New Sign

1020 Words
Setelah dua hari menjalani perawatan, Joanne akhirnya diperbolehkan pulang. Selama berminggu-minggu selanjutnya Joanne diperlakukan seperti anak kecil. Semua orang seakan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja serta merasa nyaman di sekolah. Berkat peristiwa di tempat renovasi gimnasium, tampaknya Joanne berhasil memiliki beberapa teman baru, tetapi sayangnya ia lebih suka semua mengabaikan kehadirannya. "Baik, Joanne. Kita sudah sampai, jam berapa aku harus menjemputmu?" tanya Belinda. Joanne melepaskan seat belt lalu meraih tas di jok belakang. "Aku berharap Mom bisa mengizinkan aku pulang bersama teman. Maksudku, Mom bisa menjemput agak jauh dari pemakaman," jawabnya. "Teman? Maksudmu lelaki tampan berwajah lembut itu? Siapa namanya, Brian bukan?" tebak Belinda. Wajah Joanne tersipu. Memukul pelan lengan ibunya. "Ya, dia. Terkadang aku kehabisan alasan untuk menolak ajakannya mengantarku pulang," tambahnya lagi. "Aku berharap kamu mendapatkan pasangan yang ya ... normal. Walau ayahmu berharap Ethan bisa menjadi 'mate-mu', tapi aku tetap ingin memiliki menantu dari kalangan manusia." "Menantu? Aku hanya gadis enam belas tahun, Mom. Itu masih terlalu jauh. Jadi, bagaimana? Apa aku boleh pulang bersama Brian?" Belinda diam untuk sesaat. "Kamu tahu, akhir-akhir ini, tidak ada kondisi gawat darurat. Aku rasa sedikit bersenang-senang baik juga untukmu, bagaimana dengan ajakan pergi bersama di akhir pekan? Maksudku, kamu dan Brian. Jangan pergi ke luar Dalton dan kembali sebelum matahari tenggelam. Apa kamu mengerti?" Joanne mengangguk hingga tak sadar wajahnya merona. Ini lebih baik dari tawaran mengantarkan pulang saja. "Baiklah, Mom. Kalau begitu aku akan meneleponmu nanti. Sampai ketemu nanti sore, love you, Mom." Joanne mengecup pipi Belinda lalu bergegas pergi. Setelah mobil Belinda menghilang di ujung jalan. Joanne kembali melebarkan senyum, mempererat pegangan di tali tas lalu melangkah penuh kegembiraan menuju kelas. Sesekali ia balas menyapa beberapa siswi, padahal biasanya Joanne hanya memberikan senyum paksa, tetapi kali ini, sungguh ia merasa benar-benar merasakan kenikmatan menjadi remaja pada umumnya. Terlebih, bila mengingat janji yang diucapkan Belinda, Joanne bebas melakukan apa pun termasuk pergi jauh dari orang tuanya ketika telah berusia dua puluh tahun. Hal yang pertama Joanne ingin lakukan adalah mengunjungi Disney Land. Kekanak-kanakan memang, tetapi Joanne sungguh ingin melampiaskan masa kecilnya yang kurang menyenangkan. "Kenapa? Senyumanmu mengatakan kalau kamu baru saja menang lotere." Joanne diam, kurang dari sedetik senyumnya hilang kala menoleh serta mendapati seringai menyebalkan Ethan. "Pagi, Joanne," sapa Alice. "Pagi, Alice," balasnya. Joanne tidak ingin balas menatap Amanda yang merangkul erat lengan Ethan, tetapi entah mengapa matanya selalu saja terarah pada dua vampir menyebalkan itu. "Joan, akhir minggu ini, ikutlah bersamaku. Aku ingin membeli beberapa buku serta pakaian, bagaimana?" ajak Alice. Amanda melepaskan lengan Ethan, mendelik tidak suka pada usul Alice. Jelas ia berencana untuk berbelanja tanpa ada orang lain yang akan merepotkan. "Aku dan Amanda akan pergi, lumayan jauh dari Dalton, tapi kita akan kembali sebelum gelap," tambah Alice. Joanne tahu kalau Amanda tidak suka dengan ide itu, lagi pula jelas ia punya rencana di akhir minggu ini. "Terima kasih, Alice, tapi sepertinya aku ada rencana lain di akhir minggu ini. Kalau begitu aku pergi dulu," pamitnya tanpa mau mendengarkan bujukan lainnya dari Alice. Merasakan tatapan tajam ke arahnya, Joanne mempercepat langkah hingga harus berlari kecil menaiki anak tangga. Berbelanja dengan Alice jelas akan menyenangkan, terlebih godaan keluar dari Dalton adalah penghiburan lain, tetapi bila Amanda ada di antara mereka ... jelas ceritanya akan lain. "Pagi Brian," sapa Joanne yang melepaskan tas lalu duduk di kursi sebelah Brian. "Pagi, ada apa? Pagi-pagi kamu sudah berkeringat. Apa ada masalah lagi dengan Ethan?" tebaknya. "Ah, bukan. Kami baik-baik saja. Eh, maksudku, aku hanya ingin cepat menemuimu saja," ujar Joanne. Kini Joanne berhasil membuat Brian sangat penasaran. "Ada apa?" "Brian, apa tawaranmu untuk pergi di akhir minggu masih berlaku?" tanyanya ragu. Brian mengerjapkan matanya, bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Tawaranku? Pergi menonton atau makan malam di luar bersamaku?" tanyanya mengulang tawaran yang jelas selalu ditolak Joanne sejak berminggu-minggu lalu. Joanne mengangguk konyol. "Tapi aku harus kembali sebelum gelap. Ibuku tidak suka aku keluyuran tanpanya di malam hari. Dia akan mengantar serta menjemputku di bioskop," jelasnya. "Tapi aku bisa mengantar kamu pulang," sergahnya. Joanne menggigit bibir, ia masih tidak berani mengambil risiko Brian menjauhinya setelah tahu Joanne tinggal di belakang pemakaman. "Aku tidak yakin ibuku akan memberikan kesempatan ini lain waktu," lirihnya. "Baiklah, itu saja cukup. Aku akan menunggu pukul sepuluh di Square Brown," seru Brian bersemangat. Joanne mengangguk. "Baiklah, aku setuju." Brian tersenyum sumringah, begitu girang hingga tanpa sadar mengusap pipi Joanne. Tak biasa mendapatkan perlakuan seperti itu, Joanne memegang pergelangan tangan Brian dengan ekspresi canggung. "Ma-maaf, Joanne. Sungguh, aku tidak bermaksud kurang ajar," sesalnya tanpa berusaha menarik tangan dari genggaman Joanne. Joanne tahu, tak seharusnya Brian merasa bersalah. Hanya saja, ia takut krim wajahnya akan menempel di jemari Brian. "Bukan begitu Brian. Aku hanya ...." Lengan seragam Brian yang sedikit tersingkap membuat Joanne diam beberapa detik. Tampak jelas tato warna perak berbentuk tali tribal yang saling bertaut dengan aksen beberapa daun kecil melingkar di pergelangan Brian. "Brian, ini ... indah sekali," seru Joanne sembari menggulung lengan seragam Brian untuk menatap tato Brian lebih jelas. "Aku tidak tahu kalau kamu memilikinya," tambah Joanne. Dahi Brian berkerut. Ikut menatap pergelangan tangannya sendiri. "Apanya? Tanganku? Ya, memang agak lebih besar, kata ibuku tulangku agak besar. Apa aneh?" tanyanya. Joanne menatap Brian, tak mengerti akan pertanyaan pemuda berhidung bangir itu. "Bagaimana? Maksudku, tato ini. Aku juga ingin memilikinya, apa bisa di bagian lain yang agak tersembunyi?" tanya Joanne. "Tunggu dulu, tato? Apa maksudmu? Aku tidak bertato, juga tidak pernah memikirkan untuk memilikinya," jawab Brian keheranan. "Tapi, ini, pergelangan tanganmu," sergah Joanne putus asa. Brian menarik tangannya. "Aku tidak memiliki tato, Joanne. Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat?" Jelas Joanne tidak baik-baik saja. Terlebih yakin kalau matanya memang melihat tato perak indah di pergelangan tangan Brian. Dengan kasar Joanne meraih tangan lain Brian serta menggulung lengan kemejanya. Tato itu jelas juga tersemat di pergelangan tangan yang lain. Berkali-kali Joanne mengusap matanya dengan kasar, tetapi tato di kedua pergelangan tangan Brian masih tampak jelas terlihat. "Joan, kamu baik-baik saja?" tanya Brian cemas. "Aku, aku harus ke kamar mandi. Sebentar Brian." Joanne beranjak pergi tanpa mau mendengar Brian, tetapi langkahnya terhenti kala seseorang menarik pergelangan tangan Joanne hingga terjatuh ke dalam dekapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD