Joanne kembali terjaga. Sepertinya obat yang katanya memiliki efek samping mengantuk tidak berlaku untuknya.
Ucapan Alice membuat ia merasa bersalah, terlebih hutang budi tidak pernah nyaman disimpan terlalu lama. Joanne harus membalas kebaikan Ethan karena jelas pemuda itu sebenarnya terpaksa melindunginya.
Joanne mendongak. Cairan infus menetes sedikit demi sedikit dan ia menyadari bahwa tidak pernah menyukai rumah sakit.
Sekali lagi ia memandang ke sekelilingnya. Joanne meyakinkan Belinda bahwa tak apa menempatkan di ruangan perawatan standar dengan dua atau tiga orang lain di sekitarnya.
Namun, Belinda mengatakan tidak ingin Joanne malah tertular penyakit dari pasien lain serta uang untuk kelas VVIP bukanlah masalah untuk keluarganya.
Joanne memijat dahi dengan jemarinya. Bukan uang yang dikhawatirkan Joanne. Tahu kalau Carlos punya segudang uang karena cukup lama bekerja selama hidup kekalnya. Joanne hanya merasa mengerikan tinggal sendirian di ruangan asing walaupun sepertinya tampak nyaman dengan televisi layar datang besar di hadapannya lengkap dengan saluran internet tanpa putus.
Jendela yang tersingkap membuat Joanne bisa melihat sedikit langit malam dari ranjangnya dan melihat bintang yang bertaburan seketika mengingatkan dirinya pada Ethan.
Kalau dipikir-pikir, Ethan persis seperti bintang di langit malam. Misterius, indah serta terlihat begitu jauh.
Sekali lagi Joanne membuang napas beratnya. Berpikir bagaimana kondisi Ethan. Apa sebaiknya ia memanggil nama Ethan? Pemuda itu akan segera datang bila Joanne menyebut namanya.
Namun, ia ragu. Bukankah seharusnya kondisi Ethan sangat buruk? Waktu itu saja hanya karena dipukul Brian, Ethan terlihat sakit. Apa lagi karena ini? Dia pasti sedang diberikan perawatan karena kehilangan banyak darah dan untung saja orang-orang itu mengira ceceran cairan hitam di tempat kejadian adalah oli atau semacamnya.
Joanne membuka Velcro yang menyangga leher lalu membuangnya ke bawah ranjang serta melakukan peregangan karena lehernya jelas tidak nyaman dibiarkan dalam satu posisi untuk waktu yang lumayan lama.
Setelah itu kembali terdiam dengan serangan bosan yang menyerang. Jam dinding di atas televisi menunjukkan hampir tengah malam. Ia ingin pergi berkeliling, tetapi sepertinya agak sulit dengan peralatan infus yang menempel padanya.
Joanne merogoh bawah bantal, meraih ponsel serta melihat beberapa pesan terakhir yang sudah dibacanya. Brian berkata bisa ke rumah sakit untuk menemani bila Joanne takut dan Belinda meminta maaf karena tidak bisa menemani sebab takut suasana rumah sakit di malam hari. Joanne memaklumi rasa trauma ibunya.
Jemari Joanne kembali bergerilya di ponselnya. Sudah memeriksa setiap aplikasi media sosialnya, membaca berita terbaru membosankan serta menonton beberapa tayangan memasak di YouTube.
Gadis itu tidak tahan lagi. Ia meraih remote kecil seukuran kotak korek api. "Mungkin dokter bisa memberikan pil tidur," cicit Joanne.
"Percayalah pil-pil itu hanya akan membuatmu semakin bodoh."
Seketika Joanne menoleh dengan cepat hingga sepertinya leher Joanne akan terkilir. Entah darimana datangnya, yang pasti Ethan sudah menyandar di dinding pucat rumah sakit kamar perawatannya.
"Aku tidak memanggilmu," aku Joanne. Menurutnya Ethan harus tahu kalau ya, ia tidak berharap Ethan datang ke sana.
"Aku tahu dan alasanku ke sini karena sama denganmu," timpal Ethan sembari menarik sofa yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh pria berbadan kekar atau dua orang berpostur seperti Ethan.
"Hmm, bosan?" tebak Joanne.
Ethan menghempaskan tubuh di sofa. "Semacam itu," jawabnya.
"Aku kira kamu tidak mau berteman denganku atau mengabaikanku," olok Joanne.
"Memang. Tepatnya merasa tidak perlu berdekatan atau berhubungan dengan apa pun yang menyangkut akan dirimu. Bukankah seharusnya kamu juga setuju?" sindir Ethan.
Joanne terdiam beberapa saat. Hati dan logikanya jelas menyetujui ucapan Ethan serta rasa bersalah karena pemuda itu sering terjebak masalah yang tidak perlu
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Kesepakatan kita."
Joanne memberanikan diri tuk menatap lebih dalam mata Ethan yang cokelat keemasan. "Bukankah orang asing tidak pernah membuat satu kesepakatan?"
Ethan tertawa lalu bangkit dan duduk di ranjang perawatan Joanne. Balas menatap gadis itu. "Baiklah. Untuk mempermudah tidak ada rasa yang aneh, anggap saja aku bekerja pada orang tuamu. Menjagamu walau aku tidak menginginkannya," tawarnya.
Joanne mendorong sedikit bahu Ethan ketika pemuda itu terus mencondongkan tubuh ke arahnya. "Atur saja. Mungkin yang paling baik adalah acuhkan aku. Bukankah Alice pun berusaha melindungiku?"
Ethan bangkit, kembali duduk di sofa. "Alice? Semakin kamu dekat dengan Brian maka semakin besar rasa bencinya padamu," jawab Ethan.
Joanne tersentak akan ucapan Ethan. Selama ini Alice selalu tersenyum padanya hingga berusaha membantu bila Joanne memintanya.
"Kamu pasti bohong! Untuk apa kamu melibatkan Brian dan Alice?" selidik Joanne.
Ethan kembali tertawa, menggaruk ujung alisnya lalu berbaring. "Kamu itu bodoh. Terserah percaya atau tidak, tetapi sebaiknya kamu menjauhi Brian," sarannya.
"Kenapa?' tanya Joanne sengit, "Aku menyukai Brian! Dia perhatian, baik dan menyenangkan!" pujinya lagi.
Ethan tertawa. "Ya, hanya bagian itu yang kamu tahu, Joan."
"Kamu bicara seperti kakek tua ratusan tahun! Sudahlah! Pergi sana! Kau hanya membuatku kesal!" usir Joanne.
"Bertengkar denganmu membuatku mengantuk. Tidur sana."
"Pergilah! Aku lihat kamu baik-baik saja!" paksanya.
"Tidakkah kamu sadar, sejak kamu ada di Dalton. Hidupku tidak pernah baik-baik saja," timpal Ethan.
Joanne terluka akan ucapan Ethan. Ia tidak pernah ingin menjadi beban bagi siapa pun. Bahkan, selama ini Joanne selalu berusaha untuk melakukan apa pun sendirian saja.
"Aku tidak suka dikasihani, Ethan. Tidakkah kamu tahu sebenarnya aku lebih baik mati ketimbang harus terus hidup dalam bahaya."
Ethan kembali membuka mata, bangkit serta menatap Joanne. "Apa kamu tidak bisa melakukan apa pun selain menangis?"
"Ya. Aku menangisi diriku sendiri. apa sekarang itu juga tidak boleh? Seharusnya kamu membiarkan aku mati tertimpa besi-besi itu "
Ethan terdiam. Tidak mendapatkan kata terima kasih karena sudah menyelamatkan Joanne dapat diterima olehnya, tetapi ketika perbuatanya kembali dianggap sebagai satu hal sia-sia. Jelas itu membuat Ethan kesal bukan main.
"Kalau begitu, tulislah takdirmu sendiri!" sentak Ethan.
"Kamu berkata seolah aku tidak pernah diinginkan, Ethan."
Ethan tertegun lalu bangkit dan tak sadar mencengkeram dagu Joanne. "Apa maumu? Kamu tidak ingin hidup, tapi enggan mati juga tidak mau berubah menjadi vampir! Otakmu bermasalah, Joan!"
Joanne menepis tangan Ethan lalu menyeka air matanya. "Pergilah! Kamu hanya membuat kondisiku semakin buruk!"
"Baiklah, terima kasih sudah mengatakan kalau pekerjaanku sia-sia saja!" marah Ethan yang kemudian benar-benar melangkah pergi lalu membanting pintu kamar perawatan Joanne sampai gadis itu benar-benar menyadari bahwa dia sudah membuat Ethan benar-benar gusar.
"Bagus, Ethan. Kamu memang tahu bagaimana cara menghancurkan hati seorang gadis."