"Kamu yang memaksaku datang dan tangisan Joanne adalah salahmu!" tuding Ethan yang kemudian menyelipkan tangan ke saku mantel, padahal jelas angin malam tidak akan memengaruhinya.
"Katamu bosan dan seingatku ... menjaga Joanne adalah tugasmu juga, 'kan? Tugas pertama sebagai bagian dari klan," sindir Alice.
Ethan tidak dapat berkutik bila Alice selalu menjadikan alasan itu sebagai senjata yang akhirnya membuat Ethan selalu terikat pada Joanne. "Lama kelamaan gaya bicaramu persis seperti ibuku!" balasnya.
Alice tertawa pelan lalu merapikan anak rambutnya yang tertiup angin. "Dan kamu sama keras kepalanya dengan Ardolph. Lagi pula, Joanne harus tahu kamu baik-baik saja. Dia seperti orang gila yang berkata pada semua orang kalau kamu terluka karena menyelamatkannya. Aku sudah cukup lega karena orang-orang mengira darahmu adalah cairan pelumas mesin," tuturnya.
"Aku ingin pulang dan tidur. Dia juga tahu serta tak peduli dengan kondisiku. Kamu bisa menjaganya sendirian."
Alice mengangguk. "Pergilah. Oh, ya, ingat, aku tidak suka kamu mencampuri urusanku atau mengatakan pada sembarang orang kalau aku tidak suka akan kedekatan Brian dengan Joanne."
Ethan kembali mendekati Alice. "Kenapa? Bukankah itu benar?"
"Ethan, aku hanya tidak suka mereka berdekatan karena jelas energi Brian diserap habis oleh Joanne. Itu berbahaya, tapi bukan berarti aku tidak menyukai Joanne. Gadis itu berbeda dan ya, aku mulai mengerti alasan Caroline begitu mendukungnya," jawab Alice.
Ethan memijat dahinya. "Para wanita memang selalu rumit dengan semua pikirannya, mengkhawatirkan hal konyol, memusingkan semua yang tidak berguna. Untung saja aku tidak pernah mau menggunakan hatiku pada kalian!"
Alice menjentikkan jari di dahi Ethan. “Kamu harus berhenti menyerap energi mereka dengan cara menjijikkan seperti itu, Ethan!”
Ethan terkekeh sembari mengusap dahi. “Kalian yang memilih cara rumit untuk mendapatkan energi dari para manusia. Aku hanya melakukan apa yang mereka sukai. Tidak perlu susah-susah menjalin hubungan pertemanan konyol,” kilahnya.
“Terserah kau saja. Kelak kamu sendiri yang akan kesulitan. Pergilah, biar aku yang menemani Joan,” usirnya kemudian masuk ke ruang perawatan Joanne.
Berkali-kali Joanne menyeka air mata kala melihat kedatangan Alice yang langsung tersenyum lembut padanya. Alice duduk di sofa yang ditinggalkan Ethan lalu bertanya, “Apa kamu sudah lebih baik, Joan?”
Joanne mengangguk lalu berdeham beberapa kali. Ia harus mengenyahkan suara parau mengerikan yang pasti menggelikan bila didengar Alice, tetapi Alice terus saja bertanya lagi, “Apa ucapan Ethan sungguh menganggumu?”
Joanne kesal terhadap dirinya sendiri yang terkadang malah hanya bisa menangis saat merasa benar-benar marah. “Aku tidak mau membicarakan dia. Apa kamu di sini karena terpaksa? Kalau begitu lebih baik pergi saja karena aku sungguh tidak pernah mau merepotkan orang lain,” jawabnya.
“Ucapan jujur Ethan memang kadang keterlaluan, tapi percayalah dia tidak seburuk itu,” tukasnya.
“Aku tidak mau membicarakan dia atau tepatnya berdebat lagi tentang dia. Aku hanya ingin melewati waktuku di Dalton dengan tenang tanpa memikirkan kalau mungkin aku akan mati ketika berulang tahun nanti,” timpal Joanne.
Alice bangkit, meraih tangan Joanne lalu menekan lembut urat nadi gadis yang seketika merasakan pergelangan tangannya digigit hawa dingin. “Kamu memang berbeda. Denyut nadimu agak sedikit lebih cepat dari manusia. Untung saja kamu ditangani oleh dokter kami. Joanne, apa kamu takut akan kematian?”
Jelas Joanne tidak akan pernah siap menghadapi pertanyaan seperti itu. “Bukankah bagi sebagian orang, mati adalah jalan terbaik serta menuntaskan satu perjalanan hidup? Aku tidak pernah bias membayangkan terus berjalan tanpa tahu di mana garis finish berada,” jawabnya.
"Saat seorang manusia berubah menjadi vampir serta kekal selamanya, kami bukan hanya akan memegang semua kerisauan selama hidup, tapi juga menggenggam dosa dari masa lalu. Kau percaya adanya reinkarnasi?" tanya Alice Joanne menggeleng, tetapi sedetik kemudian mengangguk. Tingkahnya itu membuat Alice tertawa. "Ya, peganglah dadaku." Alice menarik tangan Joanne lalu menaruhnya tepat di d**a. "Tidak berdetak dan aku masih bisa bicara selancar ini. Itulah yang manusia inginkan," tambahnya.
Joanne menarik tangannya. Pengalaman itu pernah dialami Joanne ketika bersandar pada Ethan. Jantung Ethan jelas tidak berdetak, tetapi matanya masih penuh dengan semangat.
"Alice, apakah sungguh ada pilihan untukku?" cicitnya.
"Kamu pun tahu aku tidak bisa menjawab itu. Mari kita nikmati saja waktu yang ada, bagaimana?" tawarnya.
Joanne meraih tangan Alice, menatapnya seperti seekor anak kucing memelas makanan. "Alice, apa yang akan terjadi bila aku menolak untuk hidup tanpa detak jantung? Apa sungguh itu adalah takdirku? Aku perlu jawabannya, Alice," mohonnya.
"Aku bukan Dewa atau vampir sejati yang tahu semua masalah, Joanne. Caroline jelas memiliki firasat baik tentangmu karenanya dia berjuang keras agar Ardolph atau Ethan mau mengubahmu dengan darah mereka. Kamu akan menjadi vampir yang hebat bila berada di bawah klan Vernon," jelasnya.
"Bagaimana bila aku tidak menginginkannya? Aku hanya ingin menjadi Joanne. Aku ingin kuliah, bekerja, menikah, semacam itu, kamu mengerti bukan?"
Alice mengangguk-angguk. "Setiap orang pasti memiliki rencana yang baik tentang perjalanan hidup mereka, tetapi bila memang takdirnya harus begitu, apa yang bisa kamu lakukan? Melawan takdir?" tanyanya.
Joanne terdiam pasrah. Pembicaraan ini jelas sudah jauh dari jangkauannya. Membicarakan tentang hidup ketika ia sendiri tidak pernah merasa benar-benar memiliki takdirnya sendiri, itu terasa sangat menyedihkan.
"Alice, aku sungguh tidak ingin merepotkan kalian. Aku tahu kamu tidak suka dengan semua rencana ayahku," sesal Joanne.
"Kalian hanyalah sekelompok orang yang berada dilingkungan yang salah. Sial karena terikat dengan vampir sejati seperti Cedric," ucapnya yang kemudian diselingi tawa kecil. "Dia pasti mendengarkan pembicaraan ini, ah, Cedric pasti girang karena aku mengingat dia," oceh Alice.
"Alice, aku benar-benar tidak tahu pada siapa harus berpegangan," aku Joanne.
Alice kembali meraih tangan Joanne, mengusap punggung tangannya. "Hidup ataupun mati, bahkan kekal sekalipun pasti tetap memiliki masalah. Kamu bisa mencariku bila memerlukan teman bicara. Hanya saja aku tidak bisa menjawab tenang apa yang akan terjadi selanjutnya."
Joanne balas tersenyum, ucapan Alice jelas bukan tipu daya dan ia tahu kalau Alice adalah seseorang yang bisa diajak berdiskusi. "Terima kasih, Alice."
"Terlalu dini untuk mengatakan itu padaku. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Joanne. Bila Ardolph dan Caroline memerintahkanku untuk melenyapkanmu ... meskipun kita bersaudara, aku tetap akan melakukan perintah itu," serunya.
Joanne menarik tangannya dari genggaman Alice, perlahan iris mata Alice berubah kemerahan. Kali ini, Joanne juga tahu kalau Alice bersungguh-sungguh.