"Kamu tidak bisa membunuhku tanpa api, Carlos!"
Seketika Carlos melepaskan tangan dari leher Pamela lalu berbalik. "Pergilah!" usirnya.
Pamela mengusap leher lalu pergi tanpa menoleh kembali dan setelah deru mobilnya ditelan kesunyian, Carlos segera memandang ke arah jalanan.
Semua ketakutan serta cemas yang dirasakan Pamela sebenarnya juga turut menjadi kegelisahan Carlos. Hanya saja, ia tidak bisa menunjukkan itu semua di hadapan Belinda pun Joanne.
Gadis yang sedari tadi membekap mulut dari balik pintu akhirnya berjinjit, pergi menjauh kembali ke kamar.
Sekali lagi ia menatap jam dinding. Ini sudah hampir pagi dan sepertinya Joanne tidak akan bisa memejamkan mata.
Percakapan yang baru saja didengarnya benar-benar membuat tekad Joanne semakin bulat. Seharusnya ia tahu apa yang akan mengancam jiwanya dan kalau boleh memilih ... jelas Joanne akan meminta untuk tetap menjadi manusia.
***
Sudah dua hari Joanne hanya tinggal di rumah. Bukan menghindari Amanda, ia harus tinggal karena Belinda melarangnya untuk pergi ke sekolah.
Walau ditentang Carlos, Belinda meyakini lebih baik mereka diam saja di rumah sampai hari ulang tahun Joanne tiba.
Namun, semua yang telanjur didengar serta disaksikan Joanne membuat gadis itu berpikir sebaiknya ia terus maju. Bersembunyi seperti keinginan Belinda malah terkesan menyambut kematian tanpa satu perlawanan.
Joanne menyelipkan jepit di rambutnya yang bergelombang, meraih tas lalu turun menuju ruang makan.
"Pagi, Mom," sapanya.
Belinda hendak membalas kecupan dari Joanne, tetapi bibirnya kembali terkunci ketika menyadari putrinya telah berseragam rapi dan siap berangkat sekolah.
Joanne merebut piring berisi roti panggang dari tangan Belinda lalu duduk di kursi.
"Kamu tidak perlu ikut dalam rencana dad," cemas Belinda.
Joanne menyobek sedikit rotinya lalu memberikan potongan itu pada Felix yang sudah menanti di kolong meja. "Aku akan baik-baik saja, Mom. Sebaiknya aku harus menikmati bulan-bulan terakhir sebelum kejadian mengerikan itu tiba, 'kan?"
Belinda dengan cepat duduk di depan hadapan Joanne. "Joan, kamu tidak perlu cemas. Aku akan memastikan kamu baik-baik saja. Kita akan berlari, sembunyi, persis seperti yang selama ini kita lakukan, Joan."
Joanne meletakkan kembali potongan rotinya lalu mengusap bibir dengan serbet putih di samping piringnya. "Mom, sampai kapan? Aku lelah karena harus berlari tanpa tahu apa yang mengejarku. Bukankah itu tidak adil? Mom, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti bahaya yang mengancamku. Sampai kapan Mom mau menyembunyikan apa yang terjadi," protesnya.
Belinda menarik diri dari posisinya, tetapi tetap memandang Joanne. "Aku tidak pernah tahu kalau ayahmu bukanlah seorang manusia, Joan. Maafkan aku," sesalnya.
Joanne tidak enak hati karena membuat ibunya tampak begitu merasa bersalah, padahal tujuanku mengatakan itu adalah agar Belinda mau membuka suara tentang apa yang terjadi.
Jatuh cinta bukanlah satu kejahatan, walau belum pernah merasakan itu, jelas Joanne tahu kalau kharisma ayahnya telah menaklukkan Belinda dengan begitu sempurna.
"Mom, aku tidak pernah menyesal harus dilahirkan darimu dan memiliki ayah yang bukan manusia. Hanya saja, aku perlu tahu apa yang mengancamku. Aku tahu kalian berusaha keras untuk melindungiku."
"Joan, jujur saja. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus diceritakan padamu. Aku tidak pernah tahu dengan jelas apa yang mengincarmu, tapi ayahmu selalu mengatakan kalau tahun ini semuanya akan menjadi awal untukmu," ungkapnya.
"Awal untukku?"
"Iya, aku tidak tahu pasti, tapi mungkin Pamela tahu sesuatu. Dia tidak pernah mau bicara padaku. Apa kamu bisa membujuknya untuk memberikan satu jawaban? Dia tidak pernah mau mengecewakanmu, Joan."
Joanne terdiam. Mengamati wajah Belinda. Sepertinya jelas tidak ada kebohongan di dalam mata Belinda.
"Apa Tante Pamela masih ada di Dalton?"
"Ya, dia ada pementasan lusa nanti. Aku akan memintanya untuk menjemputmu, tapi kali ini tidak ada lagi acara makan malam. Kau mengerti maksudku dengan sangat baik, 'kan?"
Joanne mengangguk dengan cepat lalu menandaskan s**u hangat miliknya. "Baiklah, Mom. Aku rasa kita bisa terlambat."
"Baiklah, aku akan bersiap, kami tunggu dulu," ucapnya kemudian pergi.
Setelah tiba di sekolah, Joanne sempat khawatir akan reaksi dari Amanda ketika mereka berjumpa, tetapi Amanda hanya memberikan lirikan tak peduli serta mempererat pegangannya di lengan Ethan.
Joanne membalasnya dengan turut memberikan lirikan sinis dan bergegas menuju kelas.
Setibanya di sana. Entah mengapa saat menatap Brian yang terlihat sibuk membaca buku, Joanne merasa begitu gembira.
"Selamat pagi," sapa Joanne seraya mengaitkan pengail tas di samping meja.
"Hai, apa kamu sudah lebih baik? Aku dengar kalau kamu sakit," cemas Brian.
"Siapa yang mengatakan itu?" selidik Joanne.
"Aku tak sengaja mendengar Alice mengatakan itu pada profesor Goud. Aku baru tahu kalau kalau bersahabat dengan Alice," jawabnya.
Joanne meraih pengikat rambut dari saku seragamnya. "Sulit bagiku menjelaskan hubungan di antara kami. Ya, anggap saja kalau aku memang sedikit berteman dengan keluarga Alice," ucapnya sembari menggelung rambut bergelombang panjangnya.
Brian memalingkan wajah ketika tanpa sadar Joanne sungguh memperlihatkan leher jenjang indah miliknya. "Hmm, begitu, ya?"
"Kurang lebih begitu. Jadi, apa yang aku lewatkan? Apa aku boleh meminjam buku catatan milikmu?" tanya Joanne bertingkah layaknya seorang siswi biasa yang setiap hari bersekolah.
Brian kembali menatap Joanne. "Oh, ya, tentu saja boleh."
Joanne mencondongkan tubuhnya ke arah Brian, tanpa sadar menikmati aroma yang menguar dari tubuh pemuda itu.
Mata Joanne terpejam, seakan larut dalam aroma tubuh Brian. Hingga akhirnya ia tersadar ketika rambutnya sedikit tertarik lalu surai indah kemerahannya jatuh tergerai. Dengan cepat Joanne menoleh.
"Kau?" pekik Joanne. Ethan menyeringai, ikat rambut Joanne yang telah ada di genggamannya bagaikan tropi kemenangan. "Kembalikan ikat rambutku!" marah Joanne tak terima.
Brian yang biasanya tidak mau ikut campur dengan keributan yang disebabkan Ethan, untuk pertama kali bangkit lalu menarik kerah seragam Ethan.
"Wah, kau menantangku?"
Joanne dengan cepat menarik tangan Brian dari kerah seragam Ethan. Jelas Ethan bukanlah tandingan untuk manusia biasa seperti Brian dan Joanne tidak mau membahayakan Brian.
"Kita duduk saja, dia bisa menyimpan ikat rambutnya. Abaikan dia, aku mohon Brian," bujuknya.
Brian yang sudah menyimpan kekesalan cukup lama terhadap Ethan malah tidak bisa menerima ketika Joanne membela pemuda itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Brian melayangkan satu pukulan hingga Ethan jatuh tersungkur menabrak meja di sampingnya.
"Jangan Brian! Hentikan!" mohon Joanne, tetapi Brian malah menarik tubuh Ethan yang masih limbung lalu menghadiahkan bogem mentah lainnya.
Berkali-kali Ethan mengerjapkan mata serta menyeka bibir. Ingin rasanya ia mematahkan batang leher Brian, tetapi ia tidak mungkin bisa menunjukkan identitasnya di hadapan terlalu banyak manusia.
"Apa yang kalian lakukan?"