Deep Plan

1005 Words
Dari setiap perbincangan yang didengar Joanne, bisa disimpulkan bahwa ia akan mendapatkan satu masalah tepat di hari ulang tahunnya, tetapi tidaklah Carlos menyadari? Bahwa kejutan tiba-tiba bisa saja membuat Joanne mati akibat dari serangan jantung bahkan sebelum putrinya bisa merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Joanne mengerjapkan mata, bahkan mengusap wajahnya berkali-kali. Berharap sosok yang sedang duduk di sofa adalah fatamorgana, tetapi bila itu memang khayalan, untuk apa Joanne memikirkan pemuda itu? "Ethan? Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?" tanya Joanne dengan berusaha memelankan suara. Ethan menunjuk jendela yang terbuka dengan ujung dagunya dan Joanne bergegas memeriksa jendela lalu kembali menatap Ethan. "Kau melompat dari bawah sana?" tanya Joanne keheranan. "Aku bisa muncul di mana saja. Kau terkesima?" tanya Ethan yang kemudian berjalan menghampiri Joanne hingga gadis itu benar-benar tidak memiliki cela untuk bergerak. Hari ini sudah terlalu banyak kejutan yang terjadi dan Joanne tidak bisa menerima apa pun hal baru yang bisa dilakukan Ethan padanya. "Aku ... bisakah kau mundur sedikit?" protes Joanne ketika wajah Ethan hampir menempel padanya. "Kenapa? Embusan napasmu yang menggangguku." "Kalau begitu hentikan!" Joanne hampir kehilangan napasnya ketika secara tiba-tiba Ethan menempelkan telinga tepat di dadanya. "Diamlah. Aku sedang mendengarkan jantungmu," gumam Ethan, "aku selalu bertanya bagaimana rasanya memiliki jantung yang berdetak juga darah yang berdesir di setiap sel tubuhmu," lanjutnya. Wajah Joanne memanas, dengan cepat ia mendorong Ethan lalu menyilangkan tangan di atas d**a. "Apa kau sinting? Kau lupa kalau aku ini seorang gadis?" Kedua alis Ethan bertaut. "Maksudmu? Aku harus memikirkan dua gundukan yang tidak lebih besar dari bola tenis itu?" Joanne hendak memukul Ethan, tetapi gerakan Ethan jauh lebih cepat. Pemuda itu kembali menekan bahu Joanne hingga tubuh mereka menempel. "Buka pakaianmu," titahnya. "Hah? Kurang ajar!" pekik Joanne, "lepaskan tanganku!" Ethan tertawa kemudian membelai pipi Joanne. "Bersihkan dirimu karena aku akan mengobati luka di tubuhmu, cepatlah," titahnya. Joanne terdiam beberapa detik, mencerna perintah yang diucapkan Ethan, "Kenapa? Apa kamu juga berkenan kalau aku yang memandikanmu?" Sekuat tenaga Joanne mendorong tubuh Ethan lalu meraih pakaiannya dari lemari kemudian masuk ke kamar mandi. "Tidak sopan! Dasar vampir sinting sialan!" "Hei, aku bisa mendengarmu!" teriak Ethan. Joanne menyelot pintu kamar mandi lalu membuka keran wastafel. Hendak mengumpat, tetapi nyalinya ciut ketika membayangkan Ethan bisa saja mendobrak pintu kamar mandi. Lima belas menit kemudian Joanne keluar dengan handuk yang menggelung kepalanya. Ia duduk manis di samping Ethan. Memperhatikan pemuda itu dengan saksama mengoles krim luka di setiap permukaan luka. "Ethan, apa harus kamu melakukan itu?" tanya Joanne. Ethan sedikit mendongak lalu kembali pada pekerjaannya. "Kenapa? Terharu? Tersentuh? Sifat manusia yang kamu miliki memang masih kental. Kamu pikir aku senang melakukan ini? Membuang banyak waktu berhargaku untuk hal tak berguna!" Joanne menarik tangan Ethan. "Kalau begitu berhentilah! Aku bisa melakukannya sendiri!" Ethan menepis tangan Joanne. "Jangan memperlambat pekerjaanku! Diam saja!" titahnya. Joanne memberengut kesal dan Ethan menyukai ekspresi gadis itu. Hingga beberapa menit kemudian pekerjaan selesai. "Sudah, sepertinya Alice juga sudah selesai. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Ethan. "Tunggu." Joanne menarik tangan Ethan lalu menatapnya. "Apa?" "Kamu juga terluka, itu," ujar Joanne sembari menunjuk dahi Ethan. "Ini? Hanya tergores ranting. Alice bisa mengobatinya." Joanne kembali menarik tangan Ethan lalu memaksanya duduk dan anehnya pemuda itu diam saja ketika Joanne mengoleskan krim lalu memasangkan plester di dahinya. "Selesai. Maaf, kamu terluka karena aku," sesalnya. "Aku tidak bisa membantah permintaan ibuku. Kau tidak perlu berterima kasih padaku karena bila diizinkan memilih tentu aku akan berada di pihak Amanda." Rasanya Joanne ingin mencekik Ethan, tetapi pemuda itu segera bangkit lalu kembali berjalan menuju jendela. Ethan melambaikan tangan lalu melompat tanpa merasa ragu. Joanne mengamati pemuda itu berjalan masuk ke dalam hutan hingga punggungnya benar-benar menghilang. *** Joanne kembali mengganti posisinya berbaring, miring ke kanan, ke kiri, telungkup, terkadang ia menutup wajah dengan bantal, memeluk Felix dan terakhir menaikan suhu pendingin ruangan kamarnya, tetapi cara-cara itu tidak juga berhasil membuat Joanne tidur. Beberapa pertanyaan yang dari dulu selalu menghantuinya kini kembali bergulir seperti bola liar di kepala Joanne. Malah kini bertambah satu pertanyaan baru, mengapa darahnya harus bercampur dengan Ethan? Mengapa harus Ethan? Mengapa semuanya selalu saja berusaha membuatnya berubah jadi vampir? Joanne menyibak selimut lalu turun dari ranjang. Pikirnya mungkin segelas s**u hangat bisa membantunya agar cepat tidur. Setelah menuruni tangga, Joanne sempat berhenti untuk menatap pintu rumahnya yang terbuka lebar. Sedikit berjinjit mendekati daun pintu, dilihatnya Carlos sedang berbincang dengan Pamela. Joanne sedikit menarik dirinya, tetapi memastikan agar perbincangan mereka tetap terdengar. "Mungkin kali ini kamu harus mendengarkan nasihat Alice. Jelas Caroline hanya memiliki pengaruh asmara pada Ardolph," tutur Pamela sebali mengetatkan mantel wol milik Belinda yang dipinjamnya. "Kamu tahu aku tidak akan pernah mundur. Joanne akan baik-baik saja bila sepenuhnya memiliki Ethan atau yang terbaik, Ethan bisa berada di bawah pengaruhnya. Kau bisa merasakan energi Joan yang terus menguat setiap hari, 'kan?" Pamela memijat keningnya, walau membenarkan ucapan Carlos, bukan berarti semerta-merta ia setuju. "Carlos, klan Timur dan Barat sedang mempersiapkan semuanya, termasuk berusaha merebut Joan dari kita dan si Pengecut Cedric sudah terlebih dahulu mengangkat tangan karena berpikir ramalan itu akan menghanguskan semua klan yang bertikai." Carlos sedikit gemetar kala Pamela kembali mengingatkan dirinya tentang ramalan serta peperangan. "Ardolph memiliki Amanda dan Alice. Dilihat dari manapun, jelas klan Utara yang memiliki kekuatan paling hebat. Terlebih setelah Caroline memimpikan Joan duduk sebagai pemegang kekuasaan tertinggi," ujarnya. Pamela mengigit bibir lalu melepaskan kegelisahannya dengan membetulkan rambut yang sedikit keluar dari ikatannya. "Kamu tahu, Ardolph tidak akan membiarkan Ethan dalam bahaya. Jelas dia akan menggunakan Amanda dan Alice untuk melindungi Ethan juga Caroline. Jadi, jangan berharap Amanda mau melepaskan Ethan." Carlos tertawa. "Aku tidak melihat tanda di pergelangan tangan Ethan. Sudahlah, Pamela. Aku yakin semua akan berjalan sesuai dengan rencanaku," Pamela masih belum bisa menyetujui ucapan Carlos, malah kecemasannya semakin menjadi. "Kenapa kamu tidak memikirkan saran Cedric? Kita bisa mulai mengajari Joan untuk bertarung layaknya seorang vampir sejati," bujuknya. Kilap mata Carlos berubah, tanpa sadar ia mendorong tubuh Pamela hingga menabrak tiang besi teras lalu mengetatkan cekikan di leher wanita itu. "Kau memintaku membunuh Joan serta Belinda? Kau ... kau tidak bisa memerintahku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD