Mata mereka bertemu. Perlahan iris mata Ethan berubah kemerahan. Naluri Joanne mengatakan untuk diam saja tanpa berontak melepaskan tangannya dari genggaman Ethan.
"Kenapa? Sudah sadar kalau kamu mulai berubah menjadi bagian dari klan kami?" tanya Ethan.
Pupil mata Joanne melebar, bahkan mulai berkabut. Sekali lagi ia merasa marah serta takut. "Lepaskan aku, Ethan," mohonnya.
"Aku tidak pernah menahan kamu, justru kamu sendiri yang terus berpegangan padaku, Joan," jawabnya.
Joanne terdiam dan sadar kalau ya, dirinyalah yang bertumpu pada Ethan. "Aku, aku tidak suka dengan ucapanmu."
"Tidak suka? Hmm, asal kamu tahu saja, seharusnya kamu sadar kalau ya, di dalam darahmu mengalir racun kami, suka atau tidak," timpal Ethan.
Sial, Joanne menyeka bulir air mata yang lolos dari pelupuk mata lalu melepaskan cengkeramannya dari Ethan serta berusaha menegakkan punggungnya. "Aku tidak meminta pendapatmu, Ethan! Kamu menyebalkan dan selamanya akan menyebalkan!" makinya lalu pergi.
"Sampai kapan kamu akan menggodanya seperti itu?" tanya Alice yang muncul dari lorong sebelah kanan dekat dengan tangga.
Ethan tertawa. "Harusnya bukan itu yang kamu cemaskan, Alice. Joanne berhasil menandai Brian. Itu berarti, dia memang menyukai Joanne, kamu tidak bisa mengharapkan Brian lagi, Alice," godanya.
Alice mengigit bibir merahnya, tidak suka akan kenyataan itu, tepatnya khawatir akan keselamatan Brian karena Joanne belum bisa mengontrol kekuatannya sendiri.
"Pekerjaanku akan semakin banyak bila mereka terlalu sering berdekatan. Brian mungkin hanya berpikir dia mudah lelah karena memang sedang banyak kegiatan. Ethan, sementara waktu ini, kamu akan sepenuhnya mengawasi Joanne," titah Alice.
"Aku? Minggu ini Ben mengajakku untuk pergi melihat perbatasan," elak Ethan.
"Aku akan bicara pada Ben. Ardolph mulai memikirkan keselamatan klan karena klan Barat dan Timur mulai sering menyerang. Aku memang menyukai Joanne, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau ini menyangkut keselamatan seluruh klan," sesalnya.
"Kita?" tanyanya mengoreksi.
Alice memijat dahinya. "Sebentar lagi bel sekolah berbunyi. Aku ke kelas dulu. Awasi Brian untukku, oke?"
"Apa yang bisa kamu janjikan untukku?"
"Sekantung penuh golongan O positif. Bagaimana?" tawar Alice.
Ethan tidak menjawab, memilih untuk segera masuk kelas bersama murid lain Pandangannya tertuju pada Brian yang tengah sibuk memperhatikan pergelangan tangannya sendiri.
Garis perak dengan motif tribal diselingi daun-daun kecil jelas begtu kontras dengan warna kulit Brian. Tanda kepemilikan Joanne.
Ethan menyeringai lalu kembali ke tempat duduknya dan tak lama setelah bel berdentang, Joanne tergesa memasuki kelas lalu duduk di sebelah Brian.
Sesekali tampak Joanne menoleh ke arah Ethan. Pemuda itu hanya menaikkan sebelah alis lalu menggedikkan bahu, seolah berkata tidak ingin ikut campur dalam urusan Joanne.
"Kamu tidak apa-apa?" bisik Brian yang ikut cemas merasakan kegelisahan Joanne.
Joanne menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. "Aku tidak apa-apa," jawabnya asal.
Brian mengangguk pelan, tersenyum lembut kemudian kembali memperhatikan pengajar di depan kelas.
Berkali-kali Joanne memukul kepalanya sendiri. Merasa ia harus bertanya pada seseorang tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ... pada siapa?
Joanne kembali menoleh ke arah Ethan, dan pemuda itu kembali menggedikkan bahu. Seakan bisa menebak dengan jitu apa yang ada di otak Joanne.
Setelah embusan napasnya kian berat, Joanne menoleh ke samping. Dari sela tubuh murid lain, menatap jendela kelas. Memicingkan mata karena sinar matahari ikut menerpa wajahnya.
Sebelumnya, Joanne tidak pernah terganggu walaupun sinar matahari terik membakar aspal, tetapi kali ini ia baru saja sadar kalau ya, dia tidak suka matahari.
Ini tidak baik, Joanne tidak pernah mau berubah jadi vampir. Yang diinginkannya adalah menjadi remaja normal. Titik.
Setelah beberapa jam mendengarkan penjelasan guru yang sayangnya tidak diserap baik oleh otak Joanne, gadis itu akhirnya keluar kelas setelah mendengar denting bel istirahat.
"Joan! Tunggu, Joan!" panggil Brian.
Joanne menoleh sejenak, bertatapan dengan wajah panik Brian lalu kembali berlari menerobos kerumunan siswa.
Melewati lorong panjang hingga akhirnya menaiki undakan tangga sampai langkahnya melambat lalu duduk terdiam.
"Lelah?"
Joanne hampir terjengkang kala mendengar suara di belakangnya. "Alice?" cicitnya.
Alice tertawa pelan. "Ya, memangnya cuma Ethan saja yang bisa muncul sesuka hati."
Joanne mengurut d**a, memastikan jantungnya masih berdetak dengan sangat baik. "Kamu, kalian, bisa membunuhku sewaktu-waktu," protesnya.
"Kamu harus membiasakan diri untuk mulai mengasah kepekaanmu, Joan."
"Kenapa? Aku tidak mau menjadi bagian dari kalian!" sergahnya.
Alice bangkit, menepuk belakang roknya laku mendekati Joanne. "Kamu adalah bagian dari kami. Hidup sebagai hibrid atau mati konyol karena berusaha ikut dalam ego adalah urusanmu, Joan, tetapi sayangnya, sekarang kamu sudah terikat dalam klan Ardolph Vernon. Kami memiliki aturan sendiri," jelasnya.
"Aku takut Alice! Kamu tahu, selama ini aku terus saja berlari tanpa pernah tahu apa yang mengejarku! Itu, itu sangat menakutkan!" cicitnya hampir menangis.
"Kita semua memiliki masa lalu yang kelam. Aku tidak dapat membayangkan apa langkah selanjutnya bila Ardolph tidak memberikan kemurahan hatinya padaku," hibur Alice.
Joanne menunduk, baginya berakhirnya sebagai vampir adalah kemungkinan paling buruk.
Alice menepuk ujung pundak Joanne. menatapnya seperti sorot mata Belinda. "Bagi kami, yang telah diberikan kesempatan kedua. Kemurahan hati Ardolph jelas merupakan jalan terbaik. Semuanya jadi lebih baik ketika kami telah berubah. Walau harus berkubang dalam rasa sakit serta dosa termasuk semua yang kami ingat di masa lalu, tapi percayalah padaku, menjadi vampir jauh lebih baik ketimbang harus membusuk sebagai manusia. Mati dan bereinkarnasi lagi, roda itu terus berputar sampai kamu juga tidak tahu kapan berhenti.”
“Tapi itu memang siklus kehidupan. Aku tidak mau selamanya berada dalam ketakutan, Alice!”
“Kamu belum mengenal apa arti ketakutan yang sebenarnya, Joan. Kelak, kamu akan mengerti setelah telapak takdir benar-benar ada di hadapanmu. Tidak perlu merasa bersalah pada Brian. Dia yang merelakan dirinya sendiri untuk kamu tandai,” tutur Alice.
“Aku tidak melakukan apa pun padanya. Percayalah padaku. Aku tidak memantrainya, Alice!” ucap Joanne putus asa.
Alice menyeka air mata Joanne lalu tertawa pelan. “Suka atau tidak, kamu harus mulai belajar mengendalikan kekuatanmu, Joan. Brian akan merasa lebih bahagia ketika kamu menyerap energinya, tapi tentu saja dia akan lebih cepat lelah. Ini tidak berbahaya sepanjang kamu tahu bagaimana caranya mengendalikan diri sendiri.”
“Kekuatan apa? Aku tidak memiliki apa pun, Alice!” protes Joanne.
“Kamu berbeda, Joan. Semua hanya perlu konsentrasi dan semua energi yang ada di tubuhmu akan berjalan menuju jalannya sendiri!”
“Aku tidak ingin melibatkan Brian. Sungguh aku tidak mau membahayakan dia,” lirih Joanne.
“Brian sudah bersedia untuk memberikan hidupnya padamu. Tanda kepemilikan itu jelas adalah territory marking-mu, Joan. Tidak akan ada vampir lain yang akan menyentuh energi Brian tanpa seizinmu. Jadi, kamu bertanggung jawab untuk ikut melindunginya juga.”