Welcome Home

1011 Words
Hampir saja ujung jari Joanne menyentuh semak yang menutupi kegelapan hutan. "Joan?" "Astaga! Mom! Kamu hampir membuatku mati terkejut!" pekik Joanne ketika Belinda mengagetkannya dengan tepukan pelan di belakang bahu. Kepala Belinda ikut menelisik ke arah semak. "Ada apa? Sepertinya kamu melihat sesuatu?" selidiknya. "Tidak ada apa-apa! Ayo, Mom. Kita harus cepat sampai di Dalton," ajak Joanne yang tidak memberikan kesempatan pada Belinda untuk bertanya kembali. Perjalanan kembali dimulai. Mobil yang dikemudikan Belinda seakan melekat di aspal jalanan yang kadang tidak mulus. Pemandangan hutan terkadang digantikan oleh dinding tebing berbatu atau jajaran pohon oak serta jalur-jalur sungai yang airnya mulai surut karena masuk musim kemarau. Joanne menguap lalu menggeser celananya yang mulai terasa panas. Wajar saja, sudah hampir sepuluh jam mereka berkendara. Untung saja, Belinda sudah menyiapkan cadangan bahan bakar dalam jirigen-jirigen di bagasi. "Sebenarnya kita akan pergi ke mana, Mom? Ini sudah jauh sekali dari pusat kota. Mengapa kita tidak pergi saja menggunakan kereta atau pesawat terbang? Astaga, tidak ada sinyal di sini!" keluh Joanne sembari menggoyangkan ponselnya. "Sabar, kita akan segera sampai," bujuk Belinda sembari mengusap pucuk kepala Joanne. "Mom, kamu sudah mengatakan itu ratusan kali dan jangan harap kali ini aku akan percaya!" omelnya. Belinda menarik napas panjang. "Akan sulit membeli mobil baru di Dalton dan aku tidak mau melepaskan mobil kesayanganku. Sabar saja, kita pasti akan segera sampai," bujuknya lagi. Kali ini Joanne malas menanggapi ocehan tidak penting Belinda. Seketika ia menoleh ke jok belakang kala terdengar suara eyongan Felix. "Kenapa kucing cantik? Apa kamu lapar?" tanya Joanne yang kemudian membuka saset terakhir makanan kucing milik Felix. Belinda menurunkan jendela mobil. Ia memilih digigit udara malam ketimbang harus menghirup bau amis dari makanan Felix. "Aku agak kecewa karena kamu membawa kucing itu," aku Belinda. Joanne melirik tidak peduli. Baginya, Felix bukan sekadar kucing biasa. Felix adalah segalanya, hampir semua hal Joanne bicarakan dengan makhluk itu. Walaupun tidak mendapat jawaban yang menyenangkan, tetapi Joanne senang mendekap buntalan bulu hitam yang ia beri nama Felix. Felix datang bersamaan dengan salju pertama yang turun bertepatan dengan ulang tahun Joanne yang ke enam belas. Saat itu, Felix hanya sebesar telapak tangannya dan kini si Monster Kecil itu tampak jauh lebih kuat. Felix yang sudah menghabiskan jatah terakhirnya melompat ke pangkuan Joanne lalu melanjutkan tidurnya. "Menyenangkan sekali menjadimu, Felix. Hanya tidur, makan, tidur saja," gumam Joanne. Belinda terkekeh geli kemudian kembali menutup jendela mobil lalu menyalakan penghangat. Walaupun ia berkata membenci Felix, tetapi sebenarnya, Belinda juga menyayangi kucing itu. Belinda melambatkan laju kendaraannya ketika lampu jalanan semakin terlihat banyak dan sempat berhenti di depan sebuah gapura batu yang melengkung bagaikan kanopi menaungi jalanan. Papan besar dengan sebuah tulisan besar-besar yang tampak jelas disorot neon jalanan dibaca keduanya dengan suara pelan. 'Selamat datang di Dalton. Keajaiban dan harapan ada di depan mata.' "Aku rasa kita benar-benar akan sampai, Joan," seru Belinda kegirangan. Joanne melebarkan matanya. Dua lampu jalan yang menerangi papan nama seakan menciptakan bias yang anehnya tidak mampu menarik serangga untuk berpesta di antara cahaya. "Astaga, aku merinding. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Cepatlah, Mom. Malam semakin larut," ucap Joanne cemas. Setelah melewati gapura itu, sekitar lima puluh meter dari sana, ada pos penjagaan. Sekali lagi, pemeriksaan kartu identitas juga surat izin tinggal diperiksa oleh orang-orang berpakaian loreng militer dengan tampang super tampan. Joanne sempat melemparkan senyum pada salah satu yang memiliki postur tubuh paling menarik. Wajah penjaga itu seakan dipahat sendiri oleh malaikat yang sedang merasa bahagia. Hati Joanne lega karena telah melewati proses pemeriksaan dan mereka mulai memasuki kota. Beberapa areal pertokoan juga jejeran restoran cepat saji terlihat begitu memilukan. Satu atau dua bangunan yang sepertinya paling tinggi di Dalton tampak kokoh menjulang di sisi kanan. Sekali lagi mata Joanne dimanjakan kolam air mancur raksasa yang berada tepat di depan bangunan yang diapit dua menara putih yang sepertinya hanya berfungsi sebagai hiasan belaka. Walaupun tidak sehebat kota asalnya, tetapi Joanne bersyukur, sepertinya Dalton tidak terlalu mengerikan. Jalanan tampak sangat sepi. Mungkin, kendaraan yang melewati jalanan hanya milik Belinda saja. Joanne cepat-cepat meralat pikirannya ketika mobil mereka melaju semakin ke arah Selatan. "Mom, apa kamu yakin ... rumah kita berada di sekitar sini?" tanya Joanne sembari menoleh ke kiri dan kanan. Sepertinya sudah hampir setengah jam berlalu sejak Joanne menatap rumah penduduk terakhir. Namun, hingga detik ini rumah baru yang akan ditempatinya belum juga terlihat. "Ya, sepertinya kita semakin dekat," jawab Belinda. Joanne tidak lagi menanggapi. Seketika punggungnya menegak kala mobil yang dikemudikan Belinda masuk ke areal pemakaman. "Mom, apa, apa yakin?" tanya Joanne sembari menatap batu nisan yang tinggi menjulang di sepanjang jalan. "Ya, ayahmu mengatakan kalau kita tidak tersesat," jawab Belinda dengan suara pelan seakan takut penghuni di luar sana ikut mendengar. "Ayah menelepon? Kapan?" tanyanya penasaran. "Tidak. Dia berbisik di telingaku. Seperti sedang memandu kita secara nyata," jawab Belinda. Joanne sempat tertegun sejenak. "Hmm, Mom, aku tidak berpikir kalau hal itu romantis, tapi sebaliknya. Itu mengerikan!" Belinda tertawa pelan. "Ya, sebenarnya kami tidak memerlukan ponsel, tapi untuk menjaga cara kerja komunikasi kami layaknya manusia normal, kami harus memiliki ponsel," timpalnya. Joanne tidak lagi mau bersuara. Matanya tetap menatap pohon atau batu nisan berbentuk salib atau pahatan berbentuk manusia bersayap. Setelah itu, pemandangan mereka berganti dengan tanah lapang dan keduanya kompak memicingkan mata saat melihat sumber cahaya tepat di depan mata. Berhentinya mobil mereka malah membuat Joanne cemas. Pagar tinggi menghadang jalan mereka. Belinda melepaskan seat belt kemudian turun dari mobil. Dari jendela mobil, Joanne menatap Belinda yang tampak memeriksa beberapa sudut pagar dan beberapa kali ibunya itu tampak menendang pagar dengan frustasi. "Sumpah demi apa pun, mom tidak bisa memaksaku keluar dari mobil," gerutu Joanne. Harapannya sirna ketika Belinda membuka pintu mobil. "Gemboknya sudah terbuka, tapi aku tidak bisa mendorong gerbang sialan itu sendirian!" akunya. Dahi Joanne berkerut. "Lalu? Aku bukan ayah yang bisa mengangkat lemari dengan jari kelingking." "Baik, Nona Muda! Kita sama! Aku juga tidak suka tinggal jauh di tempat yang mengerikan ini!" Joanne tetap tidak mau menoleh. Pandangannya terkunci pada pagar besi yang diam seakan tidak bisa digerakkan oleh apa pun. "Joan, kali ini ... aku benar-benar tidak bisa membukanya," mohon Belinda putus asa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD