Ucapan Alice memang terbukti. Keesokan harinya Ethan kembali ke sekolah dan bersikap seolah Joanne tidak pernah ada.
Setiap kali berjumpa di setiap sudut sekolah, Ethan menjadikan Joanne seperti udara yang ada, tetapi tidak ia butuhkan.
Hingga hari berganti minggu serta berubah menjadi bulan, kekosongan itu semakin nyata dalam benak Joanne.
Namun, semua tidak terasa sulit karena Brian selalu ada di samping Joanne. Tertawa bersama hingga seakan semua tahu bayangan Joanne adalah Brian.
***
Sudah beberapa hari ini Dalton High School tampak sibuk dengan peremajaan gimnasium yang disponsori oleh keluarga Vernon.
Beberapa alat berat serta palang-palang besi melintang dekat lapangan basket. Pekerjaan yang hanya dilakukan pada malam hari semakin terasa lambat karena hujan disertai angin kencang yang sering mengguyur kota.
"Tangkap bolanya, Joanne!" teriak seorang siswi berseragam olah raga abu-abu yang melemparkan bola ke arah Joanne.
Joanne sudah coba melompat, tetapi bola itu jelas melambung jauh ke atas kepala bahkan melewati palang pembatas pembangunan.
Walau tanpa diminta, tetapi mendapat tatapan sebal karena Joanne tidak berhasil menangkap bola itu membuatnya tidak enak hati.
"Sebentar, aku akan mengambil bolanya," tutur Joanne yang ditanggapi senyum oleh lainnya seolah mengatakan 'ya, tentu saja. Kamu memang harus mengambil bola itu!'
Joanne sempat melemparkan pandangan pada Ethan yang sedang menenggak minuman miliknya di tepi lapangan lalu pergi ke arah bola dilemparkan.
Walau sempat ragu untuk melangkahi palang, tetapi Joanne sungguh tidak bisa kembali tanpa bola itu.
Joanne mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru lapangan yang dipenuhi bata, pasir, juga besi-besi di beberapa sisi.
Ia mendongak, menatap pengait crane. Mungkin lima batang besi terlilit sling besi masih tergantung di sana. Tampak berayun-ayun padahal tidak ada angin di sekitarnya.
"Di mana bola itu. Seharunya tidak terlempar terlalu jauh," gumam Joanne yang kemudian berjongkok mencarinya di sela roda crane.
Benda kuning bulat itu tepat ada di sana. Entah mengapa bisa menggelinding sampai ke sana. Sekali lagi Joanne mendongak kala bunyi kriut di atas kepala semakin kencang.
"Kenapa mereka tidak menurunkan besi-besi itu dulu sebelum pulang? Sial, tanganku tidak sampai," keluhnya sembari terus berusaha meraih bola itu.
Refleks Joanne kembali mendongak ketika terdengar suara besi bergesek. Semua terjadi begitu cepat dan tidak sama dengan gerakan lambat yang sering ia saksikan di film laga.
Batang-batang besi itu berjatuhan satu per satu karena lilitan sling melonggar dan dipastikan akan jatuh menimpa Joanne yang malah diam dengan posisi berjongkok tepat di bawahnya.
Reaksi pertama yang Joanne lakukan adalah menunduk lalu menutupi kepalanya dengan lengan hingga entah apa yang terjadi, tubuh Joanne diterjang sesuatu. Ia terpental ke arah tumpukan kantung-kantung semen.
Pandangannya sempat gelap beberapa detik, hingga Joanne sadar serta bisa menatap debu beterbangan di sekitarnya.
Sempat tidak merasakan apa-apa, bahkan berpikir ia telah mati, tetapi sekali lagi pupil matanya melebar ketika debu yang berada di hadapannya perlahan menghilang menyisakan tumpukan besi dan seseorang yang tertelungkup di bawahnya.
Joanne masih tidak yakin apa yang terjadi, tetapi dengan cepat serta tidak memedulikan kaki kirinya yang seakan protes saat Joanne memaksa bangkit untuk mendekati tumpukan besi itu.
"Apa, apa kamu baik-baik saja?" tanya Joanne pelan yang kembali jatuh kala menyadari seseorang itu adalah Ethan Vernon.
Kubangan cairan hitam yang sepertinya darah Ethan membasahi hampir permukaan tanah serta palang besi. Joanne menoleh ketika mendengar keributan di belakangnya. Pasti mereka berlarian datang setelah mendengar debum kencang dari arah proyek, tetapi yang Joanne takutkan adalah Ethan.
Apa yang harus dijelaskan ketika mereka melihat darah hitam Ethan?
Dari semua orang yang berlari ke arahnya, jelas Brian adalah orang pertama yang dilihat Joanne. Sempat kecewa karena sejujurnya, Alice adalah sosok pertama yang ingin dilihatnya.
"Joanne, kamu baik-baik saja? Astaga, kamu terluka!" cemas Brian dengan pandangannya yang terkunci ke arah kepala Joanne.
Joanne menepis tangan Brian dari kepalanya serta mengabaikan jemari pemuda yang telah berlumur darah merah pekat miliknya. "Aku baik-baik saja, tetapi Ethan, dia ...." Suara Joanne menghilang karena ketika ia menoleh, Ethan tidak ada lagi di bawah tumpukan besi.
"Ethan? Apa yang kamu bicarakan?"
"Aku, sungguh, dia yang menolongku!" sergah Joanne.
Brian tidak mau mendengarkan, ia merengkuh tubuh Joanne lalu segera membawanya ke ruang kesehatan sebelum ambulans datang menjemput.
***
Seorang perawat memasang alat pengukur tekanan darah lalu pergi setelah mengatakan Joanne perlu pemeriksaan lebih lanjut akibat cedera kepala.
Joanne terpaksa diam sembari memikirkan apa yang terjadi padanya. Di mana Ethan? Bagaimana keadaannya? Jelas kondisinya pasti ribuan kali lebih buruk dari Joanne.
"Joanne!!"
Joanne hanya bisa sedikit menoleh ketika tirai putih di sebelahnya tersingkap dan Belinda muncul dengan wajah panik berurai air mata.
"Aku baik-baik saja, Mom," ucap Joanne tidak yakin, tetapi harus berkata seperti itu untuk menenangkan Belinda.
"Kamu tidak baik-baik saja! Joanne, aku hampir mati ketika sekolah menelepon dan berkata kamu mengalami kecelakaan di sekolah. Joanne, oh, Joanne, aku akan bertanya pada dokter tentang kondisimu," serunya.
Joanne meraih tangan Belinda. Menahannya untuk tetap ada di sana. "Ethan ada di sana, Mom. Bila dia terlambat satu detik saja, mungkin aku tidak bisa lagi melihatmu," akunya.
Belinda mengusap dahi Joanne. "Joanne, jantungku seakan berhenti ketika mendengarmu ada dalam bahaya."
"Maaf, Mom. Seharusnya aku tidak nekat masuk ke dalam proyek. Apa Ethan ada di sini? Kondisinya pasti lebih parah dariku," cemas Joanne.
Belinda menyeka air matanya. "Tidak ada seseorang pun di sini. Aku hanya melihat beberapa siswa dan guru di luar UGD juga seorang Sherif yang bertanya. Apa kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Suster mengatakan aku harus menginap beberapa hari untuk memastikan kepalaku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing juga kakiku terkilir," jawab Joanne.
"Aku akan bicara pada dokter, kamu tunggu di sini. Sebaiknya teman-temanmu juga pergi. Tunggu, Joanne," ucapnya.
Joanne mengangguk, Belinda mengecup dahi Joanne lalu pergi dan setelah terdengar bunyi pelan pintu tertutup, tak lama tirai kembali tersingkap dan kali ini sosok tak terduga sudah berdiri di samping Joanne.
"Aku tidak mendengarmu membuka pintu," ujar Joanne.
"Hmm, terkadang aku memang lupa untuk memfungsikan pintu sebagai mana mestinya," jawabnya.
"Bagaimana kondisi Ethan? Apa dia baik-baik saja?" cemas Joanne.
Alice meraih tangan Joanne lalu meraba nadinya. "Aku tidak bisa mengobatimu, Joan, tetapi luka di kepalamu tidak seserius kedengarannya. Ethan, ya, dia datang di saat yang tepat, walau harus mengorbankan diri sendiri," jawabnya.