SEMBILAN

2340 Words
Gerimis kecil membuat Jino berlari kecil menghampiri mobilnya. Kelas tambahan memang menyebalkan, pikirnya. Membayangkan macet sepanjang jalan karena pulang di jam sibuk. Satu tarikan pada lengannya membuat ia tidak jadi membuka pintu mobil. Padahal gerimis mulai membasahi kepalanya. “Kim!” Matanya membulat kala mendapati Kim-lah yang menarik lengannya. Wajah Kim tidak bersahabat, itu yang Jino tangkap saat menatap gadis di hadapannya. Semenjak ulangtahun Kim minggu lalu, ia memang sama sekali belum menghubungi gadis itu, bahkan ia mengabaikan semua panggilan dan pesan Kim. “Kenapa kamu nggak hubungin aku? Kenapa kamu nggak balas chat aku, Jino?” Mata Kim memerah. Jino tahu bukan karena gerimis yang masuk ke matanya. Tapi gadis itu berusaha keras untuk tidak menangis. “Kim, kamu kehujanan. Kita ngobrol di mobil aku, ya,” tawar Jino. Alasan terkuatnya ia tidak ingin ada orang yang melihat mereka bertengkar, meskipun saat ini hanya tersisa beberapa kendaraan di parkiran. “Nggak usah bersikap seolah kamu khawatir sama aku, Jino. Aku minta kamu jelasin ke aku sekarang juga.” Jino menyerah. “Oke. Apa yang ingin kamu tahu dari aku, Kim?” “Why Dabin?” tanya Kim penuh penekanan. “Im sorry, Kim…” “Maaf bukan jawaban, Jino.” Kim tidak bisa lagi menahan air matanya. Jino tahu ia sudah menyakiti gadis itu. “Aku nggak mau kita pisah, Jino.” “Kim…” “Aku nggak bisa, Jino,” tegas Kim lagi. Tatapan Jino meneduh. Sebenarnya ia tidak mau menyakiti Kim, tapi ia punya alasan yang tidak bisa dia katakan pada gadis itu. “We didn’t break up, Kim. We never start. Dan aku harap kamu nggak lupa dengan hal itu.” Hanya kalimat itu yang akhirnya terlontar dari bibirnya. “Jino…” Kim kehilangan kata-katanya. Kalimat Jino seakan menamparnya dengan keras. Membangunkannya dari mimpinya selama ini. Sejauh ini Kim selalu merasa cukup dengan kedekatan mereka. Tak pernah peduli Jino sudah menyatakan perasaan atau belum kepadanya. Karena Kim tidak pernah membayangkan ada orang lain di hati Jino. Rupanya ‘dekat’ saja tidak cukup, Kim benar-benar ingin memiliki Jino seutuhnya. “Im sorry.” Jino bersungguh-sungguh. “Tapi kenapa? Kenapa cewek itu harus Dabin? Kenapa?” “I don’t know, Kim. Mungkin kayak aku tanya ke kamu, kenapa cowok yang kamu suka harus aku. Why me?” “I hate you, Jino!” Kim pergi setelah mengucapkannya. Kim tidak tahu jika diam-diam Jino memandangi kepergiannya dengan perasaan sedih. *** Dabin membeli gimbap dan lemon water untuk makan siangnya. Perutnya benar-benar sudah kelaparan. Kalau saja tadi kelasnya tidak mengadakan kuis dadakan, Dabin sudah berada di kantin dari setengah jam yang lalu. Matanya berpendar mencari meja kosong yang dapat ditempatinya. Di meja yang biasa ia tempati sudah ada Kim, Cloe, dan Jess. Dabin sempat ragu untuk menghampiri mereka, kalau saja Cloe tidak melambaikan tangan kepadanya. Seminggu lebih sudah berlalu, dan selama itu pula Dabin tidak pernah melihat Kim di kampus. Semoga saja perasaan Kim sudah membaik, pikirnya. Kim menoleh, mencari tahu kepada siapa Cloe tersenyum dan melambaikan tangan. Saat mengetahui bahwa orang itu adalah Dabin, Kim langsung memindahkan tasnya yang semula di atas meja, ke kursi kosong yang ada di sampingnya. Tak perlu dijelaskan, Dabin paham jika kursi kosong itu tak ingin didudukinya. Kim pun terlihat acuh dan kembali mengobrol dengan Jess. Cloe merasa tak enak, tapi Dabin membalas dengan senyumnya. Seakan mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Mungkin Kim masih butuh waktu, dan Dabin akan memberikan Kim waktu sebanyak yang gadis itu butuhkan. Sejujurnya Dabin merasa sedih dengan penolakan Kim, tapi rasa