak pernah mengenal dirinya. Mengacuhkan keberadaan Joanne atau hanya sesekali menyapa seperti murid lain yang berbasa-basi.
"Tidak perlu merasa bersalah padanya. Dia hanya keluar untuk mencari pelampiasan dan udara segar."
Secepat kilat Joanne menoleh dan Alice yang kedatangannya tidak terdengar Joanne sudah duduk manis di sampingnya.
"Alice, aku, tidak bermaksud," sesal Joanne.
"Iya dan Ethan juga tidak mau berurusan denganmu juga, tapi yah, ada urusan lain yang tidak perlu kamu tahu, Joanne," jawab Alice.
"Apa karena perlindungan itu? Apa harus dia yang menjagaku?" tanya Joanne putus asa.
"Diamond privilage. Penjagaan tingkat satu dibawah pengawasan langsung Ardolph dan Caroline. Mereka sendiri yang memutuskan siapa yang harus bertugas," jawab Alice.
"Bukankah Ethan anak mereka? Untuk apa dia susah payah melakukan itu?" selidik Joanne.
"Dia sedang belajar untuk mempersiapkan diri, Joan dan menjagamu dari kemungkinan diserang 'sesuatu' jelas menjadi pilihan latihan terbaik," jawab Alice.
"Sesuatu? Aku selalu bertanya akan hal itu. Alice, aku tidak pernah mau berurusan dengan Amanda dan Ethan."
"Tapi sayangnya kamu akan selalu berurusan dengan mereka, Joan. Nikmati saja, sebelum semua semakin rumit dan kamu harus mulai menggali apa yang bisa kamu lakukan untuk melindungi diri sendiri," tambah Alice.
"Aku, tetap berharap bisa menjadi manusia saja. Bagaimanapun caranya, darah hitam di tubuhku harus segera disingkirkan. Aku tidak mau hidup selamanya. Itu terdengar menakutkan sekali. Maksudku, kita memang harus berada di satu titik perhentian, bukan?"
Alice tersenyum. "Pemikiranmu memang mulai mengagumkan, Joan. Aku mulai bertanya, apa sungguh kamu belum melewati hidup pertamamu?"