Memang, Joanne tidak membayangkan dia akan tinggal di tempat yang nyaman seperti rumahnya yang berada di London, tetapi rasa-rasanya ini sudah keterlaluan.
Baiklah. Tinggal di kota terpencil dan sangat jauh dari kata kemegahan bisa Joanne maklumi, tetapi ini ... rumah dua tingkat yang hampir b****k dan sialnya berada di areal pemakaman?
"Joanne? Kalau kamu mau tidur semalaman di mobil, itu terserah padamu!" marah Belinda.
Joanne menarik napas panjang. Ibunya telah memberikan satu pernyataan yang paling dibencinya. Ya, Joanne benci tidur dengan posisi yang tidak nyaman.
"Baiklah, Mom. Aku turun," jawabnya penuh kepasrahan.
Joanne meraih Felix, memasangkan harness ke tubuh mungil kucing hitam itu lalu turun dari mobil.
Lagi-lagi, sensasi itu menembus tubuh Joanne kala ia menginjakkan kakinya. Seketika matanya berpencar ke seluruh tempat. Sisi kanan dan kirinya adalah hutan dan saat ia menoleh ke belakang, maka pemandangan batu-batu nisan tampak jelas terlihat.
"Astaga," cicit Joanne.
Tanpa lagi banyak bicara ia mengekor di belakang Belinda.
"Dengar, saat hitunganku sampai ke tiga, dorong gerbangnya!" titah Belinda.
Joanne menurunkan Felix. Kucing itu tampaknya juga enggan untuk kabur, di luar dugaan Felix tetap setia berada di dekat kaki Joanne.
"Siap, Joanne? Satu ... dua ... tiga!"
Serempak Joanne dan Belinda mendorong gerbang itu sekuat tenaga dan ajaibnya, pagar besi berkarat itu bergerak, terbuka cukup luas hingga mobil Belinda bisa masuk.
"Lihat rumah itu, Joan. Sepertinya besar sekali," gumam Belinda.
Joanne menepuk telapak tangannya lalu kembali masuk ke dalam mobil, walaupun berjarak hanya lima belas meter, Joanne enggan berjalan kaki ke dalam sana.
Belinda bergegas kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalanan. Setelah memarkirkan mobilnya di samping rumah, ia mengeluarkan salah satu koper di jok belakang.
"Bawa yang paling penting saja, sisanya kita bereskan besok," titah Belinda.
Joanne mengangguk lalu meraih ransel serta kembali menggendong Felix.
"Kita sampai," ucap Belinda sembari mendorong pintu depan.
Sedari awal melihat rumah tua bergaya Elisabeth ini, Joanne tahu kalau ayahnya—Carlos tidak mungkin membereskan semuanya dalam sekejap mata.
Dari pekarangannya saja, Joanne tahu kalau rumah ini sudah terlalu lama ditinggalkan. Belinda meraih senter lalu bergerak masuk dan Joanne kembali berbalik untuk memperhatikan jendela-jendela dengan kerangka vertikal besar berselimut debu.
"Semuanya kacau sekali. Kamu harus membantuku membersihkan tempat ini, Joanne!" tegas Belinda.
"Aku akan mengecek kamarku terlebih dahulu, tentunya setelah Mom memberitahu, di mana letaknya," ujar Joanne.
"Sebentar, aku nyalakan lampunya dahulu," timpal Belinda.
Setelah ruangan itu dihujani cahaya, kondisinya yang memang memilukan tampak tak jauh berbeda.
Belinda menarik napas, meredakan amarahnya yang tersulut karena sekali lagi Carlos tidak menepati janjinya.
Ruangan tamu itu terkesan lapang, langit-langitnya lumayan tinggi dan sepertinya pemilik lama rumah itu mencintai ukiran yang mendetail, terbukti dengan tangga di ujung ruangan yang pegangannya meliuk indah.
"Astaga! Apa itu jamur sungguhan?" tanya Joanne.
Belinda menoleh ke arah yang ditunjuk Joanne. Benar saja ada beberapa petak jamur yang tumbuh subur di salah satu sudut ruangan dekat perapian.
Belinda menghempaskan dirinya di sofa terdekat tanpa peduli dengan kain linen yang penuh dengan debu. "Kepalaku sakit sekali. Joanne, kamarmu ada di lantai dua, pintu ke tiga setelah tangga sebelah kanan. Beristirahatlah, besok kita bersihkan tempat ini," titahnya.
"Kamarmu?" tanya Joanne. Setidaknya bila ia merasa tidak nyaman, Joanne tahu harus berlari ke mana.
"Entahlah, katanya ada di dekat ruang makan. Beristirahatlah, mudah-mudahan ayahmu sudah merapikan kamar," jawabnya.
Joanne tidak mau lagi banyak protes, ia tahu kalau ibunya juga sudah sangat menderita. Jadi, ia bergegas menuju kamarnya.
Langkah Joanne sempat berhenti di pijakan tangga terakhir. Udara semakin lembab dan derit yang berasal dari lantai kayu rumah ini terdengar makin memilukan.
Felix kembali mendesis, bahkan ujung-ujung telinganya mencuat, tetapi kucing ini enggan untuk melompat. Menggelikan sekali.
"Sebelah kanan, pintu ketiga setelah tangga. Jadi, sepertinya ini kamarnya," gumam Joanne.
Senyum terlukis sempurna di paras jelita Joanne. Akhirnya, sesuatu yang sangat diharapkan benar-benar terkabul.
Joanne cepat-cepat masuk, menutup pintu lalu melepaskan Felix yang segera berlari menuju kasur miliknya.
"Astaga, kamarku, benar-benar dipindahkan ke sini!" seru Joanne.
Ia melemparkan ranselnya ke sofa di sudut ruangan lalu menjatuhkan diri di kasur.
"Ini nyaman sekali," serunya kegirangan.
Namun, keceriaan itu lenyap kala Joanne kembali menatap langit-langit kayu dengan catnya yang terkelupas di mana-mana.
Sekali lagi ia bangkit. Ditatapnya Felix yang sudah melingkarkan tubuh di kasur berbulu miliknya. Sudah terlelap entah bermimpi sejauh mana.
"Ini bukan di rumah dan tidak akan pernah terasa seperti rumah," lirih Joanne.
***
Suara jerit ketakutan membuat mata Joanne terbuka lebar. Seketika ia bangkit lalu menyeka peluh di dahinya. Lengkingan itu terdengar begitu jelas, seakan memang ada di dekatnya.
Joanne menatap ke arah samping. Seingatnya sebelum tidur, ia sudah menutup gorden jendela, tetapi sekarang, gorden itu tersingkap dan pemandangan di luar sana tercetak begitu jelas.
Setelah meremas jemarinya sendiri, Joanne memutuskan untuk bangkit, berencana hendak menutup gorden lalu tidur kembali.
Sebuah pohon besar dengan rantingnya yang sesekali mengetuk jendela, menciptakan suara menyeramkan, mirip efek di film horor.
Joanne meraba tengkuknya yang sudah meremang lalu meraih ujung-ujung gorden.
Niatnya terhenti kala sekilas menatap sosok di dekat pohon besar itu. Bodohnya, Joanne malah memicingkan mata untuk menatap sosok itu lebih jelas.
Napasnya terasa putus, bahkan ia bersumpah jantungnya berhenti sesaat kala orang itu ikut mendongak dan setelah bertatapan selama beberapa detik, sosok itu menghilang.
Urung menutup gorden, Joanne malah membuka ransel lalu meraih senternya dan berlari seperti orang gila.
Menuruni anak tangga, dua undakan sekaligus, melewati ruang makan, lorong menuju dapur lalu membuka pintu samping.
Dengan napas yang memburu dan tangan gemetaran, Joanne menyalakan senter. Seketika menyorot ke arah pohon itu, tepat di sana, ia tidak mungkin salah melihat.
Sekali lagi sekelebat angin menembus tubuh Joanne ketika kakinya memijak tanah. Ia mendongak, menyorot ke arah kamarnya sendiri.
"Ya! Di sini! Aku melihatnya di sini!" seru Joanne.
Tubuh Joanne tiba-tiba membeku kala mendengar bisikan yang menggelitik telinganya. Suara itu, mirip seperti desis ular. Joanne mencengkeram senternya lebih erat.
Suara itu makin kuat, embusan hangat menjalar di belakang tengkuk hingga akhirnya memeluk tubuh Joanne.
'Sial, sial, sial! Untuk apa aku turun?' batin Joanne.
Joanne berusaha membasahi kerongkongannya yang selalu saja kering saat ia menelan ludah, lalu rasa itu semakin nyata.
Remasan di pundaknya semakin kuat dan Joanne yakin, itu bukan khayalannya semata.
Refleks Joanne menjerit kala sosok itu menarik pundaknya dan ....