lapar membuatnya tersadar untuk mencari meja lain. Akhirnya meja kosong di pojok kantin – jauh dari keramaian, menjadi pilihan Dabin. Dari sini ia dapat melihat Kim tersenyum padanya, lebih tepatnya tersenyum sinis. Kim memegangi ponselnya dan kemudian memberikannya pada Jess dan Cloe yang ada di hadapan Kim. Kim pun tampak tertawa meremehkan sambil terus menatap pada Dabin. Entah kenapa sikap Kim barusan justru membuat Dabin ingin mengecek ponselnya juga. Dan kini ia tahu apa yang membuat Kim tersenyum sinis padanya. Ia mendapati chat Kim yang berisikan sebuah link berita. Itu adalah berita baru, sepertinya sebuah portal berita baru saja mempostingnya. ‘Artis Cantik Molla Allesa Tertangkap Kamera Tengah Berpelukan Dengan Seorang Pria di Bar Hotel xxx’  Satu baris kalimat cukup membuat Dabin mengerti apa yang membuat Kim tersenyum sinis padanya. Lucu mengingat betapa bersimpati Kim padanya kala ia menceritakan pemberitaan tentang Molla yang kerap mengganggu pikirannya, kini Kim menjadikan itu untuk menyerangnya. Tapi Dabin tidak mau hal itu mengganggu selera makannya. Merasa kesal justru membutuhkan tenaga lebih. Kecuali kedatangan Jino dan teman-temannya – Bian dan Rama, yang langsung duduk mengelilingi Dabin tanpa permisi. Jino duduk di depannya, Bian dan Rama menempati kursi kosong di sisi kanan dan kirinya. “Ngapain lo semua di sini?” tanya Dabin penuh curiga. “Makan,” jawab Bian santai. Tak menghiraukan Dabin yang terlihat tak suka dengan keberadaan mereka. “Kata Jino, lo kasihan makan sendirian,” lanjut Rama tak kalah santai. Jino menopang dagu dengan satu tangannya. Tersenyum pada Dabin. Meski ragu, Dabin memberanikan diri melirik ke arah Kim. Tidak hanya Kim, tapi Cloe dan Jess juga menoleh ke arahnya. Hanya Cloe yang tidak berekspresi apa pun, beda dengan Kim dan Jess – terutama Kim, terang-terangan menatap tak suka padanya. Namun sosok lain membuat Dabin mengalihkan pandangannya. Kali ini lebih intens, sampai-sampai Jino penasaran apa yang saat ini dilihat Dabin. Jino pun menoleh, dan mendapati Kai yang baru saja memasuki area kantin. Jino kembali menoleh pada Dabin, dan mendapati gadis itu masih menatap Kai dari kejauhan. Ada sesuatu yang membuat Jino penasaran, tapi ia mengurungkan itu dan langsung memanggil Kai. “Kai!” Jino melambaikan tangannya, membuat Kai dengan mudah menemukan sosoknya. “Kenapa dipanggil ke sini?” pertanyaan Dabin juga membuat Bian dan Rama heran. “Ya kan, dia kalau ke kantin sini udah pasti nyariin gue,” jawab Jino tak kalah herannya. “Kecuali kalo emang Kai punya pacar anak komunikasi.” Kai berjalan mendekat, membuat Dabin langsung menunduk dan memakan gimbapnya perlahan. Rasa penasaran Jino semakin bertambah kala melihat sikap Dabin yang langsung berubah. Apalagi saat Kai menduduki kursi kosong tepat di samping Dabin, gadis itu tampak semakin salah tingkah. “Lo nggak makan?” tanya Jino. “Nanti, deh. Belum laper banget,” jawab Kai. Dengan santai tangannya meraih botol minum yang ada di depan Jino, membuat Dabin terkejut. “I…itu minum gue,” protesnya pelan. Kai menaikan kedua alisnya, tapi tak juga langsung menghentikan minumnya. “Oh, sori. Gue kira punya Jino, soalnya ada di depan dia,” ucap Kai setelah selesai minum. Jino tersenyum geli melihat ekspresi keduanya. “Tunggu ya, gue beliin lagi.” “Nggak usah!” Dengan cepat Dabin menarik lengan Kai, membuat pria itu tak jadi bangun dari kursinya. Bahkan Bian dan Rama pun ikut menoleh, kemudian saling melempar pandang, menyadari perubahan sikap Dabin saat Kai di dekatnya. Dabin sadar dan langsung menarik tangannya. “Maksudnya, biar gue aja yang beli minum lagi,” tolak Dabin. “Nggak apa, gue sekalian mau beli makan.” Perkataan Kai membuat Dabin tak lagi protes. “Lo mau nitip sesuatu?” tanya Kai pada Jino, karena dilihatnya Jino belum memesan apa pun. “Gue mau minum aja,” sahut Jino. Sepeninggalan Kai, tanpa sadar Dabin mengetuk kepalanya sendiri, membuat Jino semakin tertarik untuk terus memerhatikan gadis itu. “Coba kalau kita yang nggak sengaja minum minuman Dabin, boro-boro ditawarin untuk beli lagi, yang ada diguyur kali,” ucap Bian dengan tawa kecil. “Dibeliin juga kali,” sahut Rama. “Tapi abis itu diguyur, hahaha.” Jino tak bisa menahan tawanya mendengar ocehan kedua temannya. Dibanding Jino, Dabin lebih mengenal Bian dan Rama meski keduanya berasal dari jurusan seni. Kerap bertemu di gedung seni, mereka sering menyapa Dabin – beda dengan Kai yang selalu dingin padanya. Apalagi sejak Jino dekat dengan Kim, Dabin makin sering bertemu dengan keduanya. Sejak kejadian di rumah Kim, Bian dan Rama sempat bertanya-tanya, apa yang membuat Jino tiba-tiba berubah haluan mendekati Dabin. Tapi mereka berdua pun tak mau ambil pusing, dan memilih tidak mencampuri urusan Jino, apalagi menyangkut perasaan. Siapapun yang disukai Jino, mereka akan mendukungnya. Lagipula mereka tahu jika Jino dan Kim tidak benar-benar berpacaran. “Baik banget sih, sama Kai,” goda Jino. “Karena dia nggak nyebelin kayak lo,” ketus Dabin. “Gue nggak nyebelin tapi gue kok, nggak lo tawarin minum,” ledek Rama yang baru saja menyelesaikan makan siangnya. Dabin tak mau menjawab, lebih tepatnya tak bisa menjawab. Ia tidak ingin yang lain curiga dengan sikapnya – meskipun Jino sendiri mulai mencurigainya. “Gue minum ya, haus nih, lupa beli minum.” Belum sempat tangan Bian menyentuh botol minum Dabin, gadis itu telah lebih dulu menarik botol minum itu dan mendekapnya. Bian mengerutkan alisnya, tak menyangka respons Dabin akan seperti itu. “Pelit banget sih, padahal tadi Kai minum nggak apa-apa,” protes Bian. Tak lama senyum jahilnya pun terukir. “Atau jangan-jangan karena habis diminum sama Kai ya, jadinya lo nggak mau orang lain minum punya lo juga.” “Bener banget!” ucap Rama penuh semangat, seakan baru saja menemukan sebuah fakta. “Apaan, sih.” Dabin tak suka karena Bian dapat menebaknya dengan benar. “Apaan sih, apaan sih. Iya juga nggak apa-apa kali.” Bian cekikikan. Sangat menyebalkan. “Lo nggak apa-apa, tapi Jino gimana?” protes Rama, membuat tawa Bian menyurut. “Iya juga lo,” sahutnya. “Monmaap nih, Jino.” Jino hanya tertawa kecil, karena sebenarnya dari tadi yang ia lakukan adalah memerhatikan Dabin. Ia pun memiliki kecurigaan yang kuat. Pikirannya mengatakan bahwa gadis itu menyukai sepupunya. Hanya saja Jino belum ingin menyimpulkan itu saat ini. Namun pikiran itu terhenti karena entah sejak kapan Kim sudah berdiri di sampingnya. Dengan angkuh gadis itu tertawa remeh sambil menyilangkan tangannya. Membuat suasana di meja itu sedikit canggung. Bahkan Rama kembali menguyup sisa-sisa kuah bakso dengan sendoknya, bertingkah seakan masih menikmati makan siangnya. “Lo bener-bener nggak mikirin perasaan gue ya, Dab. Gue kira permintaan maaf lo tempo hari itu tulus, ternyata lo nggak sebaik yang gue pikirin, ya.” Dabin merasa bodoh karena sesaat tadi ia melupakan jika Kim juga berada di kantin yang sama dengannya. Melihatnya satu meja dengan Jino dan teman-temannya, tentu akan membuat Kim memanas. “Kim…” panggil Jino pelan. Jino pun sebenarnya merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Ia tidak ingin orang lain salah paham dengan mereka meskipun memang ia lah alasan kuat mengapa Kim terlihat marah saat ini. “Aku nggak ngomong sama kamu, Jino!” potong Kim, tapi tatapannya tetap tertuju pada Dabin. “Ternyata lo nggak jauh beda ya sama Molla Allesa…” Kim mendekatkan wajahnya pada Dabin, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan suara perlahan, “sama-sama menyukai seseorang yang udah jadi milik orang lain.” Dabin berdiri. “Lo nggak berhak bicara kayak gitu ke gue!” Dabin mengepalkan kedua tangannya. Untuk kali pertama ia ingin sekali menghajar Kim karena ucapannya barusan. Jino ikut bangun dari duduknya dan menarik lengan Kim. “Kim, kamu kenapa sih? Kita kan, sudah bicara kemarin. Kenapa ngomong yang nggak-nggak ke Dabin?” Kim tidak menghiraukan Jino. “Kenapa, Dab? Gue salah ngomong kayak gitu?” Dabin kehilangan kata-katanya. Ia tidak menyangka jika kata-kata Kim bisa sangat menyakitinya.  Kim tertawa kecil mendapati ekspresi kekesalan Dabin, karena memang itu yang diinginkannya. Ia ingin membuat gadis yang ada di hadapannya ini kesal dengan menyinggung sesuatu yang paling tidak disukainya. Kim tahu kelemahan Dabin. Seharusnya Dabin sadar jika Jino adalah kelemahannya, itu lah yang Kim pikirkan saat melihat Dabin makan bersama dengan pria itu. Bian dan Rama sama-sama merasa berada di tempat yang salah. Mereka seperti berada di antara pertikaian cinta segitiga. Apalagi hampir seluruh isi kantin kini mencuri pandang ke arah mereka. Tapi meninggalkan meja di saat seperti ini juga bukan pilihan yang tepat. “Urusan lo kan, sama Jino, seharusnya lo marah ke Jino, bukan sama gue,” ucap Dabin pada akhirnya. “Ya tapi gara-gara lo gue jadi bermasalah sama Jino,” Kim tidak mau kalah. “Dan bisa-bisanya ya, lo dekat sama Jino di depan mata gue. Lo pikir gue akan tetap berbaik hati sama lo!” Kim benar, tidak seharusnya ia terlihat dekat dengan Jino di saat seperti ini, tapi tetap saja duduk satu meja dengan Jino bukan rencananya. “Gue yang milih duduk di sini karena emang cuma mejanya Dabin yang kosong,” bela Jino. Karena kesal ia tidak lagi ber-aku kamu dengan Kim. Tapi hal itu justru membuat kemarahan Kim semakin memuncak. “Jangan-jangan kalian sebenarnya udah lama berhubungan, ya.” Kim membuang tawanya. “Kim! Stop it! Don’t act like you don’t know what im feeling. Lo tahu dan lo paling tahu gimana perasaan gue yang sesungguhnya!” “Dan hal yang sama buat lo, Dabin. Lo yang paling tahu gimana perasaan gue ke Jino!” balas Kim, bahkan ia sampai menunjuk Dabin karena kesal. Kai baru saja selesai membeli makanan. Nampan yang dibawanya berisi satu makanan dan lima minuman. Tadinya ia hanya ingin membelikan minum untuk Jino dan Dabin, tapi kedua temannya yang lain pasti protes. Namun semakin mendekat dengan meja yang dihuni teman-temannya, Kai justru tampak bingung mendapati orang-orang yang tengah memperhatikan satu titik, dan itu adalah mejanya. Kai mencoba memahami situasi dengan berdiam diri. Ia ragu untuk mendekat sebelum tahu apa yang sedang terjadi. Apalagi kini dilihatnya Kim juga ada di sana. “Tapi bukan berarti lo bisa ambil kesimpulan kalau gue sama Jino ada apa-apa.” Dabin menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Lo tahu, Kim, dan lo sangat tahu kalau orang yang gue sukai itu Kai. Gue nggak pernah punya perasaan apa-apa sama orang lain, karena dari dulu cuma Kai yang ada di hati gue!” Dabin mengambil tasnya yang tergantung di kursinya. Tak ingin mendengar apa-apa lagi dari Kim, juga tak ingin melihat ekspresi Jino saat ia mengatakan hal itu. Dabin memilih untuk segera meninggalkan kantin. Namun betapa terkejutnya ia kala mendapati Kai berada tepat di hadapannya. Membawa nampan makanan tanpa mengeluarkan ekspresi apa pun. Tapi Dabin yakin, pria itu pasti mendengar ucapannya barusan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD